TPA naisters

12346494_10207935041194959_781651573825947689_n

TPA naisters.

Romo Dedi hari ini berkisah tentang Ashabul Kahfi. Romo berperan sebagai Raja Dholim yg mengancam akan membunuh adik-adik Ashabul Kahfi kalau mereka tidak mau menyembah berhala. Hingga akhirnya, mereka berlindung ke bawah meja (baca : ke dalam gua).

“Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”.
[Al Kahf : 13]

Semoga Allah senantiasa menambahkan hidayah dan petunjuk-Nya utk adik-adik TPA naisters (^-^)

Belajar soal ekiben

12208659_10207723885316194_6324903739579863814_n

#belajar

Ekiben (駅弁)

Istilah umum dari bentou yg dijual di kereta/stasiun kereta di Jepang. Bukan hanya kotak bekal utk ngisi perut biasa, biasanya menu ekiben disesuaikan dengan keunggulan daerahnya masing2. Jadi semacam jendela, kuliner khas apa yg ada di daerah itu. Ekiben juga jadi semacam alat promosi kekayaan kuliner daerah dan daya tarik tersendiri untuk turis2 agar mau datang. Penampakan dan pengemasannya juga ga setengah-setengah, cantik banget. Sampai kadang merasa sayang kalau mau dimakan.

Contohnya : Ekiben kanizushi (yg ada gambar kepitingnya, gambar dari google), merupakan kuliner khas daerah kanazawa yg ada dipinggir laut (bisa dibeli kalau naik Shinkansen Hokuriku Honsen line). Atau kaki no ha sushi, sushi yg dibungkus daun persimmon (kesemek), salah satu ekiben khas dari Kyoto Station (sepertinya ada juga di Nara Station). Ada juga Meibutsu Yakihama Don dari Chiba yg dikemas dalam bentuk kerang (gambar cari di google ya, hehe).

Biasanya ekiben hanya dijual di stasiun2 yg melayani rute jarak jauh (termasuk rute shinkansen). Jadi stasiun kecil semacam ikoma ga memenuhi kriteria ini, hehe.

Nah!

Denger2 baca2, sekarang penjual makanan di stasiun udah dilarang ya di Indonesia? Jadi kalau laper waktu naik kereta gimana? Akhirnya beli roti M*ryam atau mampir ke I*domaret?

Sepertinya ini bisa jadi peluang. Jualan bentou/bekal di kereta/stasiun kereta dg menonjolkan menu kuliner daerahnya. Misal : Bentou dg menu inti telur asin di Stasiun Brebes, kemasannya dibentuk seperti telur asin. Atau bentou isi gudeg yang khusus dijual di Stasiun Tugu Jogja, bentou isi Nasi Jamblang di Stasiun Cirebon dan sebagainya.

Bisa jadi promosi kuliner daerah. Bisa memberdayakan orang2 lokal yg tadinya jualan disekitar stasiun diminta bantu2 utk masak. Bisa nambah daya tarik buat wisatawan.

Yang lagi ada di Jepang dan sering jalan2, bisa lho buat buku tentang ekiben di daerah yg pernah dikunjungi, sambil nanti cerita2 soal kekayaan kuliner daerah tersebut. Lumayan, sepertinya bakal laku kalau dipasarkan di Indonesia.

Bajakan

11666273_10207717997128993_3137026401575756277_n

#belajar

Di Jepang, bisnis rental/jual beli CD/DVD ternyata masih hidup dan segar bugar, meskipun di negara-negara lain biasanya udah kalah tenggelam sama popularitas musik/film yang dibeli/pinjam via online. Salah satu temen Lab bahkan rutin tiap pekan ke tempat rental/jual beli film/musik semacam GEO atau Tsutaya. Ketika ditanya alasannya kenapa di sini CD masih populer, dia bilang mungkin karena orang-orang disini masih suka sama kepuasan buat mengkoleksi barang.

Dibandingin dengan film/musik yang dibeli via online, katanya “ga ada rasanya” dan ga bisa dituker-pinjem sama orang lain. Dia juga bilang kalau biasanya CD yang dijual disini ada bonus plus-plusnya, semisal : limited edition poster, tanda tangan artis atau bahkan konser tiket artisnya.

Dan di sini jarang sekali yang pake produk bajakan (!!), minimal malu kalau ketahuan sama orang lain.

Temen2 di kampus anti banget sama produk bajakan; entah itu musik, film, komik apalagi perangkat lunak. Bahkan ada yang sampai anti nonton video di youtube kalau bukan versi official release. Strict ya. Kalau ketahuan curi-curi baca komik atau nonton drama online, bisa kena marah sama orang sini, haha, minimal di pliriki.

Menu halal di kampus

11070080_10205975620170658_8527030808518488841_n

Alhamdulillah berkesempatan utk mencicipi menu halal (karaage!) di kantin todai, ternyata cukup banyak menu halal yg tersedia di kampus.

Di NAIST pun, atas permintaan rekan2 muslim di sini, beberapa pekan yg lalu pihak kampus menginisiasi dialog ttg kemungkinan menyediakan produk2 halal di minimarket kampus.

Sekarang msh sampai tahap pengadaan produk siap konsumsi di minimarket, semoga pihak kantin juga bisa mempertimbangkan utk menyajikan makanan halal di menu kantin.

***

Upaya pengadaan makanan halal di kantin todai ternyata lumayan panjang.

Seperti dikutip dari website todaimuslim :

“Adanya menu halal ini diinisiasi oleh TUICS ( Tokyo University Islamic Culture Society) di tahun 2007. Pengurus TUICS saat itu secara aktif meminta International Center untuk mengatur adanya makanan halal di kantin Todai. Tahun 2007/2008, TUICS dan COOP (pihak pengelola kantin) akhirnya berkesempatan untuk berdiskusi tentang penyedian menu Halal. President TUICS saat itu, memberikan penjelasan mengenai makanan Halal dan mengadakan penyebaran poster-poster sebagai infomasi bagi warga Todai.

Pada tahun 2009, terdapat perubahan yang cukup signifikan pada menu di kantin COOP, yang dilanjutkan dengan adanya beberapa kali food testing pada tahun 2010. Menu-menu yang sekarang ada di kantin COOP sebagian besar diputuskan pada periode ini.

Prosedur menambahkan menu Halal di kantin Todai :

– Mengumpulkan pendapat beberapa warga muslim Todai dan menanyakan ada berapa orang yang tertarik dengan menu tersebut, setidaknya 10 orang (agar pihak kantin dapat menilai apakah pengadaan menu halal ini memungkinkan secara perhitungan financial

– Menemui manajer tiap kantin untuk mengutarakan maksud. Tiap kantin COOP memiliki manajernya masing-masing sehingga dapat memiliki kebijakan yang berbeda.

– Menjelaskan tentang yang halal dan haram, bahwa proses memasak tidak dapat dicampur, daging harus halal, tidak mengandung alcohol, dll

– Melakukan survey di dapur untuk melihat kehalalan bahan baku, cara memasak, maupun alat masak.

– Manajer kantin akan mempertimbangkan ekonomis tidaknya pengadaan menu halal ini serta memungkinkan atau tidaknya pengadaan bahan yang diperlukan serta proses memasaknya. Hal ini terkadang karena ada bahan-bahan yang di luar control mereka selaku manager ataupun adanya kesulitan dalam menyiapkan makanan khususnya saat rush hour.

Nah, apabila manajer sudah menyetujui, tak lama kemudian manajer dapat mengadakan Food Testing. Jika semua berjalan dengan lancar maka menu dapat segera disajikan di kantin COOP tersebut.”

***

Bisa ngecek juga ke website-nya coop (semacam pengelola kantin kampus), ada sampel menu2 halal dan univ2 di jepang yg sudah menyediakan menu halal di kantinnya.

http://www.univcoop.or.jp/service/food/halal.html

Semoga naist segera menyusul!

Email formal

10933758_10205540799180405_3944985595446195836_n

#belajar

Pertama kali tahu soal email, dulu pas sma, di ajarin untuk buat email di yahoo, masih dg nama akun yang (agak) alay. Beranjak masuk kuliah, dikasih tahu kalau untuk urusan formal, sebaiknya jangan pakai email alay, kalau bisa buat akun email yg agak resmi, misalnya : namadepan.namabelakang [at] gugeldotcom. Dengan begitu, kalau kirimnya pakai akun yg formal, kesan pertama pas kirim email, si penerima ga akan mengerutkan dahi dan malah nganggap itu sbg spam (karena namanya alay). Sampai kuliah tahun ketiga, utk urusan2 penting akhirnya lebih sering pakai email yg formal, sementara email alay dipakai utk daftar socmed dan urusan remeh temeh lainnya.

Nah, tahun terakhir ketika mau lulus, ternyata baru tahu kalau ugm menyediakan servis buat akun email dg domain ugm. Salah seorang kakak kelas ngasih saran, sebaiknya kalau kirim email buat cari beasiswa atau kerja, lebih baik pakai email ugm aja, biar kesannya lebih resmi karena ada nama institusinya, jadi minimal bisa ngasih kesan pertama yg oke ke calon sensei. Akhirnya bikin email resmi pakai domain ugm, sekalian buat password kalau ngenet di gedung pusat dulu, hahah.

Di kampus yg sekarang sistemnya lebih tertata. Setiap mahasiswa baru langsung dibuatkan email oleh kampus, dg domain nama kampus, dan nama akun yg biasanya di ambil dari nama belakang/nama depan si mahasiswa.

Sepertinya oke juga kalau system ini di adopsi di ugm, jadi setiap maba yg masuk diminta buat (atau di buatin) akun email resmi dari ugm. Kalau kampus belum bisa mewadahi, panitia ospeknya aja inisiatif buat ngedaftarin rame-rame maba-nya.

Beberapa manfaat praktisnya :

– Email semua mahasiswa terdaftar di kampus, jadinya lebih mudah kalau mau komunikasi. Submit tugas atau komunikasi ke dosen juga sudah lumrah lewat akun email ini

– Pengumuman ttg even di kampus/kuliah umum/beasiswa/lowongan kerja/career guidance/perubahan jadwal kuliah/pengumuman jadwal tes akhir atau toeic/jadwal progress meeting di lab dan semua pengumuman internal biasanya di broadcast lewat email ini. Pengumuman fisik masih ditempel sih, tapi mahasiswa di sini udah terbiasa utk ngecek email buat memastikan kalau ada info baru/perubahan jadwal kuliah daripada harus nengok papan pengumuman. Kalau dicermati, web kampus sini pun hanya focus mengabarkan soal kegiatan di kampus, paper yg baru dipublish sama sensei2 atau kabar2 kampus lain, ga ada soal beasiswa/lowongan kerja dan info2 lain yg sebenarnya cuman utk konsumsi internal.

– Kalau korespondensi dg pihak/lab/institusi lain, jadi kerasa lebih formal dan resmi, karena pakai akun email dari kampus. Temen di sini pernah gugling soal ugm, buka2 beberapa fakultas, mau cari topik penelitian yg oke di ugm dan sempet tanya kok beberapa dosennya masih pake email yahoo atau gmail. Bingung jawabnya, hehe.

Mie instan di Jepang

1911785_10205061822366284_5959375343839436999_n

#belajar

Ternyata di belahan bumi manapun yg namanya mahasiswa pasti berjodoh dg mie instan. Kalau di Jogja ada burjo yg siap 24 jam, maka mahasiswa di sini juga sama-sama suka cup ramen, istilah keren dari mie instan.

Meskipun sebagian besar (kalau bukan semua) varian cup ramen disini ga bisa dimakan karena alasan kandungan zat di dalamnya, tapi minimal ada banyak yg bisa jadi bahan belajar, atau jadi ide bisnis buat yg mau mengembangkan.

Kalau mie instan di Indonesia, standarnya dibungkus plastik (kecuali popmie) dg bumbu yg dikemas terpisah. Pas di kosan dulu, karena ga punya kompor, masaknya cuma pakai air panas. Akhirnya malas dan milih utk pergi ke burjo meski harus bayar lebih. Mie instan yg kurang instan kalau kata temen. Belum lagi masalah kemasan bumbu yg susah dibuka.

Nah, sekedar mau share beberapa keunggulan cup ramen yg bisa di adopsi (kalau mau) :

– Cup ramen di sini dikemas dalam bungkus mangkuk sterofoam. Kalau mau nyeduh, tinggal buka kemasan atasnya, tuang bumbu dan air panas. Tunggu tiga sampai lima menit langsung jadi. Setelah selesai ga perlu nyuci wajan atau piring, bisa langsung buang. Porsinya juga bisa di pilih : mini size (biasanya buat mbak-mbak), biasa (porsi sedang, cukup kenyang) dan jumbo (pas buat mahasiswa). Sumpit bisa minta waktu beli di toko.

Kalau misalnya buat produk kek gini di Jogja, tagline-nya jelas : mie instan yg sebenar-benarnya!

Atau sejenis itulah. Tinggal gimana nunjukin bahwa produk ini bisa langsung makan, tinggal tuang langsung jadi, dan porsinya ga nanggung kek popmie.

Note : Soal sampah sterofoam memang perlu di pikirkan sih, belum dapat solusi yg terbaik soal ini.

– Tentang topping.

Sudah jadi rahasia umum kalau bungkus mie instan adalah salah satu inisiator PHP. Yg dibungkus sama sekali beda dg yg ada di dalam.

Nah, cup ramen di sini biasanya lebih jujur. Misalnya dibungkusnya ada gambar tahu, maka di dalamnya beneran ada tahu semi kering yg akan mengembang kalau di rendam air panas. Ada juga cup ramen dg topping tempura, daging dkk. Mereka jujur sama pelanggan.

Kurang tahu kenapa mie instan belum mengadopsi cara seperti ini. Hingga satu-satunya jodoh mie instan di burjo ya cuma telur atau sepotong sayur.

0.02

10710964_10205055233241560_4008095523168642108_n

#belajar

こつこつ努力すればやがて大きな力になります。逆に、少しサボれば、やがて力はなくなります。

Nemu pelajaran baru di Quora, tentang aturan 1.01 dan 0.99. Ketika ngobrol sama temen di sini, ternyata di sekolahnya dulu ia diajarkan hal serupa sama gurunya.

Hikmahnya seperti ini :

Hasil 1.01 pangkat 365 = 37.8 sedangkan hasil 0.99 pangkat 365 = 0.03 (sudah di cek dg kalkulator gugel). Kalau 365 kita ibaratkan sebagai jumlah hari dalam setahun, maka perbedaan 0.02 usaha yg kita lakukan tiap hari ternyata bisa menghasilkan beda yg lumayan jauh 37.8-0.03 = 37.5.

Beda orang yg mau going extra miles melebihkan usaha-nya 0.02 tiap hari dengan kita yg merasa cukup dg 0.99-nya ternyata bisa menjadi faktor penentu yg lumayan gede.

PS : kalau ada pertanyaan, kok ga dikali tapi dipangkat 365 jar? Saya akan jawab : ga tahu :p

Saya mah prinsipnya, kalau ada nasehat baik jalanin aja, kalau kita ngeyel, itu cuman bakal jadi pembenaran utk ga bisa move on ke jalan yg benar, hahah.