Keterlibatan Swasta di Bisnis KA di Jepang

Kereta api memang jadi salah satu moda transportasi utama di Jepang. Menarik sekali baca2 dan #belajar ttg sejarah singkat perkereta-apian di Jepang (1).

Pengelola utamanya adalah 6 perusahaan Japan Railways (JR) group, dan didukung 100 lebih perusahaan swasta yg tersebar di berbagai wilayah di Jepang.

Yg paling dekat kampus kami ada Line yg dikelola Kintetsu. Kintetsu ini salah satu dari 16 perusahaan swasta utama yg ikut mendukung sistem perkereta apian di Jepang (1).

Pasca perang, utk mendukung pembangunan infrastruktur, pemerintah Jepang aktif mengundang swasta utk ikut andil dalam bisnis kereta api. Salah satu kebijakan yg menarik, pemerintah juga mendukung perusahaan swasta utk melakukan diversifikasi usaha disekitar stasiun kereta : mall/shopping area didekat stasiun, residential area/apartments di dekat stasiun, atau bahkan pabrik2 dan wilayah industri. Bangun jalur transportnya dulu nanti rumah2 penduduk akan menyesuaikan di dekat stasiun.

Foto ini diambil di Kintetsu Ikoma station. Di bagian kanan atas foto, yg warna warni itu adalah logo2 toko dan retail yg ada Kintetsu Mall, bersebelahan langsung dg station.

Di Indonesia, kenapa swasta masih belum banyak yg terlibat dalam investasi bisnis kereta api ya? Di Sumatera atau pulau Luar Jawa yg lain, sepertinya investasi bisnis kereta ini sangat menjanjikan.

Ref :
1. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rail_transport_in_Japan

Fasilitas-fasilitas oke yg ada di toilet umum di Jepang

#belajar

Semua orang berhutang budi kepada toilet umum dan orang2 yg terlibat di sekitarnya : yg menyediakannya, yg membersihkannya, dan yg menjaga kebersihannya.

Sependek pengamatan selama disini, ada beberapa fasilitas oke di toilet umum Jepang yg simple tapi helpful dan mungkin bisa diadopsi secara luas di Indonesia.

1. Tempat ganti popok anak
Biasanya akan mudah ditemukan di mall2 dan pusat perbelanjaan. Baik di toilet laki2 maupun perempuan. Simpel sebenarnya, semacam meja/kasur kecil yg kadang2 bisa dilipat2 utk menidurkan dekbay ketika ganti popok, biasanya cuma memanfaatkan salah satu sudut toilet.

2. Dudukan bayi di dalam toilet
Sebelumnya ga pernah kepikiran ttg fasilitas ini. Baru ngeh setelah lihat di sini, kemudian sadar : oia ya, helpful banget nih buat yg jalan2 sama anak2. Kalau ke WC, anaknya ga perlu ditinggal atau pusing cari yg bisa dititipin, cukup diminta nahan bau saja sebentar wkwk. Dudukan bayi ini biasanya berhadap2an dg dudukan toilet, masih sejangkauan tangan.

3. Wastafel utk anak2, agak rendah dari yg biasa
Kalau kata istri : ini salah satu usaha pemerintah dan masyarakat Jepang utk konsisten; kalau ngajarin anak2 utk cuci tangan setelah ke belakang, maka semua pihak mendukung pelaksanaannya dg menyediakan wastafel yg bisa dijangkau anak2. Nasehat2 itu diajarkan bukan dg sekedar ucapan, tapi juga dibuatkan sistem yg mendukung pelaksanaannya.

Baru ketemu 3 ini sih, kalau tahu fasilitas2 oke lain yg helpful dan mendukung toilet yg ramah utk semua orang, mungkin bisa share dan menambahkannya

Ecocap Movement : Bayar Vaksin Pakai Tutup Botol

Kemarin ketika ikut undokai (sport festival), panitia seperti biasa mengumumkan ttg sampah yg perlu dipisah dsb. Berkat penjelasan panitia, jadi ngeh kenapa di kampus dan di rumah2, orang sini membuang PET (polyethylene terephthalate) botol minum kemasan dan cap-nya terpisah. FYI : di sini hampir semua botol minum kemasan dibuat dari PET dan basic rule dari pemerintah, ketika mau buang PET botol minum, tutup dan labelnya perlu dilepas karena bahannya berbeda dan masuk burnable waste.

Nah, setelah penasaran dan tanya gugel sensei, menurut sejarahnya, Ecocap Movement ini asalnya dari ide anak2 SMA di Kanagawa tahun 2007 yg resah kenapa cap-nya PET botol ga bisa di re-cycle juga, mottainai (such a waste)! Karena keresahan itu, munculah Ecocap Movement ini, yg mengumpulkan cap PET botol dari berbagai lokasi, kerjasama dg perusahaan recycle, kemudian menyumbangkan uang yg diperoleh ke Japan Committee, Vaccines for the World’s Children (JCV) (a). Sekarang, ecocap movement ini sudah jadi Non Profit Organization besar yg pusatnya di Yokohama, Kanagawa (b). Setiap 800 cap botol, bisa menanggung 1 vaksin polio seharga 20 yen. Ketika minimal sudah ada 8 karung besar cap botol yg terkumpul, pihak ECM akan mengambil dan meneruskannya ke perusahaan untuk direcycle. Menurut data tahun 2015 dari sini (c), ECM sudah berhasil mengumpulkan 11.8 billion cap botol yg menghasilkan 114.6 million yen, setara dg 5,8 juta vaksin polio untuk anak2 di berbagai penjuru dunia.

Poin2 menarik dari Ecocap Movement ini:

– Tindakannya mudah, simpel, bisa dilakukan semua orang dr berbagai umur. Karena tujuannya adalah utk save lives, akan semakin mudah utk appeal ke banyak orang. Hanya dg memisahkan tutup botol dan mengirimkannya ke NPO, kita bisa ikut menolong nyawa anak2 di belahan dunia yg lain lho!

– Kerjasama dg kampus, perusahaan, lembaga pemerintah, dan komunitas2 di seluruh Jepang utk menjadikan program ini sebagai CSR mereka. Win-win solution. Nah, kalau kita coba search “Ecocap Movement” di gugel sensei, memang hampir sebagian besar related articles merujuk ke website perusahaan2 yg menjadikan ECM sbg CSR mereka. Apalagi kalau sedang ada event2 besar semacam undokai, party, festival dsb., yg pasti menghasilkan banyak sampah PET botol. Karena itemnya ukuran kecil dan ga makan tempat, jadi ga terlalu merepotkan kalau disimpan sementara di gudang sebelum diambil oleh ECM. Ini penting menurut saya, karena kalau itemnya besar, yg ngumpulin akan merasa berat juga karena makan tempat.

– Cap yg dikumpulkan sebenarnya ada kriteria yg perlu dipenuhi, yaitu harus cap PET botol, stickernya sudah dilepas, dan bersih. Terkadang ada yg tidak memenuhi kriteria sehingga ECM masih secara manual melakukan sorting. Nah, menariknya proses sorting ini juga menjadi lapangan pekerjaan utk disabled people yg kesulitan menemukan pekerjaan di tempat lain.

Banyak #belajar dari movement ini. Salah satu item yg memungkinkan kalau di Indonesia: gelas plastik sisa air minum kemasan. Kenapa gelas plastik?
Itemnya relatif kecil, bisa disusun sedemikian rupa agar ga makan tempat, sampahnya banyak ditemukan dalam jumlah besar di berbagai event2 kampus/perusahaan, bisa dijual ke perusahaan recycle utk kemudian uangnya disalurkan ke kegiatan sosial. PR-nya, tinggal menemukan sasaran penyaluran uang yg nanti diperoleh. Lebih baik kalau targetnya: menyangkut save lives yg menarik sisi kemanusiaan bagi siapa pun yg terlibat, mudah utk dibayangkan (misal 50 gelas plastik akan jadi 1 vaksin utk anak2 kurang mampu di xx), dan lebih baik kalau kerjasama dg organisasi sosial yg sudah mapan serta punya track record baik.

Monggo bagi yg berminat dan punya resourcesnya, bisa mengadaptasinya di Indonesia.

Gambar diambil dari : (c)

References :
a. https://www.jcv-jp.org/donation/pbcap
b. http://ecocap.or.jp
c. https://isshinternational.org/2210/showcase/bottle-caps/

Food Action Nippon : edukasi makanan sehat dan kemandirian pangan ala Jepang

Food Action Nippon (0). Karena penasaran dg label FAN yg tercetak di beberapa jajanan yg sering dibeli, akhirnya gugling2 buat #belajar.

FYI, ternyata Jepang masih belum bisa mandiri dari impor bahan makanan, ditunjukkan dg food self-sufficiency rate yg masih sebesar 40%. Ini terutama karena bergesernya konsumsi bahan makanan pokok dari nasi ke mie dan roti (gandum; yg notabene perlu diimpor dari LN). Nah secara singkat, FAN adalah NGO yg diinisiasi Japanese Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries MAFF tahun 2008 yg salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan food self-sufficiency atau kemandirian pangan menjadi 45% di tahun 2015. FAN juga menginisiasi gerakan masyarakat agar mau kembali mengkonsumsi makanan lokal. Yg kedua, selain soal food self-sufficiency, FAN juga menggalakkan edukasi pola makan sehat untuk kembali ke diet ala makanan Jepang. Eat Japanese : menghidupkan kembali Japanese food culture yg berpusat di fish, rice, soy dan vegetables.

Sederhananya, FAN ini adalah gerakan soal food self-sufficiency (kemandirian pangan) dan food education (edukasi makanan sehat) (1)

Beberapa kegiatan keren yg diadakan FAN:
– Menyematkan label FAN (seperti di foto) ke produk2 makanan yg diproduksi perusahaan partnernya, serta keterangan bahwa produknya menggunakan bahan baku asli 100% dari dalam negeri. Kerennya FAN ini, mereka juga menjalin kerjasama dg pihak swasta, pemerintah daerah, jaringan conveniences stores, supermarket chain dsb. Sudah ratusan yg jadi rekanannya, listnya bisa diliat di sini (2). Pemerintah juga memberikan subsidi utk petani, produsen, dan konsumen yg terlibat dalam produk ini, jadi harga produknya lebih murah(?). Terkenal dg nama Oishii Campaign (Tasty Campaign). Lihat2 restoran disini, mereka juga sering mengadakan campaign menu baru dg menyantumkan asal bahan makanannya : hotate dari Hokkaido, beef dari Kobe dsb.

– Memfasilitasi penjualan produk petani lokal dg sering mengadakan bazaar : Kyushu Rice and Beer Festival, Vegetabel Marathon in Saitama, Food Fair in Kanagawa dsb. Tujuannya mempertemukan petani lokal langsung dg konsumer lewat event2 keluarga, terutama utk memperkenalkannya ke anak2. Karena salah satu motto dari FAN : ‘the visible producer’ (kao ga mieru seisansha), a producer whose products are visible, reliable and of high quality; in short, a producer that consumers can trust and relate to. Termasuk menghadiahkan FAN award kepada petani/peneliti/sekolah/pemerintah daerah/pihak swasta yg dirasa mendukung tercapainya tujuan program ini. Contoh pemenang th 2016 (3)

– Supporting through eating, tabete ouen shiyou! ini keren! diinisiasi oleh FAN untuk mendukung pembelian produk pertanian dari daerah2 yg terkena bencana di Jepang sbg bentuk support agar segera pulih. Yg terbaru adalah untuk membeli produk2 dari Fukushima dan Kumamoto yg terkena bencana : melibatkan peneliti utk menunjukkan kalau produknya aman dikonsumsi, meminang politikus dan artis untuk ikut campaign dan makan langsung dari produk lokal, membuat stand2 produk di kota besar seperti Tokyo dkk.

Setelah dulu kagum dg Program Makan Siang Sehat ala Sekolah di Jepang (4), baca2 ttg program FAN ini jadi semakin salut dg betapa seriusnya pemerintah Jepang mengurusi (perut) warganya.

Referensi :
0. http://syokuryo.jp/index.html
1. http://icc.fla.sophia.ac.jp/global%20food…/…/2_2_ASSMANN.pdf
2. http://syokuryo.jp/partner/list/
3. http://syokuryo.jp/award/award16/winning.html
4. https://fajarsofyantoro.wordpress.com/…/program-makan-sian…/

Menghubungkan Komunitas Pengajian Luar Negeri dg Komunitas yg ada di Indonesia

Situasi :
– Alhamdulillah komunitas muslim Indonesia di NAIST diberikan keistiqomahan utk bisa rutin mengadakan kegiatan tadarusan dua pekanan.

Permasalahan :
– Pembicara dan pengisi materi. Selama ini biasanya pengisi materi dipergilirkan dari anggota satu ke anggota yg lain, mengangkat tema kultum sesuai dg tema yg ingin diangkat oleh pembicara.
– Alhamdulillah terkadang bisa mendatangkan pembicara Ustadz/ah tamu dari Indonesia yg kebetulan sdg bersilaturahim ke Jepang, Ustadz/ah dari wilayah sekitar Kansai (Osaka, Kyoto dan Kobe) atau kajian online dg Ustadz/ah dari Indonesia

Peluang :
1. Kebutuhan komunitas muslim di NAIST dan insya Allah di banyak lokasi yg lain di berbagai negara akan bimbingan Ustadz/ah dari Indonesia.

2. Adanya simpul2 kajian dan komunitas yg sudah established di Indonesia dg jaringan dan sistem yg baik serta bimbingan dari Ustadz/ah yg mumpuni, ex : takmir2 masjid, lembaga dakwah kampus, organisasi keislaman, komunitas2 keislaman dsb

Ide :
Menggabungkan peluang 1 dan 2, misalnya dg menginisiasi pembentukan program Komunitas Binaan Pengajian Luar Negeri (KBPLN) yg berada dibawah bimbingan Takmir Masjid/LDK, dg kegiatan berupa :
– bimbingan dan forum tanya jawab dg Ustadz/ah mengenai permasalah kontemporer dan kontekstual sesuai lokasi atau negara masing2
– menghubungkan dg Ustadz/ah yg bersedia mengisi pengajian rutin pekanan atau bulanan (online ataupun ketemu darat)
– menjadi perantara utk memfasilitasi penyaluran zakat infaq dan sodaqoh dari masing2 komunitas ke yg membutuhkan
– dsb

PS : ide ini terlintas karena komunitas Tadarusan di NAISTers sendiri agak kesulitan dalam mencari jaringan Ustadz/ah yg bisa menjadi pembicara kajian online selama Ramadhan. Adakah yg bisa membantu atau menghubungkan? Semoga bisa menjadi amal jariyah

Aplikasi Berbasis Augmented Reality utk Mendongkrak Potensi Wisata

#belajar

Aplikasi Berbasis Augmented Reality utk Mendongkrak Potensi Wisata

Ketika booming Pokemon Go yg memfamiliarkan Augmented Reality (AR) dalam bentuk game, sempat kepikiran berbagai aplikasi lain dari AR, salah satunya adalah pemanfaatan AR sebagai guide di tempat2 wisata/museum/kampus dsb.

Nah, kemaren ketika ikut excursion day yg difasilitasi oleh NAIST, kami dapet kesempatan utk berkunjung ke Himeji Castle atau The White Egret Castle (1) yg ternyata sudah memanfaatkan teknologi AR ini utk semacam guide virtual (2).

Pertama, perlu unduh aplikasinya dulu : Himeji Castle Great Discovery. Nah, ketika berkunjung ke Himeji Castle, di beberapa lokasi strategis akan ada papan2 ber-logo AR, yg kalau di scan menggunakan aplikasi tsb akan muncul karakter Shiromaru-hime (mascot Himeji castle). Nanti keluar pop up semisal : Look up! lalu muncul video singkat yg bisa di klik ttg penjelasan dari bagian castle yg kita scan tadi. Ada juga fitur2 semacam mengumpulkan items2 di lokasi2 tertentu yg bisa digunakan oleh user utk foto2 dsb. Jangan khawatir, di lokasi ada Free Wifi yg bisa diakses kok.

Bisa dicontek nih idenya. Buat aplikasi AR untuk di Borobudur misalnya, nanti disetiap lantai ada logo AR yg memberikan penjelasan singkat ttg relief2 yg ada di setiap lantai, atau sejarah ttg pendirian Borobudur dsb.

Ref :

1. https://en.wikipedia.org/wiki/Himeji_Castle

2. http://www.himejicastle.jp/en/ar.html

Shisa Kanko : teknik sederhana mengurangi error dan sloppiness ketika bekerja

[Shisa Kanko : teknik sederhana mengurangi error dan sloppiness ketika bekerja]

Bagi yg pernah naik kereta di Jepang, insya Allah familiar dg adegan pak masinis yg nunjuk2 sambil ngomong sendiri sebelum memberangkatkan kereta kan?

Nah uniknya, adegan itu juga dipraktekan oleh temen lab ketika sdg eksperimen kemarin. Nunjuk2 alat sambil bergumam sendiri, lucu wkwk. Pas ditanyain, dia cerita kalau gerakan2 itu di Jepang dikenal dg nama shisa kanko atau pointing and calling dalam bahasa Inggris. Rupa2nya dia sering lupa atau ada prosedur yg terlewat kalau lagi eksperimen, jadi penangkalnya adalah dg shisa kanko, meski terlihat lucu :p

Setelah gugling2, ternyata banyak hal menarik soal shisa kanko (SK) yg memungkinkan buat jadi bahan #belajar. Kalau mau liat contoh realnya, bisa cek video ini (2)

Ide dasar dari SK ini adalah, ketika mengkonfirmasi sesuatu, kita ga cuma ngeliatin saja, tapi juga nunjuk pake jari dan diucapkan dg lisan. Karena otak, mata, tangan, mulut dan telinga kerja bareng2, bisa lebih meningkatkan fokus dan mengurangi resiko kelupaan, error atau sloppiness.

Misal ketika kereta mau berangkat, pak masinis akan nunjuk jam sambil bilang : jam 2 lebih 5 menit, siap berangkat dari Ikoma station; nunjuk pintu kereta sambil bilang : pintu nutup dg normal, yosh, berangkat; terus pencet tombol berangkat.

Penelitian dari the Railway Technical Research Institute di Jepang juga melaporkan kalau SK ini mengurangi error sampai 80 persen (3) dan mengurangi kecelakaan sampai 30 persen (1).

So, next time naik kereta, bisa coba merapat ke gerbong paling ujung tempat pak masinis kerja, sambil curi2 dengar dan liat2 gimana SK ini dipraktekkan.

Bisa juga diusulkan utk diadopsi sama KAI atau perusahaan2 yg terkait transportasi.

sumber gambar (1)

Ref :

1. http://www.allaboutlean.com/pointing-and-calling/

2. https://www.youtube.com/watch?v=9LmdUz3rOQU

3. http://www.japantimes.co.jp/news/2008/10/21/reference/jr-gestures/#.WSPnMMklFEJ