Belajar 14 : Volunterism

Berbeda dengan kebanyakan Universitas milik Pemerintah yang lain, di sini hanya dibuka program untuk S2 dan S3. Mungkin itu sebabnya, disini ga ditawarkan kelas bahasa Jepang yang diakomodasi oleh Uni. Teman-teman mahasiswa riset yang lain sebagian besar menghabiskan waktunya dengan ikut kelas bahasa intensif yang di adakan oleh Uni-nya. Tapi karena di sini bukan termasuk Uni yang mainstream, maka kelas bahasa untuk mahasiswa asing diakomodasi lewat jalur yang berbeda.

Kelas bahasa di sini di fasilitasi oleh Ikoma Teacher Networks, sebuah komunitas volunteer yang mewadahi Guru Bahasa Jepang yang berminat mengajar bahasa. Ada beberapa pilihan kelas yang bisa di ambil mahasiswa yang mau belajar bahasa, kelas regular di kampus dan kelas private di Perpus Kota. Kelas regular di kampus lumayan banyak peminatnya, terutama karena gratis. Ya, kelasnya gratis dan tidak dipungut biaya seyenpun, oleh karenanya komunitas ini dinamakan komunitas berbasis volunterism. Kelas regular di kampus di adakan dua kali dalam sepekan, setiap kelas berdurasi sekitar 90 menit. Kelasnya fun, karena Sensei-nya juga seru dan tidak hanya berfokus pada bahasa saja, tapi bagaimana juga mengenalkan budaya ke murid-muridnya. Biasanya kelas akan dimulai dengan sebuah kuis, entah gambar atau tebak-tebakan. Pekan lalu, gambar yang dibawa adalah kliping koran yang bergambar orang-orang pesta di bawah pohon sakura : hanami. Sensei kemudian bercerita tentang sejarah-nya dan kenapaorang sini suka melakukan kegiatan ini rame-rame se-kantor, se-lab, se-keluarga dsb. Pekan ini tema-nya tentang Golden Week, pekan liburan panjang di sini, pekan yang ditandai dengan ga di publishnya Naruto dan One Piece.

Oia, beliau-beliau yang jadi volunteer ternyata juga punya background English yang mumpuni, tapi selama kelas, sebisa mungkin akan dijelaskan dengan bahasa Jepang. Agar kalian terbiasa, kata beliau. Selama apapun kami mikir buat ngejawab pertanyaan, tetap akan ditunggu, kalau susah ngerti pertanyaan, beliau akan mengulangi dengan pelan-pelan sampai kami ngerti. Beberapa kali juga kami dikenalkan dengan makanan dan minuman sini. Lebih sering makanan ringan yang manis-manis dan teh hijau (tanpa gula). Ya, disini ga ada ceritanya beli es teh manis atau jeruk anget.

Ada juga kelas tambahan yang ditawarkan ke murid-murid yang mau ikut tes bahasa dalam waktu dekat. Kelas tambahan ini biasanya dimulai setengah jam sebelum kelas regular. FYI : kelas tambahan ini bahkan dimulai dengan inisiatif dari Sensei lho, beliau-beliau yang menawarkan diri terlebih dahulu apakah kami mau ada kelas tambahan atau tidak. Yang bikin salut adalah dedikasi dan kesediaan beliau-beliau yang ngajar untuk mau going extra miles dan bukan cuma ngajar biasa-biasa saja, meski ini adalah kegiatan volunterism.

Mungkin karena beliau-beliau sadar bahwa mahasiswa asing-nya berpotensi (bribik-able) dikenalkan dengan budaya sini, lewat beliau-beliau yang jadi pintu gerbangnya, yang akan banyak meninggalkan kesan pertama soal Negara ini dan orang-orangnya.

Kalau kelas private di Perpus Kota lebih khusus karena Sensei-nya ngajar sesuai kebutuhan muridnya. Ada yang mau intensif persiapan tes bahasa, ada yang mau nggenjot kemampuan ngomongnya, ada yang mau catch up pelajaran di kelas dsb. Durasinya sama, sepekan dua kali masing-maisng 90menitan. Meskipun bayar, tapi insya Allah masih tergolong murah. Kata temen se-kelas, biayanya buat administrasi dan penyewaan tempat di Perpus Kota, serta beli teh hijau dkk-nya yang selalu di sediain tiap pertemuan. Pokoknya fun!!!

Insight-nya : mungkin seru juga kalau gerakan seperti ini diakomodasi di Jogja. Dulu, pernah ketika makan di burjo di daerah Pogung Lor, waktu makan omelette langganan, ada dua mahasiswa dari India yang mau pesan makan. Ketika si Aa’ Burjo tanya mau pesen apa, yang satu bingung karena Englishnya ga bisa dimengerti si Aa’. Ketika di Jogja-pun lumayan seringpulang berpapasan sama mahasiswa asing, meskipun ga tahu data pastinya, sepertinya jumlahnya lumayan banyak. Kalau saja, ada yang menginisiasi komunitas volunteer untuk ngajarin bahasa Indonesia (minimal yang dasar-dasar) ke mereka, sepertinya akan menarik. Materinya mungkin ga jauh-jauh dari gimana kalau mau pesan makanan di burjo atau angkringan, gimana kalau mau naek bis ke Malioboro, gimana kalau mau minta nasi gorengnya jangan terlalu pedes dsb. Sambil kelas, bisa sambil ngenalin tentang Keraton, tentang Pindul atau Drini, tentang beli batik tulis yang bagus di mana, tentang bagaimana kalau mau daftar BEM/UKM, ya intinya tentang promosi Jogja dan Indonesia nah.

Background English ga harus moncer, yang penting bisa saling ngerti satu sama lain. Kelas seminggu dua kali lumayan enteng lah, apalagi buat yang ga ada praktikum atau udah paska kampus, daripada waktunya habis buat galau di medsos mendingan jadi volunteer.

Hanya selintas ide aja sih 😀

*coratcoret Jumat sambil nunggu PCR beres

Belajar 13

Berawal dari sebuah inbox singkat :

Nge-share foto sama check in di sana-sini itu udah terlalu mainstream bang. Masak jauh2 ke sana cuman dapet itu doang, cerita dong! 😀

Belajar lagi.

Oke, mungkin ada benarnya. Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah kelasnya, setiap momen ga boleh lewat dengan percuma, dan mencoba mengikat ilmu dengan menuliskannya. Mari belajar lagi!

Hal pertama yang ingin dibagi, mungkin tentang rapi dan mapannya sistem lab di sini.

Bukan hanya dari segi ketersediaan alat, akses di bidang keilmuan, tapi juga dari atmosfer kerjanya. Salah satu sistem sederhana yang sekarang mau di share, dan insya Allah mungkin banget untuk bisa di adopsi adalah : lab meeting. Jangan dibayangkan lab meeting di sini adalah forum serius antara para dosen dengan laboran/teknisi, alih-alih justru seperti forum pekanan bagi para penghuni lab : professor, asisten professor dan semua anak doctor atau master. SOP lab meeting di lab kami biasanya di mulai dengan memutarkan makanan yang di bawa siapapun, ga ada giliran, ga ada kewajiban, yang mau bawa silahkan bawa. Sambil pilah-pilih makanan dan menghirup segelas kopi atau cokelat yang di bawa masing-masing, lab meeting di buka oleh salah seorang yang dapet giliran untuk mimpin forum. Biasanya diawali dengan bincang-bincang tentang kabar lab secara umum : agenda pekan atau bulan ini apa aja, mau ngerencanain outing, ada anak baru yang mau masuk, ospek anak baru, kapan party, jadwal kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan lab dsb. Sambil di selingi humor dan ketawa-ketawa, suasananya cair dan nyaman, bukan kaku dan feodal. Ketika sudah beres, sesi formal pun di mulai.

Ada tiga sesi utama di lab meeting. Jatah dan jadwal yang kena tugas biasanya di pampang di papan tulis satu bulan sebelumnya. Pembagian tugas di gilir dan diputer, sama rata.

Journal flash.

Sesi pertama adalah journal flash. Salah satu anggota lab yang ketiban jatah untuk sesi ini di minta presentasi tentang topik sains tertentu dari journal bebas, yang penting berbahasa inggris. Bukan hanya journal-nya yang harus berbahasa inggris, tapi juga presentasi dan diskusi-nya harus dengan bahasa inggris. Menantang dan seru pastinya, bagaimana menyajikan penjelasan itu runut dengan bahasa yang ga mudah untuk semua orang. Ilmunya dapet, belajar bahasanya juga dapet, jadi kalau mau ada presentasi seminar internasional udah ga panik lagi.

Mengaminkan nasehat : tidak setiap keterpaksaan akan berakhir buruk.  Meski dengan terbata-bata, namun semuanya di ikat oleh hal yang sama, semangat untuk belajar.

Journal club.

Sesi kedua adalah journal club. Sesi ini masih juga ngublek-ublek journal. Bedanya, topik journal yang di angkat adalah journal tentang riset yang sedang dikerjakan anak-anak lab. Masih jurnal bahasa inggris, biasanya masih dalam kisaran 1-2 tahun ke belakang. Presentasinya cukup unik : satu orang yang dapet jatah akan menjadi semacam moderator, tugasnya memberikan awalan dan kesimpulan di akhir. Tugas  peserta yang lain adalah menjadi korban, setelah moderator memberikan awalan, ia akan mengeluarkan semacam arisan, yang namanya keluar di arisan akan menjadi orang pertama yang menjelaskan tentang Gambar 1 di journal itu. Siapa yang menjelaskan Gambar 2 akan di undi lagi, begitu seterusnya, hingga setiap orang mau ga mau harus siap kalau ditunjuk mendadak, semua harus belajar, bahkan yang sudah doctor sekalipun. Ketika semua Gambar 1-n di journal udah selesai di presentasikan, moderator akan mengeluarkan jurus kesimpulannya. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi, biasanya dipancing oleh sensei dan asisten beliau. Bahasanya (kalau di sini) : bukan bahasa Inggris, agar bisa lebih bebas diskusi dan debatnya. Soalnya kadang-kadang yang udah doktor ngetes yang masih master dengan beberapa pertanyaan pancingan. Kok ini gini, kenapa gitu, kok bisa dsb.

Saya? Diam dan mendengarkan.

Progress report.

Sesi yang paling dihindari oleh semua anak master (berdasarkan cerita).  Di sesi ini, yang dapat jatah akan presentasi soal kemajuan riset-nya, hambatan apa yang dihadapi, saran-saran dari anak lab yang lain. Sesi ini juga mau tidak mau jadi pembangkit motivasi tersendiri, ketika melihat yang lain udah sampe finish sementara riset kita masih jalan siput, berarti perlu gaspol. Karena anak master di sini ada 6 orang, jadi siklus progress report-nya akan berputar dalam jangka sekitar 6 minggu. Ga perlu ditagih DPS pun semua udah sadar untuk lari, apalagi kalau udah mendekati jadwal di bagian progress report.

Oia, sistem master dan doctoral di sini dibagi per laboratorium. Meskipun masih anak master tahun pertama, biasanya udah mulai riset, karena beban sks kuliahnya pun ga terlalu banyak.

Kalau di kampus, mungkin yang sudah mulai rapi seperti ini sistemnya, adalah lab G. Yang terlibat riset lab tersebut, mau cuma KP atau seminar, semua wajib kontribusi dan mau bantu-bantu di lab, minimal jadi asisten. Ada pertemuan rutin, katanya, tapi kurang tahu pekanan atau tidak.

Merubah sistem butuh (banyak) kesabaran, karena ada segunung variabel yang terikat, namun kalau visi semua orang bisa diarahkan ke goals yang sama, akan lebih mudah menggerakkannya.

Garis bawah : baru beberapa hari di sini, pemahamannya masih premature dan apa yang ditulis di sini baru sebatas pengamatan saja, tapi saya percaya tagline :  ideas worth-spreading, untuk para senior yang kebetulan baca mohon untuk bisa menambahkan.