Passion

Nasehat tentang passion dari pakbos. Langsung menukik dalam ke pusat kesadaran.

***

Sangat beruntung orang-orang yang kecenderungan hatinya Allah jadikan pada hal-hal yang baik. Passion-nya mengikuti ketentuan Allah.

Pun ketika passion itu berbeda, ia wajib di arahkan. Karena selayaknya nafsu, passion yang tidak diarahkan justru berpotensi menjadi syahwat.

Pun ketika passion itu berbeda, maka kita perlu belajar tentang QS. Al-Baqarah : 216, bahwa standar baik/tidak yang shahih itu ada di tangan Allah.

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

– QS. Al-Baqarah : 216

 

 

Ilmu adalah cahaya

Pakbos : Ilmu itu ibarat cahaya dan hati adalah wadahnya. Semakin bersih hati kita, maka semakin mudah pula ilmu itu bersemayam. Pun sebaliknya, wadah yang keruh karena tertutup noda akan semakin susah menerima cahaya. Maka agar dimudahkan ilmu itu sampai kepada kita, perlulah menjaga wadahnya, menjaga bersihnya hati, dengan menjauhkan diri dari maksiat. Maksiat yang ibarat noda, akan mengeruhkan hati dan menyelimutinya dari cahaya.

F : Tetapi di luar sana, ternyata ada wadah keruh yang dipenuhi ilmu.

Pakbos : Ah, perhatikanlah, bahwa standar keberkahan ilmu itu hanya satu, bukan banyaknya, bukan pula tentang manfaat yang terasa sebentar saja. Standar keberkahan ilmu itu adalah bahwa dengan mempelajari ilmu tersebut maka akan bertambahlah keimanan, ketakutan dan pemahaman tentang betapa rendahnya diri kita di hadapan Allah sang Pencipta. Ketika ilmu yang masuk ke dalam hati kita itu bisa mengantarkan kita ke arah-Nya, maka ia adalah sebenar-benarnya cahaya.

Evaluasi untuk diri sendiri, yang semakin bebal ketika bicara soal belajar. Butuh cahaya.

Belajar, belajar, belajar.

Anak-anak Yogyakarta*

Anak-anak Yogyakarta

 

: untuk Langit, Bumi, Matahari dan Samudera

 

Ini kisah tentang sebuah kota

ia yang di eja dalam dongeng malam-malam

bukan kolam susu yang menenggelamkan ikan

pula hijau beralas permadani, atau berlembah batu manikam

 

Ini kota di bangun dengan hati dan keringat

ia di eja saat mengunyah sarapan

sayur bebuah tumbuh berpupuk cinta

tanah subur berkat aliran semangat

disuntik ayunan cangkul, kayuhan sepeda

mendewasa, abu jadi humus hitam

menutup rekah, puing jadi rumah penuh canda dan abatasa

 

Ia di eja sambil menyibak selimut senja

orang pulang kerja henti berjenak

melihat manusia bersibuk mengatur dagangan

tenda satu malam, trotoar disulap jadi rumah makan

debu bersanding sambal terasi jadi enak

ada mercon, ada kendil, ada uwuh, ada mangut dan klathak

pun lampu temaram cukup jadi saksi

apa saja pantas menyanding nasi kucing

mahasiswa, warga bersarung ronda, anak kecil

tumplekbleg manusia

celoteh dan gosip, akrab dan makin sip

tentang negara, maling warung tetangga, hutang yang belum lunas sampai demokrasi

atau ijab qabul tanpa voting

penetapan itu harga mati, karena kota ini mengakar di hati

 

Ia zuhud larut dalam syahdu budaya

ada anak berselendang parang berjingkat

melengkung melintang menyelaras tumbuh, anggun dan andhap

sesiapa menengok akan bertumbuh hangat

kemudian menetas senyum seutas

dalam gemulai Bedhaya

dalam setiap desir gambang, gong dan gendang

untuk syukur atas berbutir nasi yang tanak tersaji

untuk ejawantah nasihat para Wali

 

Kelak kalian akan tumbuh di sini

kota yang di bangun dengan hati

makan dari tanahnya, minum dari airnya

meraba setiap molekul udara mengisi dada

hingga setiap bagian tubuh jadi hutang

yang ditagih, sebentar atau lama

ikut menanam hati di penjuru kota

belajar sampai masuk surga

bekerja hingga berpayah dan perih

berbakti sampai bercucu bergenerasi

 

Ia di eja paling istimewa olehku

saat aku bertemu ibumu

saat demonstrasi di bawah selimut jas karung goni

ia menyalak dan berteriak

agar pedagang di lembah tidak di gusur bubrah

agar nafas kerakyatan tetap berdesah

agar aku jatuh cinta padanya

dan lahir kalian berempat

 

Kelak kalian akan tumbuh mengakar

bersama berjuta teman sebaya

doa kami, ketika aku dan ibumu menua

jadilah anak-anak Yogyakarta seutuhnya!

tengah Januari, 2012

***

Pertama di buat untuk ikut lomba. Agak cethek memang motivasinya, pun mungkin juga bahasa dan penyampaiannya.

Fiksi kah? Iya, santai saja 🙂