Jika Kau Suatu Saat menjadi Ibu

Artikel yang membakar.

For every mother, soon to be mother, and every daughter 🙂

***

Jika suatu saat kau jadi ibu.

Jadilah kalian seperti Asma’ binti Abu Bakar yang berhasil mengobarkan semangat Abdullah bin Zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata Asma’ “isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),” abadi hingga kini.

Jika suatu saat kau jadi ibu.

Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja : Zaid bin Tsabit. Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada islam dan melayani rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Dan tak lama kemudian ia diterima rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.

Jika suatu saat kau jadi ibu.

Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam madzhab. Ia tidak lain adalah : imam ahmad.

Jika suatu saat kau jadi ibu.

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:

“Ya Allah tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanmu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya : imam syafi’i.

Jika suatu saat kau jadi ibu

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal kitabullah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”, katanya memotivasi sang anak.

“wahai abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram…” sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama : Abdurrahman as-sudais.

Sumber

***

Rabbana hablana min azwajina wa durriyatina qurrota a’yun wa ja’alna lil muttaqina imaman

Sesuai kemampuan

Kerjakan semampu-nya saja.

Biasanya, perintah ini kita artikan bahwa akan ada banyak celah untuk pembenaran, untuk tidak berusaha sekuat tenaga, untuk menjadi biasa saja. Seorang abang, pernah memberikan nasehat yang menarik soal ini, menganalogikannya dengan sebuah kisah yang menggugah, sudah lama di sampaikan namun tak lekang di ingatan.

Alkisah, seorang guru meminta setiap muridnya untuk berlari keliling lapangan, semampu masing-masing. Tidak ada batasan waktu, tidak ditentukan minimal berapa putaran. Semua berlari dengan start yang sama, namun jumlah putaran akhirnya yang berbeda. Ada yang bertahan 3 kali, atau 5 kali, beberapa sampai 7 hingga 8 kali.

Sudah? tanya beliau. Oke, sekarang giliran saya kalau begitu.

Beliau berlari dengan rute yang sama, bertukar peran.  Putaran demi putaran, 5 kali tetap berlanjut, 7 kali masih berputar, 8 kali meski sudah sempoyongan tapi masih berkeras, 10 kali kemudian 11 kali, hingga di putaran ke-12 sang guru tersungkur di lapangan. Tangan lecet tersaruk tanah, wajah mencium rumput, tak sadarkan diri.

Panik, semua murid segera membawa beliau ke UKS. Beberapa jam, kemudian sang guru sadar.

Kalian pasti bingung, kenapa saya sampai sebegitu ngoyo-nya berlari, sampai seperti ini, tanya beliau setelah siuman.

Semua murid terdiam, mengangguk bersamaan, menunggu jawaban.

Karena itulah batas kemampuan saya, berapa kali tadi? 12 kali. Karena sesungguhnya di dalam setiap perintah untuk bekerja sesuai kemampuan itu, ada seruan untuk push your limit, ada nasehat untuk bisa mengusahakan yang terbaik, ada kebebasan yang di berikan untuk bisa tahu batas kemampuan kita, ada peluang untuk belajar melompat lebih tinggi, ada kesempatan untuk bisa going extra miles. Tidak semua orang mendapatkan kemewahan itu. Beberapa hanya puas menjadi biasa, beberapa terkekang oleh standar lingkungan, beberapa masih terhalang zona nyaman. Maka ketika diperintahkan atas kita untuk bekerja sesuai kemampuan, bersyukurlah, kemudian mulailah bekerja.

***

Ya, karena dinasehatkan atas kita : kadar pahala-mu sesuai dengan kadar kepayahan-mu.

Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah : 105)

Rindu

Mereka yang berjiwa hanif itu lembut hatinya, santun perangainya, teduh tatapan matanya, bercahaya wajahnya, lembut perkataannya, dan setiap ia hadir di dekat kita, tiba-tiba mengingat Allah itu menjadi mudahnya.

Mereka yang berjiwa hanif itu ketika dinasehati tidak mencibir, ketika menasehati tidak menggurui, dan ketika diajak kepada kebaikan menyegerakan diri.

Mereka yang berjiwa hanif itu melindungi perasaan orang-orang di sekitarnya, tak ada caci, maki, apalagi fitnah yang keji yang keluar dari bibirnya.

Mereka yang berjiwa hanif itu selalu senang saat berkumpul dengan orang-orang shalih dan berilmu, gusar saat berkumpul dengan kebatilan dan majelis yang tidak mengingat Allah di dalamnya.

Mereka yang berjiwa hanif itu hatinya sangat mudah bergetar dan beresonansi dengan ayat-ayat Allah, sehingga hidayah itu masuk menyeruak begitu saja seperti seteguk air yang membasahi kerongkongan orang yang sedang berbuka.

Mereka yang berjiwa hanif itu sadar bahwa kelak perhitungan-Nya akan utuh, penuh, dan menyeluruh. Hatinya senantiasa khawatir akan setiap khilaf dan salah yang ia semai di dunia.

Mereka yang berjiwa hanif itu sadar bahwa istirahat di dunia hanyalah jenak-jenak pelepas lelah, sebentar saja, lalu segera kembali menembus belantara untuk mencari berbagai hikmah dan ridha Tuhannya. Karena kelak istirahat mereka adalah di kebun-kebun hijau yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dekat raihan buah-buahnya, serta setiap ufuk sangat indah dipandang mata.

Mereka yang berjiwa hanif itu sangat merindu dalam penantian, menanti bertatapan langsung dengan Tuhannya sebagaimana ia menatap purnama di langit dunia dahulu. Sempurna, tanpa hijab di antara keduanya.

Dan mereka yang berjiwa hanif itu adalah manusia biasa, bukan malaikat yang turun dari surga. Mereka hidup, makan, minum, bersama kita. Terkadang bahagia terkadang teraniaya. Namun, cahaya iman di hati mereka senantiasa terpancar jelas dari wajah dan akhlak mulia mereka.

Mereka ada di dunia nyata, bukan dongeng penutup malam.

 NB : dikutip dari sini

***

Rindu.

Rindu sekali : berinteraksi dengan mereka, belajar dari mereka :’)

Ada sebuah wasiat Rasulullah yang sangat dalam maknanya. Tapi ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan anjuran beribadah yang giat, berdakwah yang serius, atau belajar Islam yang tekun.

Bunyinya:

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Ya Allah, karuniakan kepada kami pertemanan yang baik, seperti layaknya pertemanan Muhajirin-Anshar (Al Hasyr 9-10)

Menabung Rindu

Menabung rindu. Karena aku sadar bahwa rindu ini tidak akan pernah cukup hanya termuat dalam beberapa baris kata, beberapa kerat foto atau bahkan akal-akalan kita untuk bisa bertemu mencuri waktu. Apalagi sekedar beberapa baris pesan singkat yang bahkan perlu mengembara di udara, menempuh jarak memendekkan jeda di antara kita.

Kota ini, kota kita ini, bukan hanya tentang titik-titik yang menarik, namun lebih dari itu semua, simpul-simpul kita dimulai dan dirajut di sini. Bukan hanya tentang kampus, stasiun, pantai, tempat makan, bukit bintang, dan selasar yang pernah kita bagi di kota ini. Namun tentang simpul-simpul yang mampu menghubungkan banyak persamaan dan menyelaraskan berbagai perbedaan, agar masing-masing kita tetap hebat dengan jalan dan cara masing-masing. Simpul-simpul ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa kota kita ini terasa begitu istimewa, setidaknya untuk aku sendiri. Tidak perlu ada ritual apapun, hanya ketika ada kita di sinilah kota ini menjadi benar-benar istimewa untukku. Bahkan ketika stasiun, pantai, selasar dan titik-titik itu dihapuskan dari peta, rindu itu akan tetap ada.

Karena rindu ini lebih baik aku tabung. Hingga seperti malam yang sudah-sudah, aku bisa puas memandangmu lamat-lamat, berjenak hingga larut, berbalas ejekan hingga puas dan saling mengisi teko masing-masing : tentang lucunya masa kecil kita, tentang serunya saat-saat masih berjuang dulu, dan tentang sejauh mana kita akan mengejar masa depan . Kamu yang mengerutkan dahi tanpa sadar ketika membalas pesan singkat, kamu yang tertawa lepas ketika bercerita tentang kebiasaan burukmu, kamu yang tidak bisa berhenti ketika berkisah tentang impian-impian itu, kamu yang langsung berkaca ketika berbagi tentang orang tua, kamu yang semangatnya selalu meluap dan menular kemana-mana, kamu yang semuanya. Kamu masih sama seperti dulu, senyum yang terangkai dalam secangkir susu dan nasi putih.

Aku juga heran, selalu ada hujan yang menunggu waktu kita bertemu. Mungkin ini pertanda. Bahwa setiap doa yang terpanjat dalam diam dan cakap kita akan bersayap dan terbang ke langit. Bahwa setiap doa untuk daftar-daftar panjang capaian kita itu (semoga) bisa terijabah dengan jawaban terbaik di waktu terbaik.

Memori-memori seperti ini, akan selalu jadi sebuah sensasi yang tidak pernah membosankan untuk di eja lagi di suatu titik di masa depan. Dari pertama dulu, saat aku benar-benar merasakan bagaimana waktu bisa terasa lebih lambat dari biasanya saat kita berjaga malam-malam bersama, sampai kemarin, saat kita masih bisa seenaknya mengubah gigi dan menjadi anak kecil lagi ketika bercanda, semoga tetap begitu seterusnya.

Semoga kisah ini bisa seperti kisah tentang teko yang saling mengisi, tentang saudara yang saling menasehati. Saudara yang sanggup melihat ke dalam diri kita, bukan hanya apa-apa yang tertampak dari luar dan permukaan saja, tapi bisa jauh sampai ke dalam, seperti kamu, kalian. Tentang saudara yang bisa membaca lebih baik, menerawang jauh lebih dalam. Paham tentang guratan wajah tanda gelisah, tentang isyarat yang tak terbaca, tentang polah yang tidak biasa, tentang bahasa samar yang sudah dipendam dalam namun masih juga teraba.

Ini adalah kisah tentang menabung rindu, rindu untuk mereka yang akan semakin jarang bertemu. Juga, ini adalah pengingat tentang ukhuwah. Ukhuwah yang bukan hanya ada saat makan-makan, main-main dan jalan-jalan saja. Namun lebih dari itu semua, ukhuwah milik hati-hati yang saling terikat satu sama lain. Terikat bukan hanya saat bersenang, tapi juga berpayah dan berjuang.  Ada hati yang berhimpun, ada tekad yang menggunung.

~ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi..

Best friend

saudara

Once Prophet Muhammad (saw) was asked, “What person can be the best friend?” “He who helps you remember Allah (SWT), and reminds you when you forget Him,” the Prophet Muhammad (saw), counseled.

Terkadang rasanya tidak nyaman jika berada disamping orang-orang shalih dan hebat, karena lebih sering kita merasa malu, jelek, minder dan tidak ada apa-apanya, tapi kita semua butuh, agar kita tidak merasa hebat berkilau sendirian, agar kita selalu merasa di nasehati walaupun mereka tidak berkata apa-apa.

Saudara Sampai Surga, aamin.

Beyond HF11

Seandainya boleh doa-doa itu di ibaratkan seperti benang-benang jernih yang teruntai dari bumi ke Arsy, maka beruntunglah setiap jiwa yang menjadi penanam kebaikan. Kebaikan yang menjadi tabungan pahala, mengalir terus deras mengucur dalam wujud benang-benang doa yang teruntai dan terpadu berpilin satu sama lain. Doa yang terpanjatkan oleh setiap jiwa yang sudah pernah tersentuh kebaikannya, kemudian melahirkan kebaikan yang lain, hingga seperti tak ada hilirnya pahala itu senantiasa mengalir untuk si penanam kebaikan.

Kalau boleh mengibaratkan, inilah kenapa saya begitu iri dan takjub dengan sosok-sosok yang mau berpeluh dan berpayah untuk berjuang demi orang lain. Beberapa waktu ke belakang, Alhamdulillah, saya diberikan jalan untuk bisa belajar dari beliau-beliau itu. Pertama, ketika bergabung bersama tim pintong di RIM Yogyakarta, dan kemarin, beberapa pekan kebelakang, mendapat sambutan hangat di tengah keluarga baru : hoshiZora Forum 11.

HF11

Dahulu, kesan pertama masih belum dalam membekas. Hanya sekelebat tahu soal hoshiZora saat Nasikun berbagi soal kesibukannya tengah tahun kemarin. Beliau terlibat menjadi pembicara dalam sebuah forum yang ternyata senada dengan semangat perjuangannya : berprestasi di tengah keterbatasan. Beberapa bulan tenggelam karena kesibukan, nama itu kembali hadir di tengah rangkaian RIM Yogyakarta, di Djendelo Café, pertama bersapa dengan Awang : PR hoshiZora yang menjadi jalan semua cerita ini bermula.

hoshiZora dimulai dengan sebuah ide sederhana namun bermakna luar biasa, bahwa enam orang foundernya adalah mahasiswa Indonesia di Jepang yang tergelitik dengan fakta bahwa biaya sekali makan di Jepang bisa digunakan anak SD di Indonesia untuk bersekolah selama satu bulan.

Fakta ini terngiang-ngiang terus, semenjak pertemuan pertama di Café itu hingga meeting-meeting berikutnya. Di Arabasta, ketika menyatakan ketertarikan untuk mendaftar menjadi volunteer di Hz, kemudian berlanjut hingga mendapat tawaran : mas, ikut kepanitiaan HF 11 yuk.

Siap, insya Allah saya mau bantu sebisa saya.

Begitulah, perjalanan itupun dimulai. Perjalanan blusukan untuk menemukan secretariat HEC di Kalakijo, bertemu pertama kali dengan mereka-mereka yang luar biasa di kantor HEC, berlanjut kemudian dengan penggodokan acara HF 11. Kalau boleh di akui, saya merasa belum optimal terlibat dalam persiapannya, hanya ikut ngrepoti disana-sini. Namun akhirnya, hari H pun datang : di mulai dengan gladi resik terlebih dahulu di YC Sleman, sampai malam. Pun masih bersambung sampai pagi di Sumberanville, menyelesaikan pemasangan cocard yang masih diam dan belum tersentuh sama sekali, sampai jam dua pagi.

Pagi terbit. Hari H di mulai dengan semangat menggebu, pukul enam mruput sudah sampai di YC. Persiapan registrasi, ruangan, transportasi dan semua reribetnya tumplek bleg jadi satu. Kemudian peserta SMA satu per satu datang, pematerian dimulai dan berjalanlah HF yang memenuhi atmosfir di YC dengan semangat positif. Hari pertama, sukses dibuka dengan serangkaian pematerian tentang potensi diri dan bagaimana menuliskan mimpi.

And this is the best part.

Betapa mengharukannya, ketika satu persatu dari adik-adik bintang itu dengan serius merangkai mimpinya, berbagi dengan rekan-rekannya, sambil saling mendoakan dan mengaminkan. Dan ini yang membuat saya cemburu dengan rekan-rekan di Hz, karena nama-nama mereka bisa menjadi bagian dari doa-doa itu dan di aminkan oleh segenap adik-adik bintang yang sudah mereka sentuh hatinya, sudah mereka sentuh hidupnya, sudah mereka angkat mimpinya. Kebaikan yang menjadi tabungan pahala, mengalir terus deras mengucur dalam wujud benang-benang doa yang teruntai dan terpadu menjadi kain yang berpilin satu sama lain. Doa yang terpanjatkan dengan ikhlas, melangit dan terkabulkan dengan jawaban terbaik.

Hari pertama, sukses di tutup dengan pentas seni : pentas seni yang di siapkan di sela-sela acara namun masih bisa menyuguhkan semangat dan memenuhi ruangan dengan gelak tawa.

Hari kedua, semakin ramai, semakin penuh dengan keceriaan dan semangat. Ketika sepasukan SMP dan SD bergabung dalam HF11 dengan kegiatan masing-masing. Ada outbound dan pembuatan craft untuk anak-anak SD, ada pematerian oleh Big Zaman di sebelah ruang. Pematerian yang membuat mrebes mili dan mbrambangi. Ketika dengan mata kepala sendiri belajar bahwa : pressure does make diamonds. Bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk tetap bisa berkarya, berprestasi dan berkontribusi itu, selama kita bersama Allah.

Akhirnya HF11 bisa ditutup dengan penuh senyum kelegaan : di pungkasi dengan foto bersama, beramai-ramai di atas tangga. Beberapa dokumentasi dan ceritanya bisa di lihat di sini.

Ya, seperti cerita tentang panggilan pulang kemarin, yang membekas dalam bagi saya pribadi bukan hanya : dahsyatnya pematerian, gelak adik bintang yang menggelora di YC, serunya canda saat pentas seni, hebohnya outbond dan berbagai semangat yang memenuhi atmosfir YC. Namun jauh lebih bemakna dari itu semua, adalah momen-momen ketika semua kenangan itu di ikat oleh ikrar adik bintang dan doa-doa yang mengalun di sepanjang acara. Ikrar untuk senantiasa berjuang memberikan yang terbaik dalam setiap ikhtiar dan doa-doa yang melangit dengan ikhlas : tentang adik bintang, tentang kakak bintang, tentang hoshiZora.

ikrar adik bintang

***

Ya, seandainya boleh doa-doa itu di ibaratkan seperti benang-benang jernih yang teruntai dari bumi ke Arsy, maka beruntunglah setiap jiwa yang menjadi penanam kebaikan. Kebaikan yang menjadi tabungan pahala, mengalir terus deras mengucur dalam wujud benang-benang doa yang teruntai dan terpadu berpilin satu sama lain. Doa yang terpanjatkan oleh setiap jiwa yang sudah pernah tersentuh kebaikannya, kemudian melahirkan kebaikan yang lain, hingga seperti tak ada hilirnya pahala itu senantiasa mengalir untuk si penanam kebaikan.

*tangan terkepal ke atas, teriak*

Hoshizora : semangat!!

Adik Bintang : jadi hebat!!

dream team