Ijime (bullying)

watashitachi_no_kyokasho

時間がある時このドラマを見てください。このドラマがいじめについてです。面白い!

taken from wikipedia :

本作が制作された前年は子供のいじめによる自殺が一種の社会現象となっていて問題視されていたこともあり、いじめや社会問題を題材に取り入れたストーリーを展開。

作中の明日香の台詞「世界を変えることは、できますか?」が、番組全体のキャッチコピーとして使用されている。

Kalau ada waktu luang, monggo menonton drama ini : Watashitachi no Kyokasho (Our Textbook). Drama ini berkisah tentang bullying yang terjadi di sekolah, hingga murid yang di bully itu melakukan bunuh diri. Banyak hal menarik yang bisa di pelajari dari cerita di dalamnya, tentang sekolah yang sistemnya perlu diperbaiki, tentang belajar menjadi seorang guru, tentang pengaruh keluarga ke perkembangan anak, tentang bagaimana anak-anak bisa jadi pembully dan yang di bully dsb.

Kurang tahu di Indonesia seperti apa, tapi saya pribadi belum pernah baca/denger berita murid yang bunuh diri karena kasus bullying (berharap semoga tidak akan terjadi, namun mohon dibenarkan kalau pernyataan saya ini salah). Tapi, saya sadar sepenuhnya bahwa bullying itu ada dan nyata, yang pernah sekolah pasti mengakuinya. Hanya saja mungkin levelnya berbeda-beda.

Latar belakang nonton ini karena tergelitik dari kultwit-nya bang Radon soal ijime (bullying) di Jepang.

1. #ijime atau bullying sudah sejak lama dianggap sebagai masalah serius di Jepang

2. Walaupun di negara2 lain pun ditemukan kasus bullying, tapi para pakar menyebut #ijime di Jepang lebih ‘membudaya’

3. Bentuk #ijime bisa bermacam2, mulai dari mengabaikan, memanggil dgn nama ejekan (berjamaah sekelas) hingga vandalisme barang (buku, loker)

4. Dan efeknya bagi korban pun macam2, mulai dari sang korban enggan masuk sekolah, hingga yg terburuk bunuh diri #ijime

5. Menurut statistik Depdiknas Jepang, di 2007 ada lebih dari 80,000 kasus #ijime. 40% sekolah menyebut telah terjadi kasus #ijime

6. Dan per 1000 murid ada 7.1 kasus #ijime. Tapi perlu juga diingat kalau fenomena #ijime adalah fenomena gunung es

7. Menonton drama Jepang mungkin salah satu cara memahami budaya #ijime Jepang. Salah satu rekomendasi sy: Watashitachi no Kyokasho (2007)

8. Contoh-contoh kasus #ijime bisa menyayat hati saking menyedihkannya

9. Di akhir 2010, anak kelas 6 di Gunma gantung diri di kamar #ijime http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20101111a6.html

10. diperkirakan penyebabnya adalah #ijime teman2 sekelasnya, dimulai tahun 2009, ketika tahu ibunya orang Philippine

11. Kasus lain, dua anak SMA mati tenggelam di sungai Tama, tahun 2009. Awalnya dianggap kecelakaan, tapi ternyata kasus #ijime

12. Pasca latihan, mereka didorong oleh teman2 klub sepakbolanya ke sungai walaupun diketahui tdk bs berenang #ijime

13. Penyebab budaya #ijime ada banyak. Salah satunya adalah sifat masyarakat Jepang yang cenderung homogen.

14. Karena sifat ini, orang merasa kesamaan adalah anugerah yang perlu dijaga. Orang jadi takut berbeda dari orang lain #ijime

15. Contoh sederhananya, jika seorang anak sangat pintar matematika jauh melebihi teman2 sekelasnya, ini bisa jadi bahan #ijime

16. Teori lain dari seorang gaijin di Tokyo, bahwa para ibu bisa jadi berperan besar ke kultur #ijime http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/rc20101118a8.html

Special lab meeting

1044904_10201381103190605_71022223_n

今週特別なラボミーティングを行いました。

このラボミーティングではラボメンバーが出席した学会について話しました。面白い学会!私もいつか行きたい!!

Lab meeting pekan ini menarik sekali. Kalau biasanya di isi dengan jurnal dan progress report, pekan ini di isi dengan sharing pengalaman selama conference. Kemarin ada conference di UK yg di hadiri bos besar dan mahasiswa doktoral. Pas pulang, selain bagi-bagi oleh-oleh, ada sesi khusus untuk sharing tentang research-research menarik yg dipresentasikan di sana, khususnya yg berhubungan dg tema riset di lab.

Menarik ya kalau bisa di adopsi di kampus, biasanya kalau ada yang pulang seminar/conference/presentasi pada bingung gimana caranya buat share ilmu apa aja yg di dapet, siapa aja ahli-ahli yg ditemui dan update terbaru apa yg di dapet soal bidang ilmu kita. Kalau di fasilitasi seperti ini kan enak.

Kadang, beres seminar, malah lebih tersita waktunya utk ngurusi LPJ tiket daripada LPJ ilmu.

Belajar dari sebuah recycled pen

1002734_10201305387457759_142549141_n

This pen is made from recycled resins of refrigerators collected at Panasonic’s recycling factory.

It utilizes “technologies that make better use of limited and valuable resources” in pursuit of “living in harmony with the global environment.

P.S :

Ada baiknya Indonesia meniru Jepang dalam hal penerapan kebijakan mendaur ulang barang-barang elektronik rongsokan. PANASONIC Eco Technology Center (Petec) di Kato City, Osaka, Jepang, adalah salah satu pusat daur ulang barang-barang elektronik yang rusak. Sesuai dengan namanya, Petec merupakan areal daur ulang yang dimiliki Panasonic dan beroperasi sejak 2001.

Petec beroperasi sejak 2001 atau beberapa bulan sejak Jepang memberlakukan undang-undang mengenai daur ulang peralatan rumah tangga. Ada empat alat yang masuk undang-undang itu. Yakni AC, kulkas, televisi, dan mesin cuci. Mereka tidak hanya mendaur ulang produk Panasonic, tapi juga elektronik merek yang lain. Dalam proses mendaur ulang, mereka menerapkan konsep dari produk menjadi produk. Misalnya, televisi. Setelah dipereteli, setiap bagian dikelompokkan berdasar jenisnya. Lalu, dihancurkan dan dipilah lagi. Biasanya, televisi terdiri atas aluminium 2 persen, tembaga 3 persen, besi 10 persen, plastik 23 persen, dan kaca 57 persen. Bahan kaca dikirim lagi ke pabrik di Asia Tenggara untuk diolah ulang menjadi televisi.

Biaya pengolahan sampah elektronik itu tidak murah. Untuk satu televisi LCD/plasma berukuran 16 inci ke atas, misalnya, orang Jepang mengeluarkan dana 2.835 yen atau sekitar Rp302 ribu (asumsi satu yen setara dengan Rp106). Biaya paling besar dibebankan untuk kulkas. Lemari pendingin berukuran 171 liter ke atas dikenai tarif sekitar 4.830 yen. Meski harus mengeluarkan dana ekstra, warga Jepang tidak menghindari kewajiban itu. Mereka tinggal menghubungi petugas khusus yang akan datang dan membawa rongsokan itu ke tempat daur ulang. Ada sekitar 380 tempat pengumpulan rongsokan dan 48 pabrik daur ulang di Jepang.