Akses Free WiFi ketika terjadi bencana alam di Jepang

Ketika terjadi bencana alam skala besar di Jepang, “00000JAPAN” atau five zeroes Japan menyediakan akses free wifi bagi masyarakat di daerah terdampak bencana. Inisiatif ini merupakan hasil kerjasama dari operator2 besar semacam KDDI, Docomo, Softbank dan perusahaan2 telekomunikasi lainnya.

Sederhananya, operator2 itu mengubah akses poin wifi-nya menjadi 00000JAPAN yg bisa diakses semua orang, tanpa harus menjadi pengguna operator tsb. Guidelines nya bisa diakses di sini kalau mau baca (1). Inisiatif ini diluncurkan berdasarkan pengalaman gempa Tohoku 2011, bahwa jaringan internet menjadi salah satu kebutuhan vital, terutama untuk safety confirmation dan komunikasi.

Yang punya akses ke menkominfo atau BNPB di Indonesia, bisa banget diusulin ide ini nih, insya Allah sangat bermanfaat.

Screenshot: KDDI meluncurkan layanan 00000JAPAN hari ini untuk wilayah Osaka dan sekitarnya yg terdampak bencana gempa bumi (2).

Ref :
1. https://www.wlan-business.org/wp/wp-content/uploads/2015/03/Wi-Fi_Free_Guideline_Ver.2.0_20150302_en.pdf
2. http://news.kddi.com/kddi/corporate/newsrelease/2018/06/18/3215.html

Kenapa mahasiswa di Jepang banyak yg bekerja part-time

Arubaito (sering disingkat baito バイト) adalah istilah lain part-time di Jepang. Part-time disini, kalau lihat di selebaran atau poster2 yg dipasang di toko, tarifnya sekitar 800-1000 yen per jam. Yg menarik dan bikin penasaran, hampir semua temen Jepang di kampus bilang kalau mereka pernah baito ketika kuliah S1. Ada yg baito di restauran, game centre, jadi guide ketika konser, kasir di supermarket, dsb. Karena masih kuliah, biasanya mereka akan ambil shift malam atau weekend. Ketika ditanya kenapa baito, macem2 jawabannya.

Karena penasaran, gugling2 dan nemu bahan bacaan menarik di tulisan ini (1), ttg The Social Construction Of Youth Employment In Japan.

Ada survei menarik tentang alasan kenapa anak2 muda di Jepang yg masih kuliah memilih untuk baito (1). Alasan2 yg terungkap dari hasil survey ini justru sedikit sekali berhubungan dg biaya pendidikan. Beberapa alasan yg paling banyak disebut kenapa baito: understanding the value of money, meeting people from other generations, widening one’s horizons and finding out about society , pay for travel and leisure activities, or even just meeting a boy/girlfriend.

Semangat ini mungkin senada dengan kenapa anak2 muda di Indonesia giat berwirausaha semenjak kuliah.

Untuk orang2 seperti saya yg kurang bakat wirausaha, mungkin part time jadi salah satu alternatif belajar ttg duit. Seperti nasehat orang tua dahulu, kalau sudah tahu susahnya cari uang, akan lebih hati2 dalam mengelola uang. Lebih hati2 mengelola hidup. Singkatnya, pengalaman baito bisa jadi ajang anak muda utk memahami “nilai/value” dari uang itu sendiri, tak sekedar ttg jumlahnya.

Gimana, tertarik part time ketika masih kuliah?

#ideusaha #4 : Penyedia informasi part-time (website dan aplikasi)

Di Jepang, informasi ttg lowongan baito jadi industri yg lumayan besar. Yg paling familiar mungkin fitur informasi baito di Line. Selain itu, banyak juga website komersil yg menyediakan informasi ttg baito di seluruh penjuru Jepang. Iklan2 ttg website2 ini tersebar di Youtube, TV, dan sebagainya. Yg sering familiar terdengar ada Indeed, Baitoru, Townwork, dkk.

Mungkin ada yg mau buat aplikasi dan website penyedia informasi part time semisal itu juga?

Ket gambar : screenshot fitur Line baito

Ref :

https://www.cairn.info/revue-francaise-de-sociologie-1-2004-5-page-60.htm

Toko khusus snack, jajanan dan cemilan

#ideusaha #3 : Toko khusus snack, jajanan dan cemilan

Salah satu spot cuci mata favorit ketika ke mall deket kampus. Okashi no machioka, toko kecil di pojokan yg jualan khusus snack, jajanan dan cemilan. Siapa yg ga tergoda melihat rak2 panjang berisi jajanan seperti itu 😛

Meski ukuran tokonya tidak terlalu besar, koleksi itemnya variatif dan harganya bersaing. Sayangnya hanya item tertentu saja yg bisa dikonsumsi oleh kita orang muslim.


Semoga nanti ketika pulang ke Jogja, ada yg buat toko seperti ini. Mas mbak yg mau usaha, daripada nambah2in warung kopi atau kuliner modifikasi aneh2 di sekitar kampus, saya usul buat toko khusus jajanan seperti ini saja: varian itemnya lengkap dan bervariasi, harganya bersaing utk mahasiswa dan anak sekolah. Konsepnya simpel, semoga juga laris dan menarik banyak pelanggan

Prospek second-hand book-shop di kota2 pelajar dan mahasiswa

#ideusaha #1 : Retail second-hand book

Book-Off (BO)

Akhir2 ini jadi sering hang-out di Book-Off karena diajakin istri. Seperti namanya, BO ini adalah retail second-hand book, CD, games, manga, alat2 elektronik, dkk. Sekilas baca di wiki, BO baru berdiri tahun 1991 dan jadi salah satu retail yg tahan gempuran krisis ekonomi dng pertambahan jumlah cabangnya paling cepat di Jepang.

Buku2 second-hand di BO dibandrol sekitar 100-1500an yen per buku, tergantung kualitas dan judulnya (red: kami cuma membandingkan buku2 berbahasa Inggris). Sebagai perbandingan, biaya sekali makan di kantin kampus sekitar 500 yen. Jadi, masih feasible lah harga buku second-hand nya utk mahasiswa. Genre buku2 yg dijual termasuk fleksibel, dari mulai novel, non-fiksi, text book sampai kamus.

BO juga aktif mengampanyekan ke customersnya utk jualan buku2 yg sudah selesai dibaca, bisa dibawa langsung ke tokonya BO atau minta dijemput ke rumah.

Akan sangat menggiurkan sekali kalau ada yg mau mengadopsi bisnis second-hand book shop seperti ini di Indonesia. Pasar buku2 bekas sepertinya lumayan tinggi, melihat banyak yg jualan buku2 bekas online di fb. Apalagi di kota2 pelajar yg banyak universitas dan mahasiswanya, setiap yg lulus biasanya akan banyak meninggalkan buku2 bekas. Siap ditampung dan dijual lagi dengan harga yg bersaing. Supply dan demand sudah ada insya Allah, monggo dijalankan roda ekonominya.

Regional Limited Product: Sarana Pemberdayaan Produk2 Lokal di Jepang

Salah satu strategi marketing yg umum dijumpai di Jepang yaitu dng membuat produk2 berbau limited: seasonal limited dan atau regional limited. Produk2 seasonal limited lebih mudah ditemui di seantero Jepang sesuai musim, ice cream rasa sakura saat menyambut spring misalnya.

Satu hal menarik untuk bahan #belajar kali ini ialah regional limited product, produk makanan yg hanya dijual di lingkup daerah tertentu saja. Lebih spesifik lagi, belajar dari strategi yg dipakai Kappa Ebi Sen (KES) produksi Calbee, produsen snack semacam kerupuk (senbei) rasa udang. Snack favorit di Jepang ini termasuk produk snack nasional. Seluruh rentang usia, mulai dari anak2 sampai orang tua menyukainya.

Nah, salah satu diversifikasi produk yg dibuat oleh KES ini adalah KES dg rasa produk2 lokal khas daerah tertentu. Ada KES rasa rumput laut aosa khas Ise Shima di Mie, rasa setouchi lemon khas Hiroshima, dll. Lalu, apa bedanya strategi marketing ini dng produk2 ala2 daerah tertentu yg ada di Indonesia? Bukankah produk nasional favorit di Indonesia, Indo*mie misalnya (:p), juga telah banyak membuat varian rasa daerah: Mie Goreng Rendang, Mie Rebus Soto Makasar, dll?

Gambar no 2 adalah KES rasa rumput laut khas Ise Shima di Mie prefecture, dibandingkan dg KES standar di no 1 yg tersedia di seluruh Jepang. Selain terkenal dg Ise Ebi (udang khas Ise), Ise Shima juga merupakan penghasil sekitar 40% pasokan dried sea lettuce (aosa) se-Jepang. Produksi aosa ini dikelola oleh petani2 lokal di Ise Shima. Nah, peluang untuk lebih memperkenalkan aosa ke kancah nasional dan memberdayakan petani lokal disana dijajaki oleh petani2 aosa di Ise Shima dg mengajukan kerjasama ke Calbee selaku produsen KES. Kerjasamanya berupa produksi Kappa Ebi Sen rasa rumput laut aosa khas Ise Shima dng petani Ise Shima langsung sebagai penyedia bahan baku. KES rasa rumput laut ini kemudian dijual terbatas hanya di toko2 oleh2 yg ada di Ise Shima.

Ini lah yg menarik dan bisa jadi bahan belajar.

Regional limited product seperti ini menjadi daya tarik tersendiri bagi turis yg berkunjung ke Ise Shima karena tidak tersedia di tempat lain, sbg alternatif oleh2 khas Ise Shima. Untuk Calbee sendiri, tentunya kerjasama ini bisa meningkatkan pembelian Kappa Ebi Sen sekaligus jadi salah satu bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) ke society. Win-win solution.

Untuk teman2 yg terlibat di pemberdayaan masyarakat, mungkin model kerjasama seperti ini bisa juga diterapkan di Indonesia. Kawin silang antara produk makanan yg sudah dikenal secara luas di level nasional dg produk2 khas daerah yg diproduksi oleh kelompok2 petani lokal, dng packaging khusus dan dijual khusus hanya di daerah tsb. Membayangkan ada Ta*ro rasa telur asin yang dijual terbatas di Brebes saja

Bell Mark: Serunya Ngumpulin Poin untuk Ditukar Alat2 Kebutuhan Sekolah di Jepang

Di Jepang, kebiasaan mengumpulkan poin sudah membudaya. Salah satu yg paling umum yaitu mengumpulkan poin ketika berbelanja. Di salah satu pusat perbelanjaan misalnya, pembelian barang seharga 200 yen akan mendapat 1 poin. Satu poin ini nilainya setara dng ¥1 , yg berarti poin tsb bisa ditukar/dipakai membeli barang seharga ¥1.

Nah, kebiasaan mengumpulkan poin ini diadaptasi juga oleh Bell Mark (BM) movement. BM adalah NGO yg memfasilitasi penyaluran dana CSR dari perusahaan ke sekolah2 atau institusi pendidikan lain di Jepang maupun LN. Perusahaan2 yg berafiliasi dg BM (a) akan mencantumkan logo Bell Mark di kemasan produknya plus keterangan nilai/jumlah poin. Logo Bell Mark ini lah yg nantinya dikumpulkan di sekolah2, institusi pendidikan, dan atau community center.

Bagi orang tua yang yg anaknya bersekolah di Jepang pasti sudah familiar dg himbauan utk mengumpulkan logo BM utk dibawa ke sekolah. Oleh pihak sekolah, logo BM akan dipisahkan sesuai asal perusahaannya dan dihitung poinnya. 1 poin = 1 yen. Ketika jumlah poin telah mencapai harga barang yg dibutuhkan sekolah, BM2 itu kemudian dikirimkan ke BM foundation untuk reimburse dan dibelikan barang2 ke perusahaan yg jadi rekanan (b). Barang tersebut umumnya berupa alat2 olahraga (matras, jumping board, sepeda satu roda dsb), teaching materials (LCD, buku2, alat tulis dsb), peralatan makan utk di sekolah, dll.

So far, ada lebih dari 56 perusahaan sponsor BM (a) yg menyantumkan logo BM di 2000 produknya dan lebih dari 500 juta logo BM terkumpulkan setiap tahunnya (c).

Benefit dr movement ini utk perusahaan: sarana menyalurkan CSR, menunjukkan kepedulian pada pendidikan, promosi produk, dsb. Untuk nilai edukasi ke anak2 sendiri, kegiatan seperti ini bisa jadi sarana promosi bahwa menabung tidak hanya bermanfaat tapi juga menyenangkan; jajan sambil bisa nabung utk beli alat disekolah; rame2 ngumpulin logo sesuai perusahaan, kemudian ngitung poin bareng2 dan deg2an ketika nunggu alat yg diinginkan dikirim ke sekolah.

Siapa tahu ada yg tertarik mengadopsi konsep seperti ini utk dilakukan di Indonesia, bisa jadi ide kegiatan untuk NGO yg bergerak dibidang pendidikan. Selain mengumpulkan poin utk kebutuhan di sekolahnya sendiri, anak2 di sekolah bisa juga diarahkan untuk (misal) mendonasikan poin2 tsb ke sekolah2 di daerah yg masih banyak membutuhkan alat2 pendidikan.

Ref :
a. http://www.bellmark.or.jp/sponsor/list/

b. http://www.bellmark.or.jp/cooperation/guide.htm

c. http://www.bellmark.or.jp/companies/participate.htm

Antenna Shop (AS) sebagai Sarana Promosi Daerah Terintegrasi

#belajar

Istilah AS di Jepang merujuk pada toko/restoran yg khusus menjual barang2 khas dari daerah tertentu dan berlokasi di kota2 besar seperti Tokyo, Osaka, dll. Bukan seperti bazar yg hanya diadakan sementara dan musiman, AS ini beroperasi rutin layaknya toko pada umumnya. AS menjual barang2, bahan makanan khas daerah tsb yg ga tersedia di supermarket biasa, dan juga menyediakan mini restoran yg melayani makanan khas daerah tsb. Menariknya, selain kegiatan ekonomi dan jual beli, AS juga menjadi sarana utk promosi wisata dan menarik investasi ke daerah2.

Ada lebih dari 52 AS di Tokyo yg merepresentasikan prefecture (provinsi), daerah, dan kota2 terkenal dari seantero Jepang. Toko-toko ini dikelola oleh pemerintah daerah secara langsung. Pemasukannya pun ga main2. Untuk prefecture yg terkenal semisal Hokkaido dan Okinawa, AS daerah tersebut bisa menarik pengunjung hingga 1 million dengan penghasilan daerah mencapai 700 million – 1 billion per tahun (1).

AS ini bisa jadi alternatif pilihan buat kita2 yg traveling dg waktu/budget terbatas. Tanpa perlu mengunjungi semua prefecture di Jepang secara langsung, traveller bisa mencicipi “nuance experience”nya sekaligus hunting oleh2nya satu persatu di AS yg terpusat di Tokyo dan sekitarnya. Sebagai catatan, sebagian besar AS di Tokyo berada di sepanjang Yamanote Line JR (Japan Railways) yg terkonsentrasi di daerah Yurakucho dan Ginza (2). List beberapa AS di Tokyo bisa dicek di sini (3).

Konsep Antenna Shop (AS) ini sangat menarik untuk diadopsi dan dijadikan peluang bisnis menurut saya. Kurang tahu apakah di Indonesia sudah ada toko yg berkonsep seperti ini atau belum. Sepertinya menarik dan besar peluangnya kalau bisa mengembangkan toko dg konsep Antenna Shop seperti ini, misalnya di Jakarta atau Denpasar. Satu mall atau kompleks pertokoan yg berisi Antenna Shop khusus menjual barang2 dari berbagai daerah di Indonesia: Antenna Shop Jogja, Antenna Shop Malang, AS Pontianak, AS Papua, AS Padang, dsb. Sistemnya dengan kerjasama bareng pemerintah daerah sebagai supplier dan swasta yg mengelola manajemen serta promosinya, dan atau sebaliknya.

Foto diambil dari (1)

Referensi :
1. https://www.nippon.com/en/features/h00104/
2. http://www.deepjapan.org/a/4340
3. http://bento.com/r-antenna.html