Pemberdayaan Orang Usia Lanjut di Jepang

14682010_10210640738435699_2093163038570173346_o-2

Berawal dari rasa penasaran karena baca selebaran serupa foto ini di Takemaru Hall, kemudian gugling2 dan nemu soal National Silver Human Resources Centers 全国シルバー人材センター事業協会 (1). Semacam direktorat khusus pemberdayaan lanjut usia di Indonesia, tapi dengan program2 yg mantap dan patut diadopsi.

Mungkin sudah banyak yg tahu ttg dampak2 negatif dari population ageing di Jepang, salah satunya yg paling kentara adalah semakin banyak penduduk usia lanjut usia tapi angka kelahiran menurun. Perkiraan tahun 2055, jumlah penduduk di Jepang akan turun dibawah 90 million dan 40% nya adalah lanjut usia (2). Nah, SHRC ini salah satu upaya pemerintah Jepang untuk meminimalisir dampak negatif dari population ageing. Salah satu programnya adalah pemberdayaan orang2 lanjut usia lewat aktivitas2 volunteer dan menyediakan lapangan kerja (sekaligus) penghasilan untuk beliau2 yg sudah sepuh dan retired.

Misinya bagus :

高年齢者が働くことを通じて生きがいを得るとともに、地域社会の活性化に貢献する組織です

Increase job opportunities for the elderly, create a purpose of life, and revitalize the community .

dan juga : Applying the Experience and Expertise of Older People to Meet Community Needs (3).

Jadi paradigma awalnya, beliau2 yg lanjut usia itu bukan dianggap sebagai beban, tapi sebagai sosok yg punya pengalaman, skills dan expertise yg sudah lama dilatih sepanjang hidup dan baik kalau bisa disalurkan untuk membantu komunitas. Bikin gerimis ya.

SHRC sendiri sudah ada ribuan dan tersebar dipenjuru Jepang, rata2 tiap kota/kabupaten punya satu cabang untuk mengelola komunitasnya masing2. Kembali ke lapangan kerja tadi, tawaran pekerjaan yg masuk ke SHRC akan dikelola dan didistribusikan sesuai dg kemampuan anggota. Pekerjaannya meliputi : janitor, pekerjaan rumah tangga, bagi2 selebaran, jadi resepsionis dan bantu2 acara dsb (3). Maka jangan kaget kalau di Jepang, banyak ibu2 yg bersih2 kantor/kampus adalah yg sepuh2, yg jaga parkir juga sepuh dsb.

Banyak paper2 dari luar Jepang yg sudah mengupas mengenai program ini, salah satunya bisa dibaca abstraknya di (4). Dan kesimpulannya : program ini SANGAT RECOMMENDED untuk diadopsi.

FYI : Tahukah Anda kalau Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada tahun 2012, menyatakan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia ada 18,5 juta orang (7,57%), yg artinya Indonesia sudah tergolong negara berpenduduk berstruktur tua sejak tahun 2000? Tahukah Anda kalau tanggal 11 – 13 Oktober 2016 kemarin ada RAKORNAS X KOMNAS LANJUT USIA yg diikuti oleh sekitar 200 orang perwakilan dari Komda Lansia, unsur Pemerintah, Swasta dan organisasi masyarakat peduli Lansia serta anggota Komnas Lansia? Tahukan Anda apa tujuannya? Mensosialisasikan kembali pelaksanaan tugas sesuai dengan amanat Keppres 52/2004 tentang Komnas Lansia dan Permendagri No 60 /2008 tentang pembentukan Komda Lansia dan pemberdayaan masyarakat dalam penanganan Lansia untuk dijadikan pedoman pada pelaksanaan program kerja Komda Lansia diwaktu-waktu mendatang (5). Ya, sosialisasi.

Bagi yg punya akses dan resources, bisa kerja bareng2 untuk mengadopsi ide ini dalam bentuk “Gerakan” atau start up atau apalah. Meminjam istilah Pak Anies : untuk ngeberesin masalah bangsa ini, solusinya harus dilihat dari sudut pandang sebuah gerakan, sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa, tidak bisa hanya dipandang sebagai sebuah program.

Semoga bermanfaat!

Ref :
(1) http://www.zsjc.or.jp/
(2) http://www.mhlw.go.jp/english/policy/exchange-program/dl/en_anteikyoku.pdf
(3) http://longevity.ilcjapan.org/f_issues/0702.html
(4) http://link.springer.com/article/10.1007/s10823-005-3797-4
(5) https://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1981

Start up Rip-ba untuk Mengatasi Riba

14330092_10210328481589473_1818446840013388932_n

#belajar

Kepikiran :
– mayoritas ulama membolehkan uang hasil riba disalurkan utk kepentingan umum : dalam rangka hati2, harta riba disalurkan untuk kemaslahatan secara umum, pada orang yang butuh, fakir miskin, selain untuk masjid dan tidak boleh dimanfaatkan oleh pemilik harta riba tadi secara personal (ref 1)

– belum banyak lembaga yg memfasilitasi penyaluran uang riba (salah satunya Pesantren DS, ref 2), tapi belum ada yg mengkhususkan diri di bidang ini

– banyak orang yg mulai sadar dan ga mau ambil uang hasil riba (misal : bunga bank disisihkan, tapi bingung mau disalurkan kemana) atau uang syubhat lainnya (yg sudah kerja pasti banyak pengalaman soal transaksi2 fiktif, mel2an dsb) tapi masih belum bisa lepas sepenuhnya dari bank konvensional/sistem2 semacamnya

Ide :
– mendirikan lembaga (start up?) yg khusus menerima uang riba dan uang2 syubhat dan menyalurkannya utk kemaslahatan umum : Rip-ba!

– kesempatan : uang simalakama yg mubadzir kalau didiamkan saja tapi ga boleh dimanfaatkan >< potensi : utk disalurkan demi kemaslahatan umum

PS : Kita sepakat bahwa tujuan akhirnya tentu utk menghapus sistem2 yg menggunakan konsep riba, atau uang2 syubhat dalam kehidupan <– ikhtiar maksimal utk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ide ini hanya utk memberikan alternatif solusi bagi kita2 yg masih berproses utk bisa lepas dari sistem2 tsb

ref :
1. https://rumaysho.com/2964-bagaimana-penyaluran-harta-riba.html

2. https://rumaysho.com/1815-siap-menyalurkan-zakat-maal-di-gunung-kidul.html

Menjadi tua di atas kereta (dari) Jakarta

14322612_10210313959946441_3874496206372475205_n

Jumat malam. Saat kereta terisi dengan sosok-sosok yg kangen pulang. Tabungan rindu sepekan memenuhi gerbong kereta dari Jakarta hingga ke halaman rumah.

Alangkah baiknya safar kereta ini jadi saksi, terpanjatnya doa-doa baik dan (insya Allah) mustajab. Doa dari musafir-musafir yg penuh kepasrahan dan ketundukan pada-Nya : agar safarnya penuh berkah dan selamat sampai ke rumah. Doa dari hamba-hamba yg bekerja keras menjaga dan menafkahi keluarganya, agar senantiasa terlimpah kebaikan di dunia dan terjaga dari api neraka.

Maka beruntunglah mereka yg mengisi safarnya penuh dengan doa.

Berdoalah, keluarga menunggu di rumah 

Menjadi tua di (jog)jakarta

14238156_10210227006932670_3227353441584824394_n-2

Menjadi tua di (jog)jakarta

Tidak ada yang mengerikan tentang menjadi tua dengan kenangan masa muda yang penuh peluh, menutup kerja ketika beranjak senja, sambil menyelip macet dengan semangat : karena tahu ada keluarga yang menunggu di rumah. Keluarga yang ulur salamnya bisa menghapus lelah.

Bahkan ketika setiap pagi (harus) mendahului matahari, akrabnya kita dengan jalan tak harus jadi penyulut emosi. Semoga tiap jengkal jalan yang ditempuh, setiap putaran roda dan kayuhan pedal kelak bisa jadi saksi pemberat pahala, ketika kita niatkan bekerja untuk keluarga.

Karena mereka yang sibuk nyuruh resign dan traveling itu ga akan beliin bensin dan beras untuk kita (wkwk), maka bekerjalah dan bersyukurlah.

PS : Misaeng after effect. Bekerjalah dan bersyukurlah.

Link Customizer

14115019_10210160176861960_7428939809097493410_o

Simple trik : meng-customize url jadi lebih pendek dan gampang diingat.

Udah jamak dilakukan ketika ada kegiatan, pendaftaran pesertanya dilakukan dg formulir online, yg umum biasa dipake adalah google form atau docs. Nah, url/link yg mau dirujuk biasanya akan panjaang dan kompleks sekali, misalnya seperti ini :

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfYwFwuLHYVfVUp8t3FrNwGylXewJLKi6xasH-aaumMjB1ycg/viewform?c=0&w=1

Daan, akan kurang praktis kalau kita hanya copas link tersebut ke poster, leaflet atau publikasi lain. Padahal kalau diposter kan ga mungkin bisa diklik, dan ga ada ceritanya calon peserta mau ngetik huruf per huruf ke address bar ketika mau akses form online tsb.

Nah, salah satu triknya adalah dg meng-customize url-nya menjadi sependek mungkin dg komponen yg mudah diingat. Sebenarnya banyak sekali web yg menawarkan jasa ini : bit.do, tinyurl dsb

Saya pribadi lebih sering pakai bit.do : karena link-nya bisa customize sesuai kebutuhan dan nama kegiatan. Misalnya link di atas adalah pendaftaran Seminar Parenting bersama Ustadz Cahyadi Takariawan yg diadakan KMII Kansai dan Fahima tanggal 19 September nanti (further info bisa cek fanpage KMII di bagian komen wkwk). Maka, url pendaftarannya dicustomize jadi : bit.do/SP2016yang lebih mudah diingat, ringkas, dan mudah kalau mau dicari di address bar.

Semoga bermanfaat! 

Kelompok Studi Berbasis Research Centre

13934835_10210021525275757_6494187064788722328_n

Semoga bisa jadi bahan #belajar.

PS : bahasan-nya internal Biologi, jadi akan banyak roaming bagi yg ga familiar.

Hari ini ada perkenalan Kelompok Studi (KS) dan Lembaga ke maba, tentu lebih meriah daripada kegiatan serupa ketika saya masuk dulu. Apresiasi saya sampaikan setinggi-tingginya untuk KS dan anak2 jaman sekarang yg prestasinya sudah melanglang buana, bukan hanya domestik tapi sampai manca negara, bukan hanya presentasi poster tapi sudah taraf nulis jurnal ber-IF tinggi. Mantap!

Sempat kepikiran dan brainstorming dg beberapa rekan, bagaimana agar prestasi KS yg sekarang ini bisa di dongkrak lagi dan lebih optimal.

Coret-coretannya, keadaan (sebagian besar) KS sekarang ini:

– pendanaan dan aktivitas penelitian terbatas > akses ke sumber dana penelitian masih sebatas PKM dan program jangka pendek yg ga berkelanjutan dan fasilitas penelitian yg bisa digunakan pun sangat terbatas sekali (kalau mau buat/beli butuh biaya yg lumayan)

– terkendala soal periode organisasi > pergantian pengurus yg terlalu pendek, minim target jangka menengah dan jangka panjang

– anggota kompeten yg terbatas; lebih banyak anggota pasif

– output penelitian (jurnal, seminar, karya tulis, poster dsb) terbatas > penelitian yg dilakukan hanya jangka pendek, kurang serius follow up (analisa, olah data dan nulis manuscript), atau justru yg minat penelitian sedikit

Nah, dari keadaan2 seperti itu, ada beberapa saran yg sempat terpikir. Kenapa ga mengusulkan pengelolaan KS berbasis Research Centre :

– berada dibawah bimbingan atau supervisi dosen > grant atau usulan penelitian diajukan melalui dosen, punya roadmap atau target penelitian jangka panjang, punya akses ke fasilitas di Lab atas nama dosbing tsb, jejaring ke akademisi profesional atau institusi lebih terbuka lebar

– field dosen yg membimbing sebaiknya sesuai dg bidang studi dari KS tsb tentunya

– rekrutmen mahasiswa dibatasi (?) > masih pro kontra sih, mending rekrut sebanyak2nya baru disaring atau rekrut yg jelas mau untuk aktif saja?

– dana projek yg diajukan dan didapatkan oleh RC bisa dipakai utk peningkatan kesejahteraan (red : makan2 dan transport)

Sekedar brainstorming, semoga bisa jadi bahan diskusi dan ngobrol sambil nyiapin proposal praktikum, hehe.

Membayangkan kalau nanti akan tumbuh Entomology RC, Herpetology RC, Marine Biology RC dkk 😁💪🏼💪🏼

Papan Baca Koran

13925103_10209941590477437_6223827778066192761_n

Papan Baca Koran

Kapan terakhir baca koran dari papan baca seperti ini?

Samar-samar ingat kalau dulu di dekat rumah (atau dekat sekolah?) sempat ada papan baca koran. Waktu itu, mewah sekali rasanya bisa baca koran lumayan baru berhalaman2, bukan hanya dari sesobek koran bekas bungkus nasi yg tentu sudah tak baru lagi isi beritanya. 

Sekarang? Sudah tak ada papan baca koran di desa sepertinya, mungkin kalah dg televisi yg sudah hampir pasti ada disetiap rumah.

Foto ini saya ambil di daerah mBantul. Sempat kaget karena ia masih bertahan di tengah zaman digital seperti sekarang. Ada kesan nostalgic dan romantis, kalau membayangkan warga2 desa yg berdiri membaca larik demi larik berita di koran, dari mulai berita politik sampai kriminal atau sekedar mengikuti cerita bersambung dan kabar olahraga.

Sekarang juga masih ada sih, anak2 muda yg berdiri/jalan dan baca koran di hp, sambil cari Pokemon.