Program Makan Siang Sehat ala Sekolah di Jepang

16403159_10211726430337318_5932587678816449437_o

Beberapa hari lalu, Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk main dan ngobrol2 dengan anak kelas 6 di SD Higashi Ikoma bareng dear Alifah. Yg paling berkesan, akhirnya bisa melihat dan merasakan sendiri School Lunch atau kyushoku ala sekolah Jepang. Untuk bayangan bagaimana School Lunch di Jepang, bisa nonton video ini: School Lunch in Japan – It’s Not Just About Eating! (1). Variasi menunya berkisar di roti/nasi, sup, sayur, lauk protein, plus susu (ini penting!). Konon, menu-nya ga banyak berubah selama beberapa dekade. Kalau mau membandingkan contoh2 menu dari jaman dulu sampai sekarang, serta bagaimana variasinya, bisa cek di sini (2). Nah, konsumsi susu rutin saat School Lunch oleh anak2 usia SD-SMP yg sedang gencar2nya tumbuh ini dilaporkan menjadi salah satu faktor utama yg mendukung naiknya rata2 tinggi badan anak2 Jepang beberapa dekade ke belakang (3). Penting! Lha wong dari segi tinggi badan saja, kami sudah kalah sama anak kelas 6 SD disini, wkwk.

Secara umum, ketika masuk waktu makan siang, alurnya akan seperti ini: sensei memanggil PJ hari itu via speaker → siswa PJ memakai cap dan apron, lalu mengambil makanan dan alat makan → siswa yg lain mengatur meja di kelas, beberapa meja berhadapan membentuk kelompok kecil2 → siswa PJ membagikan susu dan menuangkan makan ke tray dg takaran yg sudah diberitahu sebelumnya → siswa yg jadi PJ berdiri di depan kelas memimpin doa → mulai makan → sembari makan biasanya ada pengumuman ttg menu hari ini (menunya apa, gizi yg terkandung apa saja, atau diberitahu juga sumber makanannya dari mana, misal: kentang hari ini adalah hasil panenan murid kelas 6 dari kebun belakang sekolah, dsb) → kalau ada makanan yg sisa, ditawarkan siapa saja yg mau, terus janken/suit → yg selesai duluan bisa baca buku, tapi masih tetap di kelas sambil menunggu yg lain selesai → setelah selesai makan, sampah dipisahkan menurut kategorinya (kertas/plastik), alat makan ditaruh di depan, botol susu dikembalikan ke rak → terakhir, siswa PJ memimpin doa.

Setelah gugling2 sekilas tentang sejarah implementasi School Lunch (Kyushoku) di Jepang, ternyata program ini menarik sekali kalau bisa diadopsi di Indonesia. Kyushoku dimulai tahun 1889 paska perang, oleh Buddhist monks yg tersentuh karena banyak anak2 Jepang yg tidak mampu bawa bekal makan siang. Fast forward, mulai 2009 diberlakukan revisi School Lunch Law 2009, yg menjadikan School Lunch Program berada dibawah naungan Sports and Youth Bureau of the School Health Education Division of MEXT (semacam kemenpora mungkin?). Data tahun 2007 dari sini (4), sekolah yg menyediakan school lunch di seluruh jepang ada 99.2% (SD) dan 91% (SMP). Revisi baru ini juga memperkenalkan mata pelajaran baru: Introduction of Food and Nutrition Education (Shokuiku), dan nutritional teachers yg mengawasi pelaksanaan School Lunch program.

Bagaimana pendanaannya? Kalau dulu, kata Nihongo sensei, semuanya full dicover oleh Pemerintah. Tapi semenjak diberlakukan revisi, pendanaannya dibagi oleh beberapa pihak : pemerintah lokal menggaji tenaga, bahan2nya dibayar oleh orang tua (sekitar 300-400 yen sekali makan) dg opsi bisa diskon atau free untuk keluarga yg kurang mampu (5). Di Ikoma city sendiri, School Lunch untuk SD dan SMP se-Ikoma dibuat di School Lunch Centre (学校給食センター, gakkou kyushoku senta) dan didistribusikan ke sekolah2 mendekati jam makan siang (6). Btw, di sekolah ga ada vending machine atau kafetaria, dan ada himbauan untuk tidak membawa makanan dari rumah kecuali utk yg punya alergi atau pantangan (termasuk anak2 muslim yg sekolah disini).

16508184_10211726430217315_2416975583563007834_n

sumber gambar : http://www.juk2.sakura.ne.jp/2014/0115.htm

Menariknya, selain bertujuan untuk menjamin asupan gizi anak yg seimbang serta kalsium yg cukup untuk pertumbuhan, Kyushoku ini adalah bagian dari kurikulum pendidikan di sekolah (4), yg tujuannya mantep sekali, antara lain:
– menumbuhkan kebiasakan makan sehat dg diet yg proporsional
– bersyukur atas makanan yg tersedia
– menumbuhkan rasa terima kasih ke semua orang yg terlibat dalam menyiapkan makanan: petani, yg masak, yg ngolah dsb

Nah, gimana di Indonesia? Menurut data BPS (7), ada sekitar 26.5 juta anak SD di Indonesia. Mengingat uang saku anak sekarang yg mostly jauh lebih banyak dibanding kita dulu, bukankah lebih baik kalau sebagiannya dialokasikan ke sekolah untuk menyediakan makan siang yg sehat dan seimbang daripada buat jajan di luar? Harapannya anak2 SD Indonesia bisa tercukupi gizinya, ga banyak yg over ginuk2, giginya gigis (wkwk), dsb. Pemerintah daerah bisa mengusahakan uang untuk gaji pekerja yg memasak makanannya. Anak2 juga bisa latihan hidup sehat sambil bekerja sama.

References :
1. https://www.youtube.com/watch?v=hL5mKE4e4uU
2. http://www.juk2.sakura.ne.jp/rekisi.html
3. https://www.jstage.jst.go.jp/article/jnsv/62/5/62_303/_pdf
4. https://www.nier.go.jp/Engli…/educationjapan/…/201303SLP.pdf
5. http://www.japantimes.co.jp/…/schools-have-knack-for-heal…/…
6. www.city.ikoma.lg.jp/0000000899.html
7. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1810

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s