Ridha Allah

Tetiba tertohok dalam membaca ulang nasihat ini. Ketika merasa sudah bersungguh dalam ikhtiar, berjaga di malam-malam, bangun lebih awal, bersegera menunaikan kesibukan, namun terlewat dalam inti yang seharusnya membingkai itu semua : taqwa.

Karena tak pantas bagi kita, merasa sudah berpayah hingga berhak meraih jannah, namun ternyata lupa dengan inti yang seharusnya membingkai itu semua : taqwa.

***

Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya, berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya..”

“ Ridha Allah terletak pada : apakah kita mentaati-Nya dalam menghadapi semua itu? Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larang-Nya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan? ”

“Maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan…” (Salim A Fillah)

Luruskan Niat Nyalon-mu

Spesial untuk para kandidat dan yang nyalon dekat-dekat ini.

Lebih spesial lagi, buat kamu, Langit  🙂

Sumber : http://febriantialmeera.wordpress.com/2012/11/25/luruskan-niat-menikahmu/

*dengan banyak modifikasi di sana-sini

***

Luruskan Niat Nyalon-mu

Bagi yang paham, apabila sedang berada dalam proses menuju pemilihan, saat ditanya perihal niatan nyalon, maka jawabannya adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT dan berdakwah menyeru agama-Nya. Subhanallah, betapa mulianya niat tersebut. Nah, pertanyaannya, betulkah niatnya lurus untuk Allah dan hanya karena Allah? Biasanya, saat ditanya demikian, kita akan mengangguk yakin bahwa niatannya betul-betul lurus untuk ibadah kepada Allah.

Tapi sekali lagi, betulkah demikian?

Melalui postingan kali ini, yuk kita sama-sama analisis kelurusan niatan nyalon kita.

Subhanallah, Allah sungguh luar biasa. Pada saat kami sedang berproses selama pemilihan kemarin, kami dipertemukan dengan seorang abang yang luar biasa pula, dan memang berkapasitas untuk menasihati orang-orang mengenai ilmu-ilmu dalam Islam, terutama yang sedang dalam proses seperti kami.

Masih tampak jelas dalam ingatan kami, sore itu kami duduk di ruang kontrakan abang tersebut, bersiap untuk mendengarkan berbagai wejangan demi kemudahan proses dan ikhtiar kami. Saya pribadi pada saat itu membayangkan akan menerima nasihat-nasihat indah yang menyemangati dan memberikan motivasi atau harapan baik menuju puncak. Hati saya dipenuhi pengharapan akan mendapatkan penjelasan mengenai langkah demi langkah yang jelas, untuk mencapai langkah yang barakah.

Abang kami membuka percakapan melalui update kabar kampus terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai kesibukan kami sehari-hari. Obrolan kami berlangsung sangat santai seperti sedang silaturahim biasa, bukan berguru atau memohon nasihat. Kami pun akhirnya menyampaikan niat kedatangan kami. Abang tersebut tersenyum memandangi kami yang saat itu sedang dalam proses pemilihan. Bukannya memberikan nasihat, beliau malah meluncurkan pertanyaan, yang hingga sekarang menjadi pedoman kuat kami dalam pelurusan niat nyalon.

“Akhi, kalau kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata  pada akhirnya kalian tidak terpilih, tidak menang” beliau menghela nafas sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”

Seketika kami terdiam. Bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya. Saya terdiam cukup lama, merenungkan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi.

Abang itu memecah keheningan kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke puncak sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk mengemban amanah itu?” Kami terdiam kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi. Dan akhirnya Abang itu bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa sampai ke puncaknya?” Saya mengangguk dalam hati.

“Akhi.. rasa berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan amanah yang sedang kalian perjuangkan sekarang merupakan tanda bahwa niat mu belum lurus untuk Allah SWT.” Subhanallah.. JLEB!!

“Ucapanmu mengenai niatan berjuang karena Allah, demi ibadah, dakwah, dll.. mudah sekali diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”

Seketika itu diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan Abang tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan saya nyalon belumlah lurus karena Allah. Abang itu tersenyum. Tampak dari wajahnya, beliau sangat memahami jawaban dalam hati kami. Beliau kemudian melanjutkan, “Sebetulnya, bila niatan nyalonnya benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa mengemban amanah itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?”

Saya menenggelamkan diri dalam muhasabbah yang lebih dalam lagi. Saya mengangguk lebih kencang dalam hati. Iya benar, itu benar, sangat benar. Abang itu melanjutkan kembali, “Jadi untuk menggapai amanah yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat mu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus, selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”

Abang itu menyampaikan kalimat demi kalimat dengan penuh ketenangan dan diwarnai senyuman yang sangat bijaksana. Sungguh, hari itu merupakan pembelajaran luar biasa. Yang awalnya mengharapkan nasihat langkah demi langkah menuju puncak yang barakah, justru dihadiahi nasihat yang sangat mendasar dan menjadi pondasi kokoh.

Perjumpaan kami hari itu ditutup dengan sebuah pemaparan indah dari si Abang. “Akhi.. tidak ada masalah sama sekali dengan hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan sekalipun, apabila dalam prosesnya kalian sama-sama menjalaninya penuh ketaatan kepada Allah disertai dengan niat yang lurus. Dan sekali lagi, niat yang lurus bisa diukur dengan bertanya pada diri sendiri perihal ikhlas atau beratkah bila ternyata tidak berjodoh dengan amanah tersebut. Yakinlah Allah pasti berikan keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Jadi sebetulnya tak ada alasan bagi kita berberat hati terhadap apapun yang tak sesuai dengan harapan. Saya doakan, semoga niat lurus selalu bersemayam dalam hati kalian. Dan bila belum lurus, maka berlatihlah terus.”

Pengkondisian

ITB 2012

Foto pengkondisian sholat OSKM ITB 2012.

Petang ini, foto ini terlihat cakep sekali. Menghadirkan adegan demi adegan yang pernah teralami dan sedikit banyak berbicara dengan bahasa yang sama yang terbaca di foto ini.

**

Januari, 2010.

Indikator sederhana dari kesungguhan buat menjaga komunitasmu, salah satunya bisa terlihat dari seberapa sungguh kamu berusaha menunaikan hak temen-temenmu untuk bisa sholat tepat waktu. Sepadat apapun rapat, sepenuh apapun kegiatan, sesibuk apapun kalian. Kalau sampai terlewat, atau bahkan terlanggar, dengan alasan apapun, kamu siap dimintai pertanggungjawabannya?

Kalau soal ini saja masih belum beres dan sering terlewat, evaluasi dulu target-target besar kalian itu.

– R.

**

November, 2012.

Kita selama ini diajari untuk respect time, respect people, dan respect system. Tapi kita seringkali lupa untuk respect terhadap kewajiban utama kita, sholat tepat waktu. Waktu-waktu sholat yang terpaksa dilanggar karena keterlambatan acara, space yang sempit dan membuat sholat terburu-buru, dan pembenaran-pembenaran lain. Mungkin itulah sebab utama tidak lancarnya agenda kita hari-hari ini, bukan karena masalah teknis yang dibesar-besarkan itu, tapi karena kita lupa dengan kewajiban kita yang paling asasi.

– Srikandhi.

Selama Anda sekalian melakukan seremonial tadi, beberapa masjid di Yogyakarta sudah mengumandangkan adzan. Karena itu, saat ini, marilah berhenti sejenak dan mengevaluasi diri, apakah sebenarnya yg sedang kita perjuangkan bersama.”
– FF

**

Ah, kemudian dicukupkan dengan nasihat ini :

Barakah itu diawali dari niat, dan terjaganya tiap tahapan dalam niat dengan cara yang diridhoi-Nya. Ya Rabb karuniakanlah keberkahan dalam setiap aktivitas kami sejak dalam niat. Aamin.

– AW

Hero

Once you are considered as a hero, people will blame you when you bleed or are knocked down.

You will probably shout at them desperately, “It is enough for me to suffer this physical injury without you make a bigger one by blaming me.”

But even you may never know. They blame you because they can not accept the truth that you’ve been already defeated. That they wanna keep their belief about you.

That they wanna keep you as their hero.

***

Got this random quote from Superhero movies. Spiderman if I’m not mistaken.

For everyone of you, heroes, who are bleeding or been knocked down. Raise!!  For we still believe in you.

tentang saat terbaik mengambil keputusan

Ambillah segala keputusan di saat hati berada pada puncak ekstasenya, disitulah letak teraman, disitulah letak bijaksana, sedang selainnya ada kemungkinan nafsu menggelayut, karena beningnya hati tahu kala iman memuncak syahdu dan saat ia berselancar turun – FSN.

Untuk setiap kita yang masih bimbang tentang sebuah keputusan. Bahwa keputusan terbaik akan lahir saat hati berada dalam keadaan terjaga, ketia ia diselimuti iman yang berada di puncaknya, dan saat ia-nya lebih dekat dengan Yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Oleh karenanya, dinasehatkan untuk kita, memeriksa ruhiyah terlebih dahulu ketika berada dipersimpangan sebuah pilihan. Bagaimana menentukan kapan ketiga kondisi itu bertemu? Bukan ditunggu, tapi dijemput. Utamakan yang wajib, istiqomah pula yang sunnah. Hingga hati-hati yang siap memilih itu membening dan membantu memberikan fatwa yang terbaik.

Libatkanlah Allah dalam setiap keputusan. Semoga setiap keputusan yang kita ambil mendapatkan ridho dari-Nya.

What makes a hero?

 

Animasi unik dan lucu. For each and every one of you, who consider yourselves as a hero in the making 🙂

 

What makes a hero?
The hero path in every one of us:
1. Listen to our call for adventure

2. Accept the challenge

3. Conquer our fear

4. Claim the treasure we seek

and then? Do it all over again 🙂

blitzkrieg

Beberapa waktu lalu layar televisi kita pernah dijejali oleh tayangan reality show misteri. Beralih kemudian ke reality show percintaan, beralih lagi ke musik. Terus berputar hingga kini kembali (lagi) penonton dijejali oleh tayangan misteri, persis seperti awal-awal genre tersebut muncul. Perhatikan pola dan konten tayangan yang itu-itu saja. Pada intinya kesimpulan yang didapat adalah konten dan pola akan terus berulang. Kemasanlah yang membedakan.

Pemira, sampai kapanpun akan seperti itu: ada kandidat, ada isu, ada kampanye hitam, ada labeling, dan anu-inu. Sangat minim argumentasi. Kemasannya pun sama. Akan tetapi, sebenarnya masih lebih baik dari parodi sinetron ala Cinta Fitri: harta dan cinta. Setidaknya, pemira jauh lebih bermakna ketimbang “mainan” hampir 35% rakyat Indonesia itu. Ada nuansa bernegara yang dibawa oleh mahasiswa. Namun, apa jadi jika incumbent berkuasa dibayangi kecemburuan parokial plus bumbu isu lama yang ditaburi ke anak-anak baru? Beberapa belas tahun akan tertarik sebuah hipotesa: Tarbiyah lagi, lagi…

View original post 617 more words