Mengelola bisnis homestay ala Jepang

15697889_10211347632307604_7890408746112488960_n

#belajar

Kemarin sempat nonton acara 田舎でほっこり おかあさん民宿滞在記 (1) di tv, semacam program yg nampilin promosi homestay di pedesaan Jepang. Waktu itu, ada tiga tempat yg dikunjungi: desa persawahan di Chiba, desa nelayan di Fukui dan desa di pinggiran Akita. Programnya dikemas dg menampilkan kegiatan sehari-hari artis2 yg jadi pelaku homestay di rumah okaa-san dan otou-san (bapak dan ibu) angkatnya di desa tujuan. Pengalaman si artis berinteraksi langsung dengan tuan rumahnya semisal kegiatan: bertani di sawah bersama, diajarin bagaimana mancing ikan di laut, dimintain tolong buat motong kayu bakar, dan tentu saja cara membuat makanan2 tradisional ala desa setempat: mochi warna-warni, berbagai olahan ikan, makan cumi2 mentah, dsb. Karena artisnya dihost dan dilayani langsung oleh si tuan rumah, diperlihatkan juga kedekatan antara si artis dengan okaa-san dan otou-san yg baru, bagaimana kedekatan interaksi mereka sampai dianggap anak sendiri (bagian dari dramanya sih, wkwk), terutama scene sedih ketika berpisah, sebagai bagian dari promosi hospitality si tuan rumah. Kemudian di akhir, ditutup dengan paket harga dan promosi home stay di lokasi tsb.

Baca2 tentang peluang2 ekonomi dari usaha seperti ini di Jepang, ternyata sudah banyak ditawarkan paket2 dan jenis2 kegiatannya (2). Salah satunya ada TABICA (3) yg menawarkan paket “dive into the lives of locals”, baik untuk orang Jepang ataupun foreigner yg ada di Jepang; untuk tinggal, bersosialisasi, mencoba jadi petani/nelayan, belajar budaya/membuat makanan tradisional dsb. Peluang ekonominya gede sepertinya kalau mau dikembangkan.

Di Indonesia, udah ada kah yg menggarap peluang seperti ini? Selama ini sudah banyak acara2 reality show semacam “jika aku menjadi”, “petualangan si gundul” dsb yg mengangkat tentang bagaimana hidup menjadi warga lokal/biasa. Tapi sepertinya belum banyak yg memfasilitasi peluang ini dengan menyasar aspek tourism-nya, baik untuk keluarga ataupun grup (CMIIW). Jadi, misalnya peluang homestay ini dikelola jadi potensi wisata daerah, targetnya turis lokal/mancanegara yg mau merasakan kehidupan lokal di daerah tsb

Ref :
1) http://www.bs-j.co.jp/official/minsyukutaizaiki/
2) http://www.japantimes.co.jp/news/2016/12/27/business/sharing-economy-takes-off-japan-despite-barriers/#.WGOsnpJrLvB
3) https://tabica.jp/entry/en/

Free wifi di Jepang

15095700_10210949438152999_4404210047789928251_n

Free wifi untuk yg mau/sedang traveling ke Jepang

Sepertinya masih banyak yg belum familiar dg fasilitas ini. Free wifi akses utk yg sedang berkunjung ke Jepang : di stasiun2 besar, toko2, tempat wisata dsb. Serius for free. Bisa sambil nangkep Pokemon di landmarks yg dikunjungi atau nantangin gym masters sambil nunggu kereta di stasiun wkwk

Silahkan unduh aplikasi Travel Japan WiFi dan ikuti saja instruksinya, langsung bisa akses lebih dari 60rb titik di seluruh Jepang. Utk memperluas jangkauan sampai 200rb titik, silakan masukin premium code yg bisa didapatkan ditempat2 yg ramai pengunjung : airport dsb. Serius for free. Jadi begitu sampai airport, sebelum keluar jangan lupa ke Information Centre dulu dan tanya ttg fasilitas ini, ga akan nyesel deh.

Katanya sih cuma utk 14 hari saja, tapi udah lebih dari sebulan sejak kedatangan dan Alhamdulillah masih bisa pake fasilitas ini kok.

Info detail bisa diakses di : http://wi2.co.jp/tjw/en/

Wai-wai World : Pengenalan Budaya ke Anak-Anak Jepang

[Pengenalan Budaya ke Anak-Anak]

15042173_10210894811387364_2720987956057650401_o

#belajar

Alhamdulillah akhir pekan kemarin keluarga besar NAISTers (orang2 Indonesia yg ada di NAIST) diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan Wai-wai world (3W) di Ikoma. Jadi konsepnya, 3W mengundang komunitas2 mahasiswa/orang asing yang studi/tinggal /kerja di Ikoma untuk menjadi volunteer yg sharing ttg negara dan kebudayaannya masing2 (sebisa mungkin dalam bahasa Jepang) ke anak-anak SD di seputaran Ikoma city.

Bentuk kegiatannya : semua perwakilan negara dikumpulkan di Ikoma Library Hall, kemudian setiap perwakilan negara diberikan space berupa booth untuk menampilkan kebudayaan masing2 : peta, alat musik tradisional, mainan anak2, baju daerah, foto2 dsb. Tahun ini temanya adalah alat musik tradisional, tim NAISTers memperkenalkan angklung selalu jadi andalan wkwk, mainan anak2, lagu2 anak dll

15042145_10210894811227360_534726312348015936_o

Anak2 SD yg berpartisipasi di 3W dibagi menjadi beberapa kelompok, berkeliling ke booths dengan dipandu seorang panitia, kemudian ada kuis yg perlu dijawab tentang negara2 yg dikunjungi ketika mereka keliling, juga ada aktivitas dalam kelompok besar berupa tarian tradisional Hawai.

Manfaatnya keren : meluaskan cakrawala anak2 usia SD ttg negara2 di dunia, tahu berbagai budaya yg ada, dan semoga suatu saat tertarik buat datang ke Indonesia, sekaligus jadi pengalaman volunteer utk kita2 yg sedang studi/tinggal di NAIST.

***

Menarik kalau sepertinya kegiatan seperti ini bisa diadopsi, terutama dilingkungan kampus (semisal UGM) yg punya banyak akses ke komunitas mahasiswa/orang asing di Jogja. Bisa jadi program sosmas nih, bagi yg masih aktif di organisasi kemahasiswaan. Kebutuhannya simpel kok : panitia (kecil aja, ga usah gede2), publikasi ke SD2, invite komunitas mahasiswa asing di kampus utk gabung jadi volunteer, hall atau semacam ruang besar (bisa lah ya).

15000714_10210894811267361_1459615499584059567_o

Semoga bermanfaat!

Pemberdayaan Orang Usia Lanjut di Jepang

14682010_10210640738435699_2093163038570173346_o-2

Berawal dari rasa penasaran karena baca selebaran serupa foto ini di Takemaru Hall, kemudian gugling2 dan nemu soal National Silver Human Resources Centers 全国シルバー人材センター事業協会 (1). Semacam direktorat khusus pemberdayaan lanjut usia di Indonesia, tapi dengan program2 yg mantap dan patut diadopsi.

Mungkin sudah banyak yg tahu ttg dampak2 negatif dari population ageing di Jepang, salah satunya yg paling kentara adalah semakin banyak penduduk usia lanjut usia tapi angka kelahiran menurun. Perkiraan tahun 2055, jumlah penduduk di Jepang akan turun dibawah 90 million dan 40% nya adalah lanjut usia (2). Nah, SHRC ini salah satu upaya pemerintah Jepang untuk meminimalisir dampak negatif dari population ageing. Salah satu programnya adalah pemberdayaan orang2 lanjut usia lewat aktivitas2 volunteer dan menyediakan lapangan kerja (sekaligus) penghasilan untuk beliau2 yg sudah sepuh dan retired.

Misinya bagus :

高年齢者が働くことを通じて生きがいを得るとともに、地域社会の活性化に貢献する組織です

Increase job opportunities for the elderly, create a purpose of life, and revitalize the community .

dan juga : Applying the Experience and Expertise of Older People to Meet Community Needs (3).

Jadi paradigma awalnya, beliau2 yg lanjut usia itu bukan dianggap sebagai beban, tapi sebagai sosok yg punya pengalaman, skills dan expertise yg sudah lama dilatih sepanjang hidup dan baik kalau bisa disalurkan untuk membantu komunitas. Bikin gerimis ya.

SHRC sendiri sudah ada ribuan dan tersebar dipenjuru Jepang, rata2 tiap kota/kabupaten punya satu cabang untuk mengelola komunitasnya masing2. Kembali ke lapangan kerja tadi, tawaran pekerjaan yg masuk ke SHRC akan dikelola dan didistribusikan sesuai dg kemampuan anggota. Pekerjaannya meliputi : janitor, pekerjaan rumah tangga, bagi2 selebaran, jadi resepsionis dan bantu2 acara dsb (3). Maka jangan kaget kalau di Jepang, banyak ibu2 yg bersih2 kantor/kampus adalah yg sepuh2, yg jaga parkir juga sepuh dsb.

Banyak paper2 dari luar Jepang yg sudah mengupas mengenai program ini, salah satunya bisa dibaca abstraknya di (4). Dan kesimpulannya : program ini SANGAT RECOMMENDED untuk diadopsi.

FYI : Tahukah Anda kalau Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada tahun 2012, menyatakan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia ada 18,5 juta orang (7,57%), yg artinya Indonesia sudah tergolong negara berpenduduk berstruktur tua sejak tahun 2000? Tahukah Anda kalau tanggal 11 – 13 Oktober 2016 kemarin ada RAKORNAS X KOMNAS LANJUT USIA yg diikuti oleh sekitar 200 orang perwakilan dari Komda Lansia, unsur Pemerintah, Swasta dan organisasi masyarakat peduli Lansia serta anggota Komnas Lansia? Tahukan Anda apa tujuannya? Mensosialisasikan kembali pelaksanaan tugas sesuai dengan amanat Keppres 52/2004 tentang Komnas Lansia dan Permendagri No 60 /2008 tentang pembentukan Komda Lansia dan pemberdayaan masyarakat dalam penanganan Lansia untuk dijadikan pedoman pada pelaksanaan program kerja Komda Lansia diwaktu-waktu mendatang (5). Ya, sosialisasi.

Bagi yg punya akses dan resources, bisa kerja bareng2 untuk mengadopsi ide ini dalam bentuk “Gerakan” atau start up atau apalah. Meminjam istilah Pak Anies : untuk ngeberesin masalah bangsa ini, solusinya harus dilihat dari sudut pandang sebuah gerakan, sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa, tidak bisa hanya dipandang sebagai sebuah program.

Semoga bermanfaat!

Ref :
(1) http://www.zsjc.or.jp/
(2) http://www.mhlw.go.jp/english/policy/exchange-program/dl/en_anteikyoku.pdf
(3) http://longevity.ilcjapan.org/f_issues/0702.html
(4) http://link.springer.com/article/10.1007/s10823-005-3797-4
(5) https://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1981

Start up Rip-ba untuk Mengatasi Riba

14330092_10210328481589473_1818446840013388932_n

#belajar

Kepikiran :
– mayoritas ulama membolehkan uang hasil riba disalurkan utk kepentingan umum : dalam rangka hati2, harta riba disalurkan untuk kemaslahatan secara umum, pada orang yang butuh, fakir miskin, selain untuk masjid dan tidak boleh dimanfaatkan oleh pemilik harta riba tadi secara personal (ref 1)

– belum banyak lembaga yg memfasilitasi penyaluran uang riba (salah satunya Pesantren DS, ref 2), tapi belum ada yg mengkhususkan diri di bidang ini

– banyak orang yg mulai sadar dan ga mau ambil uang hasil riba (misal : bunga bank disisihkan, tapi bingung mau disalurkan kemana) atau uang syubhat lainnya (yg sudah kerja pasti banyak pengalaman soal transaksi2 fiktif, mel2an dsb) tapi masih belum bisa lepas sepenuhnya dari bank konvensional/sistem2 semacamnya

Ide :
– mendirikan lembaga (start up?) yg khusus menerima uang riba dan uang2 syubhat dan menyalurkannya utk kemaslahatan umum : Rip-ba!

– kesempatan : uang simalakama yg mubadzir kalau didiamkan saja tapi ga boleh dimanfaatkan >< potensi : utk disalurkan demi kemaslahatan umum

PS : Kita sepakat bahwa tujuan akhirnya tentu utk menghapus sistem2 yg menggunakan konsep riba, atau uang2 syubhat dalam kehidupan <– ikhtiar maksimal utk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ide ini hanya utk memberikan alternatif solusi bagi kita2 yg masih berproses utk bisa lepas dari sistem2 tsb

ref :
1. https://rumaysho.com/2964-bagaimana-penyaluran-harta-riba.html

2. https://rumaysho.com/1815-siap-menyalurkan-zakat-maal-di-gunung-kidul.html

Menjadi tua di atas kereta (dari) Jakarta

14322612_10210313959946441_3874496206372475205_n

Jumat malam. Saat kereta terisi dengan sosok-sosok yg kangen pulang. Tabungan rindu sepekan memenuhi gerbong kereta dari Jakarta hingga ke halaman rumah.

Alangkah baiknya safar kereta ini jadi saksi, terpanjatnya doa-doa baik dan (insya Allah) mustajab. Doa dari musafir-musafir yg penuh kepasrahan dan ketundukan pada-Nya : agar safarnya penuh berkah dan selamat sampai ke rumah. Doa dari hamba-hamba yg bekerja keras menjaga dan menafkahi keluarganya, agar senantiasa terlimpah kebaikan di dunia dan terjaga dari api neraka.

Maka beruntunglah mereka yg mengisi safarnya penuh dengan doa.

Berdoalah, keluarga menunggu di rumah 

Menjadi tua di (jog)jakarta

14238156_10210227006932670_3227353441584824394_n-2

Menjadi tua di (jog)jakarta

Tidak ada yang mengerikan tentang menjadi tua dengan kenangan masa muda yang penuh peluh, menutup kerja ketika beranjak senja, sambil menyelip macet dengan semangat : karena tahu ada keluarga yang menunggu di rumah. Keluarga yang ulur salamnya bisa menghapus lelah.

Bahkan ketika setiap pagi (harus) mendahului matahari, akrabnya kita dengan jalan tak harus jadi penyulut emosi. Semoga tiap jengkal jalan yang ditempuh, setiap putaran roda dan kayuhan pedal kelak bisa jadi saksi pemberat pahala, ketika kita niatkan bekerja untuk keluarga.

Karena mereka yang sibuk nyuruh resign dan traveling itu ga akan beliin bensin dan beras untuk kita (wkwk), maka bekerjalah dan bersyukurlah.

PS : Misaeng after effect. Bekerjalah dan bersyukurlah.