Fatwa MUI

13775505_10209764864939409_7973151320574776101_n

“Diamnya seorang alim (orang yg berilmu) ketika melihat suatu keburukan bisa dianggap sebagai pembenaran oleh si pelaku. Makanya, ketika ada yg berbuat keburukan, yg punya ilmunya perlu mengingatkan.”
– Ustad Darul Falah

Nasehat ini saya dapat ketika Ramadhan. Kemudian terpikir, bahwa banyak sekali hal2 yg kita anggap lumrah dan boleh2 saja padahal belum tahu bagaimana sudut pandang Islam ttg hal tsb. Utk yg bergelut di dunia sains, biologi seperti saya misalnya, tema2 baru seperti kloning, bayi tabung, penggunaan bahan2 biologis dari babi utk vaksin dsb itu perlu petunjuk dan arahan yg jelas dari para ‘alim, yg paham ttg aturan2 dlm Islam. Hal yg penting namun seringkali terlupakan.

Maka kemudian timbul penasaran, petunjuk dan arahan (yg biasanya dalam bentuk fatwa) tsb sudah sejauh mana dipahami oleh kita2 yg butuh ini? Sudah sejauh mana kebutuhan akan fatwa utk tema2 baru dan kekinian ini tersampaikan kepada para alim di MUI? Apakah kita yg kurang proaktif utk cari tahu ataukah ada kendala lain hingga fatwa2 yg baiknya jadi panduan ini malah kurang akrab di telinga?

Sempat menyebar survei sederhana ke beberapa grup dan akun medsos, beberapa hasilnya :

Q : Adakah yg tahu bagaimana prosedur meminta fatwa kepada MUI ttg suatu masalah?

A : Rata2 menjawab tidak tahu. Ketika googling pun agak sulit menemukan, sebenarnya bagaimana (atau apakah ada) prosedur utk kita sebagai masyarakat awam apabila ingin meminta fatwa ttg suatu masalah kepada MUI. Tapi, di web MUI dan sumber lain dijelaskan ttg “Pedoman Penetapan Fatwa MUI” yg antara lain berisi prosedur penetapan oleh Komisi Fatwa, dasar2 penetapan Fatwa dsb (1).

Q : Tahu dimana bisa membaca produk fatwa yg sudah diterbitkan Komisi Fatwa MUI?

A : Sebagian besar sudah tahu bahwa kumpulan Fatwa MUI bisa dibaca di web (2). Banyak juga yg hadir ke forum sosialiasi MUI di beberapa masjid, selebaran dari MUI, buku kumpulan fatwa dsb.

Q : Selain fatwa ttg rokok, fatwa MUI apa saja yg pernah dibaca?

A : Jawabannya bermacam2. Tapi sebagian besar sepakat bahwa Fatwa MUI lebih sering terdengar ketika sudah masuk media karena tema yg dianggap kontroversial, semisal fatwa ttg rokok, syiah dsb.

Kira2 bagaimana mengatasinya ya?

1. Sempat terpikir utk membuat sistem yg mengakomodasi usulan ummat kepada Komisi Fatwa MUI ttg hal2 yg butuh dibuatkan fatwa atasnya. Entah dimasukkan dalam web mui atau dibuat aplikasi tersendiri. Usulan ttg hal2 yg minta diterbitkan fatwa itu ditampung, dibuat peringkat urgensinya, kemudian disampaikan ke Komisi Fatwa.

2. Selama ini produk2 fatwa MUI diterbitkan dalam buku dan ternyata belum tersebar secara luas. Bagaimana kalau fatwa2 yg sudah terbit itu dikompilasi dalam aplikasi HP (mirip aplikasi halal dari MUI yg sudah banyak dipakai). Jadi ketika mau cari fatwa ttg suatu hal, bisa langsung cek dari list yg sudah dirapikan tsb. Di GooglePlay sudah ada beberapa aplikasi serupa (lih. gambar) : Fatwa Ulama, Fatwa Ulama Salaf dsb; sayangnya belum ketemu di App Store.

Sekedar ide, welcome utk diskusi atau monggo kalau ada yg bersedia utk eksekusi.

Ref :
1. https://jacksite.files.wordpress.com/2007/08/pedoman-penetapan-fatwa-majelis-ulama-indonesia.pdf

2. http://mui.or.id/produk-mui/fatwa-mui/fatwa-komisi-fatwa-mui

Omotenashi di Nurul Ashri

13103476_10209192291265425_5144784652696797281_n

Omotenashi di Nurul Ashri

Bagi yg tinggal atau belajar di sekitaran UGM/UNY, tentu akan familiar dg Masjid Nurul Ashri Deresan. Bagi saya pribadi, Nurash sangat berkesan karena masjid ini adalah masjid terdekat dari kontrakan pertama ketika datang ke Jogja 9 tahun silam. Dahulu, ingatan ttg Nurash hanya terbatas pada: masjid yg ada ikannya gede2 itu.

Sekarang, masya Allah, sudah luar biasa sekali perkembangannya. Kajian-kajian rutin utk anak2 hingga dewasa, umum hingga khusus muslimah; Kampung Quran tiap Ramadhan; Rumah Tahfidz yg menjamur pesat di sekitar masjid; hingga kualitas pelayanan terhadap jamaah dan bangunan fisik yg bertambah oke.

Terkait pelayanan terhadap jamaah, teringat sebuah konsep menarik dari orang Jepang, ttg omotenashi. Secara singkat, omotenashi berarti hospitality (keramahtamahan), namun secara lebih lengkap ia bisa diartikan sbg kesungguhan tuan rumah utk sepenuh hati menyambut dan melayani kebutuhan tamu. Sebagian kecil contoh omotenashi yg bisa ditemui di Nurul Ashri adalah soal kamar mandi/tempat wudhu khusus utk orang tua dan jalur khusus utk pengguna kursi roda. Kamar mandi dan tempat wudhu Nurash terletak di lantai bawah, agak curam utk beliau2 yg sudah sepuh. Dari sini, saya sungguh terkesan dg kebaikan pengurus utk menyediakan kamar mandi khusus orang tua di lantai 1 agar beliau2 tidak perlu bersusah payah. Kemudian ttg jalur khusus kursi roda, berapa banyak masjid atau tempat ibadah yg sudah difasilitasi dg jalur ini? Mungkin hanya bisa dihitung jari (salah satunya di UAD kalau ga salah). Oleh karenanya, menemukan omotenashi di Nurul Ashri ini menjadi kesan tersendiri. Semoga kualitas pelayanan terhadap jamaah seramah ini bisa menjadi contoh bagi pengelolaan masjid2 di masa yg akan datang. Masjid yg ramah utk semua orang.

#pulang

12417751_10208935356322212_941942117331894918_n

Alkisah di kota para pe(mbe)lajar, tiap malamnya dihidupkan dg lampu-lampu dan berderet lentera, yg nyalanya seakan-akan menyegerakan datangnya siang. Perpustakaan dan ruang tengah di setiap rumah dipenuhi oleh mereka-mereka yg haus akan ilmu atau sedang dikejar tunggakan belajar utk ujian esok hari. Maka diwaktu-waktu seperti ini, ucapan yg berlalu lalang bukan sekedar ‘good luck’ atau ‘semangat’, tapi terhimpun menjadi doa : selamat menunaikan ibadah ujian ya!

Asrama pelajar berderet bersusun selalu ramai, bersebelahan dg angkringan dan burjo 24 jam yg selalu siap menyediakan bahan bakar: nasi kucing yg bersahaja, sate tusuk, mie goreng komplit, dan kopi panas mengepul. Dari berbagai sudut terdengar bisik dan samar-samar diskusi yg diselingi setengah canda. Ketika didengarkan dg seksama, ada ketukan tuts gawai yg sedang diakrabi oleh empunya, suara halaman buku yg dibalik saling bersautan, deritan pensil yg diraut dan kopi yg diseduh berkali-kali hingga ampas hitamnya semakin meninggi di dasar gelas. Di lantai dan sekitar tikar, ada kertas dan modul-modul bertebaran, coretan hafalan dan esai yg masih hangat mengepul dari kepala, atau alat tulis yg tersebar entah punya siapa. Semuanya menyalakan malam, membangunkan kota para pe(mbe)lajar agar betah berlama-lama menderas ilmu.

Hingga di sela-selanya, ketika kafein terlalu lelah utk menahan kelopak mata, satu-dua mulai terdiam dan mendengkur perlahan. Terduduk di kursi, lengan setengah enggan menopang kepala yg terasa berat, hingga ada yg sudah terbawa mimpi dan nyaman meringkuk di bawah meja. Namun satu benang merah yg mengikat mereka semua: ada kelegaan yg terlukis jelas tersisip di antara muka-muka lelah penahan kantuk, bersyukur masih bisa mereguk nikmatnya belajar hingga kelelahan. Mengamalkan nasehat agung yg sudah mengalir mendarah daging dan dilisankan oleh guru-guru di kota ini:

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Jika tak tahan lelahnya belajar, engkau akan menanggung perihnya kebodohan.

– Imam Syafi’i

Di kota ini; di kota yg konon terbuat dari rindu, pulang, dan ilmu; bahkan kucing pun tak mau kalah, terlelap setelah puas belajar. Semangat belajar yg menular dan melimpahnya majelis ilmu inilah yg membuat kota ini selalu ngangeni.

tadaima 🙂