Prayer room baru di Namba

10624670_10204808853322216_5797871411362359506_n

Nyobain prayer room baru di Namba City, letaknya ada di main building 1st basement.

Ruangannya terpisah untuk pria/wanita, tapi dibatasi maksimal 5 orang pria dan 3 wanita dalam sekali waktu.

Sebelum make perlu minta izin dulu ke information centre (letaknya di sebelah kanan pintu masuk prayer room) dan kita bakal dikasih pass card (kanan bawah) yg ngasih tahu bahwa kita cuma boleh pakai selama 30 menit. Setelah selesai kartunya dibalikin lagi ke Info Centre. Tempat wudhunya ada satu dan Insya Allah cukup nyaman.

Alhamdulillah nambah kemudahan lagi buat sholat kalau lagi belanja-belanji di sekitar Osaka

Info lebih lanjut bisa cek :

https://www.jnto.go.jp/eng/topics/2014/pdf/20140731_nankai.pdf

Cycling around Kyoto

10632890_10204537231171832_7372783629046165623_n

Cycling around Kyoto!!

Menemani tamu agung mas Yogi Sidik yg sedang mampir ke sini.

Bicycles can be rented from Kyoto Cycling Tour Project (KCTP). Open from 9.00-19.00, can be found in several places around Kyoto.

The north part is quite hilly but not so hard, the south part goes down and gives you chances to speed up!

Enjoyed temple hopping tour today!

Disaster Early Warning System

10444511_10204321958750156_5675677119494093731_n

Hari ini dapat dua warning di HP tentang landslide yg terjadi di Osaka dan sekitarnya, karena lokasi kejadian lumayan deket dari Ikoma, sepertinya semua yg berdomisili di sekitar kampus dapat peringatan ini. Kemungkinan landslidenya di sebabkan hujan dan angin yg dibawa typhoon no 11 malam ini.

Sempat kepikiran ttg bagaimana sistem peringatan dini bencana alam di Indonesia. Setelah google beberapa saat, ternyata kita punya sistem peringatan dari BMG yg bisa di akses dan disebarluarkan lewat HP/Email/Web/Fax dan berbagai perangkat lain.

Salah satunya adalah Inatews (Indonesia Tsunami Early Warning System) yg meliputi pemberian peringatan dini untuk gempa dan tsunami. Salah satu layanan yg disediakan adalah moda diseminasi (penyebaran) info melalui SMS baik Push Service (gratis, user yg menginginkan info dapat mendaftar ke BMKG) dan Auto Response Service (berbayar, menyediakan info ttg gempa/cuaca/iklim/kualitas udara sesuai permintaan user, sesuai kode registrasi info yg diminta mirip sms info reg spasi artis itu). Ada juga layanan info melalui email dan perangkat lain. Sayangnya, berdasarkan data tahun 2012, baru 7000 orang yg tercatat menggunakan layanan ini.

Untuk info diseminasi lewat SMS lebih lengkap bisa di baca di tautan berikut : https://inatews.bmkg.go.id/new/layanan_sms.php

Kemudian bagaimana dg sistem peringatan untuk bencana yg lain, semisal banjir/tanah longsor/kebakaran dsb? Kalau bertanya ke google sensei dengan keyword “aplikasi peringatan dini bencana”, ternyata berbagai jenis aplikasi yg menangani berbagai jenis bencana sudah pernah diteliti oleh berbagai pihak. Dari hasil pencarian saya misalnya : sistem peringatan dini banjir di Sungai Code di repository amikom, teknologi peringatan bencana ke masyarakat di jurnal lipi, penelitian ttg peringatan meluapnya air sungai di jurnal undip dan masih banyak lagi. PKM Pengembangan Teknologi juga saya yakin sudah banyak yg menyentuh ttg topik ini.

Klise mungkin ya, aplikasi penelitiannya masih terkendala oleh berbagai hal. Diskusi ttg solusi bagaimana menerapkan penelitian yg digawangi perguruan tinggi dan research centre juga sudah sering dilakukan, ternyata memang masih belum bisa optimal.

Bahkan Kementrian Kominfo juga pernah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Jepang ttg aplikasi peringatan dini tsunami dan gempa, di ujicobakan di Padang tahun 2013.

Link : http://microsite.metrotvnews.com/indonesiamemilih/video/2013/05/01/413/176505/Indonesia-Jepang-Terapkan-Protokol-Peringatan-Dini-Bencana-Alam

***

Salah satu yg sempat terbayang ttg aplikasi peringatan dini bencana ini, misalnya :

– dg asumsi sudah banyak yg bisa akses internet, maka aplikasi ini tinggal di download, baik utk android/iOS

– kerjasama dg BMKG sebagai pusat info bencana, setiap info bencana yg masuk akan di teruskan ke aplikasi yg dipegang user

– bencana yg terjadi di sekitar user berada akan otomatis di infokan melalui aplikasi atau pesan singkat

– dilengkapi dg nomor darurat yg bisa dihubungi utk bencana terkait

Penerapan aplikasi peringatan dini ini sangat bermanfaat menurut saya, beberapa di antaranya : sebagai upaya pencegahan, residen disekitar area yg mungkin terimbas bencana bisa bersiap-siap, distribusi bantuan dan koordinasi relawan bisa lebih cepat dsb.

Teman-teman yg ada ilmu soal ini atau ada relasi ke bidang terkait, mungkin bisa dikembangkan?

Pahalanya akan sangat lumayan sekali, mengalir terus!

***

Untuk yg disekitar kampus : sesuai peringatan di email kemarin, bersiap-siap untuk kedatangan angin dan hujan besar, barang kecil dan ringan sebaiknya dimasukkan ke dalam rumah, adek-adek juga dihimbau maen di dalam saja, mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau mau ngecek soal arah typhoon dan prediksi cuaca bisa mengandalkan yahoo, tinggal lihat gambar typhoon di halaman depan, bisa langsung di klik, insya Allah cukup informatif!

Omiyage : oleh-oleh

10505349_10204279136599629_4289196214867983637_n

#belajar

Sempat membandingkan oleh-oleh dari beberapa tempat yg berbeda? Bukan hanya ttg rasa dan keunikannya, tapi juga ttg bentuk produk itu sendiri.

Ternyata banyak ilmu yg bisa di pelajari, salah satunya ttg pengemasan produk, yg tentunya berpengaruh dg preferensi pembeli.

Tiga gambar di panel atas adalah oleh-oleh dari Jepang. Tipikal oleh-oleh Jepang biasanya di kemas terpisah-pisah, bukan bongkokan kalau kata orang jawa. Panel kanan atas misalnya, kue kering mirip donat di kemas terpisah dalam kemasan kecil-kecil; di sertai dg buku/pamflet kecil di dalam kotak oleh2 yg biasanya berisi penjelasan ttg daerah asal oleh2, bahan2, nilai unggulnya, atau proses pemanenan dan perawatan (utk buah atau sayur), serta kontak customer servis (biasanya berbentuk kartu pos bebas perangko yg bisa di kirim langsung ke pabrik utk kritik dan saran).

Dua panel di atas (kiri dan tengah) memperjelas ttg nilai tambah dari kreativitas pengemasan suatu produk. Panel kiri atas adalah kerupuk udang biasa, namun di kemas dalam bungkus berbentuk uang yen. Sementara panel tengah atas cuma dua permen coklat biasa, namun tidak hanya di masukin toples makbreg, tapi dibungkus satu2 dg kemasan sedemikian hingga jadi seperti boneka hello kitty.

Dua panel di bawah mungkin sudah familiar, bakpia jogja dan kripik tempe. Dikemas biasa saja, bakpia di susun di dalam boks, tempe di bungkus plastik dg label nama perusahaan. Kalau utk konsumsi di rumah mungkin tidak apa-apa, tapi kemarin baru sadar ketika bakpia ditaruh di koper untuk penerbangan, ketika dibuka, remah-remahnya berserakan dan bentuknya jadi kurang cakep. Keripik tempe pun demikian, karena dibungkus plastik (bukan boks) jadi lebih mudak remuk.

Sebagai pembanding, kue mirip bakpia di jepang (mochi misalnya) yg khusus utk oleh2 jarak jauh biasanya dibungkus satu2 dengan kemasan berisi silika utk menyerap uap air. Begitu juga dg berbagai jenis senbei/kerupuk yg ada di sini, biasanya dikemas dalam kemasan2 terpisah, dengan kemasan luar berupa boks yg tahan tekanan agar tidak remuk.

Oleh2 seharusnya bisa jadi nilai jual dan promosi daerah, oleh karenanya pengemasannya pun seharusnya dibuat lebih menarik. Temen2 yg bergerak dibidang pariwisata mungkin lebih tahu soal ini. Tapi bahkan temen di lab pun sempat komentar, bahwa pengemasan oleh2 dari Jogja dan di sini ternyata berbeda. Rasanya (kemarin dia bahas ttg bakpia) ga kalah kok, cuman di faktor pengemasan mungkin bisa dipercantik lagi.

Kalau ga salah ada cabang ilmu sendiri ttg pengemasan dan pemasaran produk ini ya? Dulu pernah ngobrol sama temen juga soal ini. Atau ada yg berminat mendirikan perusahaan konsultan spesialis pengemasan produk? Kliennya adalah perusahaan pembuat oleh-oleh, tugasnya memberikan saran ttg pengemasan yg menarik dan bisa meningkatkan kualitas produk. PKMK keknya bisa dicoba juga?

Kapan pulang?

10526069_10204197270953039_6230995856921443014_n

Kapan pulang?

Mari sini duduk denganku, kita bisa bicara sambil jalan berdua, menyusuri setapak yg dulu setiap sore menjadi jalur rutin kita menuju tanah lapang di belakang sekolah. Kita berjalan, sambil sesekali bertegur sapa dengan tetangga di sekitar rumah. Sudah berapa lama kau tak pulang? Hingga kadang kita berdua sama-sama tersipu, malu karena sudah tak ingat lagi nama-nama mereka. Mereka yg dulu detail rumahnya kita hafal keluar kepala, selalu jadi andalan untuk petak umpet, tempat bersembunyi terbaik, dari dapur hingga ruang televisi. Rumah-rumah itu sampai sekarang pun masih sama. Bata merah tak penuh, retak di beberapa bagian; menempel beberapa kutipan ayat Alquran di dindingnya, robek di beberapa tempat. Meski pemerintah berubah dan zaman berjalan, rumah-rumah itu tetap bertahan, seakan waktu berhenti di sana.

Kita eja kembali rasanya bertelanjang kaki, kebiasaan yg dulu kita jalani setiap hari. Masih ingat rasanya berlari bebas di antara pematang, melompat di antara batu-batu sungai, mencuci kaki yg penuh lumpur di pancuran dekat masjid, atau berjingkat nyeri ketika berlari di atas jalan kerikil yg masih belum rata? Tanggalkan sepatumu dan rasakan lagi bagaimana syaraf di kedua telapakmu hidup sekali lagi, memanggil kembali berbagai ingatan ttg masa kecil kita yg penuh makna. Gulung lengan baju dan celanamu, kita bantu ibu yg sedang khusyuk memanen padi satu-satu, bapak yg sedang menyayat jerami dan menumpuknya jadi tinggi. Hingga kita sadar, keriput dan bekas luka kecil-kecil ditangan mereka itu bukan hanya guratan tanda dimakan usia, tapi juga bermakna kerja keras. Tangan-tangan itu pula yg menengadah disetiap sepertiga malam terakhir; beruntai doa terlantun ke langit untukmu, untukku, untuk rumah kita. Kapan terakhir kali kau cium tangannya, menunduk dalam dan diusap kepalanya sambil didoakan?

Kapan pulang?

Masih ingatkah caranya mengeja bahasa ibu kita? Bukan bahasa Indonesia yg kita hafal diluar kepala, bukan juga bahasa asing yg sering keluar terselip tanpa sengaja ketika ngobrol berdua.

Bahasa ibu-lah yg mengajarkan kita bagaimana menikmati masa kecil beramai-ramai berpeluh menarik benang layang-layang saat musim panen, yg kadang menjadi sebab kita bertengkar dengan teman kampung sebelah ketika kalah bermain kelereng.

Apa kabar ia, mereka, teman-teman sebaya kita itu? Masih sajakah, ketika pulang, kita bingung memulai obrolan dengan mereka yg notabene dulu besar bersama? Karena ternyata merawat obrolan dengan teman sebaya itu lebih sulit, ia butuh porsi perasaan yg lebih besar. Betapa tak mudahnya, kekata kita yang menyala di sosial media, orasi-orasi yg konon menusuk hati, narasi-narasi tajam dalam paragraf artikel yg baru terbit itu, ternyata tak banyak membantu. Kenapa, mungkin karena deretan huruf itu tak ada nyawanya, tak ada manusia yg kita ajak bicara dan perhatikan raut mukanya. Karena dalam setiap usaha kita merawat obrolan dengan teman sebaya yg lama tak jumpa, dengan ejaan bahasa ibu kita yg mulai patah-patah itu; disana ada semangat untuk mencoba melunakkan lagi diksi kita, meniupkan nafas empati dalam setiap spasi dan titiknya, bukan hanya huruf dan kekata yg tertulis dilayar dan tak ada rasanya. Tak perlu sibuk belajar semalam suntuk mempersiapkan tema, karena obrolan seperti ini hanya perlu mengalir begitu saja, tentang lapangan di belakang sekolah yg sudah berubah jadi pabrik plastik, tentang calon juara piala dunia, tentang siapa yg akan dipilih ketika pemilu besok, hingga tentang bagaimana melihat Indonesia sebagai rumah kita.

Sini duduk denganku, karena kita perlu belajar, sama-sama diam sejenak dan mendengarkan, menekan ego dan menyimak dengan seksama, tentang bagaimana melihat rumah kita sekarang. Bukan hanya tentang Indonesia yg kita dapat dari media, tentang kabar kondisi rumah kita yg sangat bising berlalu lalang di sosial media. Kita coba diam dan dengarkan, dari mereka yg sehari-harinya tumbuh bersama Indonesia, dalam setiap lelah menarik bajak di sawah yg mulai surut airnya, dalam setiap peluh pengayuh sepeda yg membawa sayur dari kebun ke pasar, dalam setiap tegukan kopi pahit yg habis di angkringan. Kita dengarkan pelan-pelan apa yg ada di sekitar kita, karena kadang bisingnya sosial media membuat telinga serta hati kita menjadi kebas dan mati rasa. Hingga kita sibuk merasa berbuat baik di depan layar namun lupa menyapa tetangga.

Kapan pulang?

Apa yg terlintas ketika ikut berjejal di pasar; membaui berbagai aroma yg memenuhi hidung, menyeksamai bagaimana setiap rupiah begitu berharga dan ditawar habis-habisan. Apa yg terasa ketika ikut berdiri menunggu antrian naik bus di terminal; berebut dengan semua orang, terbatuk karena setiap kendaraan berkalung asap dan debu, berdiri hingga tujuan. Apa yg terpikir ketika tahu mereka yg seusia dengan adik-adik kita justru sibuk bekerja; menunggu iba di bawah jembatan, memetik gitar kecil bersuara sumbang di atas angkutan, menjadi buruh angkut di pasar kecamatan. Pengalaman ini, sangat menggoda untuk dikomentari, untuk dikeluhi, untuk jadi alasan agar tak pernah pulang lagi. Tapi coba tahan sebentar, diam dan mari belajar banyak-banyak, lihat baik-baik dan kita tahan sejenak untuk tak berkomentar. Hingga setelah duapuluhempat jam usai, keluhan-keluhan itu berbuah rasa sedih, karena kita belum bisa berbuat apa-apa; atau malah berbuah kemarahan, dan mulai menyalahkan banyak orang. Ini bukan kebanggaan, maka berbagi di sosial media sambil nyinyir itu tak akan merubah apa-apa. Satir pun tak akan membantu merubah apapun. Inilah kehidupan, yg tak akan berubah dengan like dan retweet saja. Maka riuh di sosial media itu tak pernah cukup, karena hanya kerja nyata yg bisa bicara.

Maka sekali-kali pulanglah ke rumah. Matikan komputermu dan sapalah mereka. Karena sesungguhnya masih banyak yg bisa kita perbuat untuk mereka.

Mari pulang, ibu kita sudah menunggu. Ada sepiring cah kangkung yg dipetik dari sungai sebelah rumah, semangkuk ikan asin yg baru saja diangkat dari penggorengan, sebakul nasi hangat hasil panen tahun ini dan tentu sambal kesukaannmu yg sudah menunggu. Mari pulang, kita duduk dan makan bersama, merasakan lagi hangatnya berbincang dan bersendau gurau bersama. Ketika semua piring sudah tandas, kita cium tangan ibu kita, bertebaran di bumi dan mulai bekerja.

Jadi, kapan pulang?

Ket : hak cipta foto milik Herman Damar.

Distraction

10487464_10203962272478224_8423767773282067248_n-2

For every action towards graduation there is an equal and opposite distraction.

Nemu tulisan dan gambar ini, ingat pas pertama kali dikenalkan dengan versi alternatif dari Hukum Newton ini, di ingatkan lagi kalau ga boleh elek-elekan selama di sini.

Ingat bahwa (sebenarnya) fb juga masuk ke dalam himpunan opposite distraction T.T

***

Gimana rasanya bang, tanya saya suatu saat ke salah seorang kakak angkatan yang baru selesai di dadar waktu itu.

Hmm, jawabnya sambil senyum-senyum.

Jadi mahasiswa itu ibarat hidup mewah ya jar, lanjutnya. Waktu buat aktualisasi diri banyak banget tersedia, mau belajar organisasi tinggal milih, toh ada segudang, dari yg ngomongin politik sampai hobi; mau dapet prestasi tinggal ikut lomba, dari yg seni sampai yg ngerjain soal atau buat robot; mau terjun ke masyarakat, udah di fasilitasi lewat KKN atau bisa ikut aksi sosial; mau cari duit, bisa sambil usaha, nulis di koran, ikut lomba atau nunggu jatah dari orang tua.

Nyaman banget. Ane sendiri ngerasa gitu. Terlalu nyaman bahkan, hingga tanpa sadar, ane sempat lupa kalau di luar sana ada yang namanya dunia nyata, sempat lupa kalau kuliah ini juga perlu di pertanggung jawabin, minimal ke orang tua, terlebih lagi ke mereka-mereka yg ngasih ane beasiswa dan subsidi hingga bisa kuliah.

Ane aja butuh lebih dari satu semester buat ngebalikin semangat lulus ini. Newton sempat bilang kan, for every action towards graduation there is an equal and opposite distraction. Males gerak dari dunia kampus jadinya.

Sebenarnya nih, kata si abang itu dengan pede, ane bukannya ga bisa lulus bareng yang lain, ane bisa aja lulus sesegera mungkin. Tapi deep down inside, ane masih belum yakin, apa ane siap buat keluar dari zona senyaman ini, zona yg seadem ini.

Momen turning point itu datang secara kebetulan jar, kita ga pernah tahu. Buat ane, justru bukan lewat nasehat-nasehat dan semangat yang tak pernah henti ane terima dari saudara-saudara dikampus, tapi dari pertanyaan kecil temen ente tuh, pas wudhu sebelum sholat dhuhur, antri bareng maba :

“Angkatan baru udah masuk lagi tuh bang, tiap lihat mereka datang, seakan-akan mereka bawa tulisan di depan, kami mau masuk, gantian dong.”

Udah, kek gitu doang turning pointnya. Ga pake nasehat merdu dan mendayu. Setiap orang punya momennya masing-masing sih.

Alhamdulillah ane masih diberi kesempatan buat nemuin momen kayak gitu, sebelum digethok sama orang tua karena kelamaan dan ga selesai-selesai. Hahah.

Setiap orang punya alasan masing-masing sih, dan kita ga boleh ngejudge orang sembarangan, tapi bagi ane, kalau amanah di kampus udah beres, berarti udah saatnya move on.

Di dadar itu, bagi ane jar, suatu kebanggan, minimal buat diri sendiri, akhirnya berani juga move on dari dunia kampus tercinta. Haha.

***

Move on jar!

Amal yang mengalir deras

10325638_10203620577776070_8442437932882037996_n-2

Baru saja download aplikasi ini atas saran dari seseorang di twitter (terima kasih mas), aplikasi Quranesia.

Yang membuat tertegun, di halaman pembuka sebelum memulai aplikasi ini, ada disclaimer dari sang developer :

[..]

“Karena saya tidak membutuhkan uang anda, maka aplikasi ini akan selalu gratis dan tanpa iklan. Saya hanya butuh Anda untuk mengikutsertakan saya dan keluarga saya di tiap doa doa Anda.”

[..]

“Terima kasih telah mengunduh aplikasi ini, semoga tiap bacaan yang anda baca melalui aplikasi ini, menjadi pahala kebaikan untuk anda sendiri dan juga saya.”

***

Dulu, ketika masih jadi mahasiswa baru, sempat mendengar nasihat serupa dari seorang abang, tentang mengusahakan sumber pahala yg insya Allah tak pernah habis.

Abang tersebut, ketika ditanya kenapa masuk biologi, dengan mantap beliau menjawab :

“Ane mau nemuin sesuatu di bidang yg akan ane geluti nanti jar, hingga sesuatu itu bisa membawa manfaat buat orang banyak. Sesuatu yang insya Allah ane niatkan sebagai amal jariyah. Ketika sesuatu itu dipakai dan dan bermanfaat untuk banyak orang, ane tertular pahalanya, mengalir terus menerus. Mantep kan!

Ane terinspirasi dari ibu ane jar, beliau meski hanya punya warung makan sederhana di deket kampus, beliau tak kalah semangatnya soal hal ini. Ibu ane bilang, insya Allah beliau selalu berusaha menyediakan bahan dan masakan yg halal, menjauhi yg syubhat, mengolahnya sebaik mungkin. Karena beliau berdoa, dalam setiap masakan yg beliau masak, kemudian masuk ke dalam perut mahasiswa, yang notabene adalah pencari ilmu, semoga makanan itu bisa menghasilkan tenaga, untuk kuliah, untuk praktikuk, untuk penelitian. Kalau kalau ada kebaikan di aktivitas yg dilakuin sama mahasiswa langganan warung beliau, beliau berharap ada sedikit pahala yg menetes untuk beliau.”

***

Perlu banyak #belajar dari mas developer, si abang dan ibu beliau, semoga senantiasa diberikan kesanggupan untuk terus bisa memberi manfaat. Selayaknya sebuah nasehat sederhana, yang apabila teramalkan oleh orang lain akan jadi sumber pahala, semoga setiap buah dari ilmu-ilmu kita pun bisa seperti itu, manis dan bermanfaat.