Panggilan Pulang

Home is where the heart is. It is not a place, it is the people.

Panggilan pulang (meminjam istilah Chandra) selalu jadi panggilan kesayangan. Panggilan favorit yang selalu ditunggu-tunggu, untuk bisa mengambil jeda dari sekian kesibukan dan kepenatan yang menumpuk, dan menemukan kembali keluarga yang selalu bisa menerima dengan tangan terbuka. Kemarin, beberapa pekan dari sekarang, ketika sebuah pesan singkat menjadi perantara dari panggilan pulang itu, tak perlu rasanya ada pikir kedua, cukup menekan tombol dan menjawab iya.

Panggilan alumni : mengharapkan bantuan alumni yang masih luang dan ada di Joga untuk jadi bagian dari Panitia Latgab Timur, confirm ya, jzk.

***

Pertama datang dan menginjakkan kaki ke rumah orange itu, sebagai seorang alumni, aneh rasanya. Semua masih familiar, ketika empat tahun yang lalu bertigapuluh bersesak dalam bangunan itu. Ada hati yang berhimpun, ada tekad yang menggunung, bukan hanya tersatukan atas sekat-sekat dinding yang berwarna orange itu saja, tapi tergerakkan oleh satu visi yang sama, ikrar yang sama, dan lebih dari itu semua : aqidah yang sama. Aah, sudah dua kali berganti penduduk, sejak kami meninggalkan candradimuka di Nakula 5. Namun satu hal yang tidak pernah berubah, atmosfir itu masih terasa, atmosfir yang mengingatkan bahwa (insya Allah) harapan itu masih ada, bahwa masih ada mereka-mereka yang secara sadar bersedia menjadi bagian dari perbaikan bangsa ini, ummat ini.

Rapat demi rapat berbaris dengan teratur, saling susul satu demi satu, mewarnai reuni para alumni yang dipanggil untuk pulang dan mengambil peran jadi panitia. Dulu, biasanya, pesertalah yang akan jadi panitianya, begitu sampai dengan angkatan yang lalu, sampai ada elemen baru bernama Srikandi ditambahkan dalam persamaan kami. LatGab yang dulu hanya berisi jenggot-jengot dan celana-celana, sekarang sedikit cerah dengan hadirnya berbaris jilbab putih di salah satu bagian kursi peserta.

Hari-H pun datang. Terawali dengan seremonial yang berlangsung hikmat nan khusyuk. Dilanjutkan dengan bergelombang-gelombang agenda yang siap menguras tenaga dan memberatkan mata, baik peserta dan panitia. Tiga hari dua malam, charger yang cukup efektif, untuk kemudian menghentak kembali dan mengingatkan lagi, bagaimana seharusnya posisi dan keadaan seorang alumni setelah keluar dari asrama. Tidak, saya di sini tidak akan kemudian merebut hak dari para peserta untuk menjelaskan resume kegiatan demi kegiatan. Bagi yang selo, silahkan bisa mengunjungi akun @laskarnakula atau mengikuti tagar #LGT untuk bisa berbagi inspirasi tentang para pembicara yang hadir waktu itu.

Catatan ini, lebih sebagai sebuah refleksi, untuk diri sendiri. Bahwa dalam tiga hari dua malam itu, alumni pun juga sedang belajar, banyak sekali. Bahwa dua tahun saja tidak pernah cukup, untuk belajar tentang menikahi institusi ini.

Idealisme kami dan satu perangkatnya, masih belum berubah. Masih ada merinding dan getar yang mengiringi setiap ikrar itu berkumandang. Ada haru yang terselip, ada semangat yang merimbun, ada kantuk yang terobati, dan banyak serpih-serpih optimisme yang turut mengiringi ikrar itu berkumandang. Masih belum berubah, dulu ketika masih berstatus sebagai peserta, dan terlebih dahsyat lagi dampaknya, sekarang ketika berlabel sebagai alumni. Idealisme kami yang (cetar) membahana di ruangan LatGab, bukan hanya dalam takaran lantangnya suara, namun juga menyesaki sampai ke dalam hati, mengingatkan bahwa kekata itu bukan hanya tulisan semata, bukan hanya untuk di bibir saja, tapi sebuah ikrar dan berbaris janji yang wajib dipenuhi.

Kemudian tentang agenda-agenda yang bersibuk menabrak para peserta dan panitia. Mulai sharing alumni yang syahdu ditemani iringan langgam jawa dan angkringan, diskusi paska kampus yang dimodifikasi sesuai dengan passion peserta, diskusi tokoh dengan berbagai sosok inspiratif, QL dan WBS setiap pagi, hingga KIK yang (tumben) membahas panjang soal Gangnam Style di Korea. Inspirasi yang membludak saat acara, semangat yang terbakar oleh pembicara, kekaguman dan optimisme yang terbangun tentang perbaikan negeri ini. Tapi sekali lagi, bukan, bukan itu yang akan terbahas dalam paragraph ini. Karena yang paling mendalam dan membekas, bagi saya pribadi, adalah doa-doa yang terlantun selama agenda-agenda itu berlangsung. Doa-doa yang terawali dengan tilawah yang menggerus hati (tentang QS Ali Imran 102-105; QS Fushilat 30-34; QS Al Hasyr 18-24), doa yang terkandung dalam Idealisme, Mars dan Hymne; serta di tutup dengan doa-doa dari para orang tua kami : pengurus pusat, pembina regional, para supervisor/manajer, dan pembicara. Para pembicara itu, yang dalam beberapa kesempatan juga ikut berbagi haru saat Idealisme Kami di ikrarkan, biasanya menutup sesi beliau dengan berbait doa, yang diaminkan segenap peserta dan panitia, doa-doa terbaik tentang mewujudkan mimpi, tentang perjuangan dengan hati yang tulus dijalan yang lurus, dan doa untuk bisa menjadi bagian perbaikan ummat dan bangsa ini. Doa yang terpadu dan bersinergi dengan segenap peserta dan panitia, menjadi untaian yang terpilin ke atas dan semoga terijabah dengan jawaban yang terbaik.

Kemudian sentilan di agenda Ahad : untuk mengurangi waktu tidur, untuk menghormati panggilan terbaik dan makjlebjleb yang bertumpuk di akhir itu.

Juga tentang para peserta. Jeda tiap agenda yang di isi dengan tilawah, semangat empat lima pagi buta saat bel mengaung mengundang untuk QL dan WBS, perpindahan yang dengan ikhlas dilakukan meski kadang dibarengi dengan hujan, dan mata serta jiwa yang senantiasa menyala : haus akan ilmu, penuh cadangan komitmen untuk berkontribusi, semangat berlomba dalam prestasi, erat dalam silaturahmi dan ruhiyah yang terjaga dan menjaga. Insya Allah.

Tak lupa, berbagai potongan memori yang menggiring ingatan kembali ke berbagai sesi dalam KIK dulu, tentang bagaimana menajamkan pemahaman kami tentang : Moderat, Obyektif, Open Mind dan Rendah Hati. Kemudian tentang janji-janji dalam kontrak dan map merah itu, untuk istiqomah dalam KIP, untuk dua setengah persen yang masih belum tertunaikan dengan semestinya, dan masih banyak lagi kewajiban sebagai seorang alumni.

Menghela nafas.

Panggilan pulang memang bukan hanya soal reuni, apalagi hanya tentang berbagi cerita atau melepas rindu, tapi justru, panggilan pulang adalah sebuah pengingat. Bahwa ikrar-ikrar itu wajib ditunaikan, bahwa janji-janji itu wajib dipenuhi, bahwa tanggungjawab itu harus dilaksanakan, dan bahwa yang (senantiasa) kami harap adalah : terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta.

***

Pada awalnya semua orang bangga dengan pilihannya, tapi pada akhirnya tak semua orang setia pada pilihannya. Saat ia sadar bahwa yang dipilih munkin tidak sepenuhnya seperti yang diimpikannya. Karena yang sulit dalam hidup ini, bukan memilih, tapi bertahan pada pilihan. Sedikit waktu mungkin sudah cukup untuk menentukan pilihan. Tapi untuk bertahan pada pilihan tersebut, bisa jadi harus menghabiskan sisa usia yang dimiliki. Seperti itulah 1 kata yang begitu mudah diucapkan, tapi begitu berat diamalkan yakni : “istiqomah”.

– RD

Karena untuk bisa menikahi institusi ini, butuh ke-istiqomahan yang berlebih dan tak pernah kering.

Amanah #2

“Apapun yang terjadi, sesibuk apapun, seberat apapun, sebanyak apapun amanah yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan. Yang pertama selesaikan dulu ‘Amanah Allah’.

Hari ini hafalan qur’annya sudah bertambah?

Murojaah hafalannya sudah?

Ibadahnya wajib dan sunnahnya sudah dilaksanakan dengan baik?

Insya Allah, ketika Allah sudah ridha dengan ikhtiar yang kita lakukan, waktu akan terasa lapang, akan banyak pintu-pintu kemudahan dan keberkahan yang akan terbuka untuk menyelesaikan semuanya dengan baik.

Semakin banyak amanah, semakin meningkat kualitas ibadah.”

(Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh, 2010)

 

***

Prioritas-mu, ruhiyah-mu, amanah-mu, apa kabar Jar? 😦

Amanah

Dinasehatkan untuk kita, tabu meminta amanah, pun memberikan amanah bagi sesiapa yang memintanya. Karena amanah selayaknya dititipkan kepada mereka yang siap, mereka yang hanya berfokus pada penempaan kapasitas diri tanpa kemudian terperangkap dalam ambisi atas kuasa itu sendiri.

Namun ketika amanah itu datang dan janji kontribusi kita sedang ditagih, jemputlah panggilan itu dengan sepenuh hati, keikhlasan dan tanggung jawab.

Begitulah yang diajarkan.

Beberapa tahun berselang, Alhamdulillah saya diperkenankan bisa berkenalan dan belajar dengan berbagai jenis orang, terkhusus dalam catatan ini, dengan orang-orang yang dipercaya untuk memanggul amanah, kecil besar ataupun lama sebentar.

Ada satu sosok yang (insya Allah) terjaga dan memberikan banyak pembelajaran soal sub-pelajaran hidup ini, dalam dan membekas hingga sekarang.

Terkisah dalam sebuah forum, sosok tersebut sedang diminta oleh rekan-rekan satu timnya untuk memberikan kesanggupan. Kesanggupan menjadi orang yang ditempatkan di garis perbatasan terdepan, memanggul amanah sebagai pemimpin, dalam jangka waktu yang cukup lama untuk hitungan seorang mahasiswa. Berbagai dukungan mengalir untuk beliau, dari berbagai sudut, meyakinkan bahwa tersebutnya nama beliau dalam keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Seleksi kapabilitas : insya Allah lulus, integritas : tidak usah diragukan lagi, kualitas pribadi : sudah teruji, dan berbagai pertimbangan yang semakin mengerucut, bahwa insya Allah, keputusan ini adalah ikhtiar terbaik yang bisa diusahakan.

Selama proses itu, beliau hanya diam, mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali mengambil catatan. Setelah dirasa cukup, agenda pun memuncak, moment of truth, saatnya meminta persetujuan dari si inti pembicaraan.

Hening, dan beliau pun mulai bicara.

Bismillah, insya Allah saya bersedia, kata beliau.

Senyum mengembang di penjuru ruangan. Melepaskan kelegaaan.

Semoga keputusan ini, ikhtiar kita ini, adalah jawaban dari doa yang senantiasa saya panjatkan dalam sujud dan shalat saya. Doa agar saya bisa ditempatkan bersama orang-orang yang terjaga dan menjaga, doa agar saya bisa ikut berjuang di jalan kebaikan, tutup beliau.

Nyes. Adem sekali rasanya mendengar jawaban itu.

Biasanya, default jawaban yang biasa disampaikan untuk pinangan sebuah amanah adalah : “Insya Allah, dengan syarat ini, ini dan ini.”.

Atau bisa saja, “Kenapa saya??” yang terucap, atau “Saya belum siap!” yang tersampaikan, atau bahkan “Saya tidak bersedia, karena ini dan ini. Yang lain saja.”

Saat nyes itu terasa, saya lalu belajar tentang khusnudzan dalam level yang berbeda. Baik sangka bukan hanya atas hal yang kita faham resikonya, namun atas masa depan yang masih terhijab dan tertutupi. Pedomannya hanya satu, berbaik sangka bahwa ini adalah jalan yang dipilihkan oleh Allah dan menjadi jawaban doa kita.

***

Kisah kedua, diceritakan atas sosok dan waktu yang berbeda.

Di dalam setengah perjalanan amanah yang sedang diperjuangkannya, seorang panglima perang mengadu kepada saudaranya, tentang keterpaksaan yang masih mengganjal meski sudah dihalau jauh-jauh itu, tentang kelelahan yang menggunung itu, tentang kesabaran yang sudah hampir kering itu.

Nasehati saya mas, agar tidak ada lagi pembenaran untuk tidak mengusahakan amanah ini dengan sebaik-baiknya, agar keterpaksaan ini bisa terikhlaskan, agar saya bisa berjuang sepenuh hati, dengan niat yang tulus dan jalan yang lurus. Agar futhur tak lagi berlama-lama, dan bisa menguap dalam sekejap.

Antum bawa mushaf kan? tanya beliau. Buka, baca QS Muhammad ayat ke-7 dan hayati maknanya.

Mushaf pun dibuka. Ayat-Nya terlantun dengan khusyuk.

Jeda hening.

Sudah? tanya beliau.

Terjawab dengan anggukan.

Cukup, kah?

Jeda hening.

Insya Allah cukup, terima kasih mas. Sangat cukup, Lillah, fillah, ilallah.

Ada isak jelas tertahan mengiringi jawaban yang terlantun, mengiringi semangat yang kembali merimbun.

*tertulis atas inspirasi dari diskusi dengan si 3.85

Selamat datang :)

Selamat datang di dunia orang dewasa, sahabat.

Fase dimana bukan hanya selisih umur yang di andalkan untuk bisa berbagi dan bercerita.

Dunia dimana sangat jarang berkumandang ‘aku’ karena dia lebih sering muncul hanya ketika si empunya itu sedang berkeluh kesah dengan Kekasihnya, menjaga agar hatinya tetap dekat dengan-Nya dan sesekali mengusap khilafnya dengan air mata. Selebihnya, akan banyak ‘kita’ dan ‘kami’ yang keluar untuk mereka yang berada di sekitarnya.

Karena sampai kapanpun, kita itu aku dan kamu. Bukan cuma satu.

Dunia dimana berbicara akan di nomorduakan, menjadi anak tiri yang di pingit baik-baik dan hanya di perbolehkan tampil ketika memang di butuhkan. Selebihya, berpikir-bertindak-tersenyum dan sederet kontribusi nyata yang lebih dahsyat untuk menggantikan kata-kata itu sendiri.

Karena sampai kapanpun, berbicara dan bekerja itu berbeda. Penonton itu bukan pemain.

Dunia dimana kejujuran bukan hanya di maknai sebagai kemawasan diri untuk bisa memilih apa yang di ucapkan, tetapi juga : kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan, kepada siapa sepatutnya di beritakan, serta dimana dan melalui apa sesuatu itu di lisankan. Kejujuran itu bukan berarti harus menyampaikan semua yang kita tahu, tetapi cukup dengan tidak berbohong ketika berbicara.

Karena sampai kapanpun, kejujuran itu tidak selalu harus di kecap pahit. Tapi kebenaran itu cuma ada satu.

Dunia yang terkadang dirujuk ketika kita dikatakan sudah naik kelas. Kelas dengan mata kuliah yang berbeda-beda sesuai murid dan gurunya. Kelas dengan ujian yang kadar kemudahannya berbeda-beda sesuai kesanggupan murid dan gurunya. Kelas dengan ruang kelas yang tidak mengikat dan jam belajar setiap saat. Mata kuliah dengan prasyarat tunggal berupa komitmen. Ujian dengan lembar jawaban tidak terbatas untuk mengukur kedalaman loyalitas dan rasa cinta.

***

Ada masanya ketika kita seharusnya tidak lagi menempatkan diri sebagai pihak yang lebih nyaman untuk hanya bisa mengadu dan meminta saran. Akan tiba saatnya ketika kita menjadi pihak yang menyiapkan hati yang lebih, untuk sekedar menjadi tempat bercerita, pendengar yang baik dan sebisa mungkin memberikan ketenangan meskipun hanya dengan senyuman. Lebih dahsyat lagi, ada yang bisa kita bagi dan menjadi solusi. Saat itu, kita tidak seharusnya menunggu, tetapi lebih sering bertanya mendahului.

Amanah itu bukan untuk di taruh di pundak. Letakkan dia di hati, dekat dengan nurani. Sehingga dia akan menjaga kita agar selalu dekat dengan-Nya.

Ada masanya ketika kita mulai menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya masalah posisi tetapi sebuah karakter. Saat itu, kita tidak akan lagi membeda-bedakan kontribusi hanya berdasarkan status ke-pemula-an yang di sandang seseorang. Bahwa kriteria dan standar seorang pemimpin itu bukan hanya hak dari mereka yang memegang posisi formal saja. Saat itu, kita akan sadar, bagaimana sebenarnya seni itu diterapkan. Saat itu, kita akan sadar, bagaimana sebenarnya ilmu itu diterapkan. Saat itu, kita akan sadar, ada sekian kepala yang menemani kita berpikir, ada sekian hati yang saling menguatkan satu sama lain, dan ada amanah yang perlu dipertanggungjawabkan.

Ada masanya ketika waktu kita bukan hanya milik kita saja. Akan tiba saatnya ketika menyendiri menjadi sebuah kemewahan. Saat itu, sekedar lupa menghidupkan telepon genggam atau tidak membalas pesan singkat bisa menjadi sebuah kedhaliman. Bukan karena apa, tapi karena nilai kebermanfaatan kita bisa menjadi lebih ketika kita ada. Saat itu, kita bukan hanya milik kita saja. Ada mereka yang kita bawa bersama dengan semua yang melekat pada diri kita, entah : ucapan, guyonan, tindakan dan sikap yang kita anggap biasa saja sebelumnya.

Ketika masa itu datang sahabat, berbesar hatilah.

Masa itu tidak akang bisa datang hanya karena kita yang memintanya. Masa itu hanya akan disandang oleh mereka yang tepat. Masa itu akan memilih mereka yang sedari awal hanya berfokus pada peningkatan kapabilitas dirinya saja tanpa repot-repot menghiraukan apa yang akan dia terima kemudian.

Ketika masa itu datang sahabat, berjuanglah.

Selamat datang di dunia orang dewasa. Bukan dalam definisi umur tetapi lebih tentang karakter dan kematangan berpikir. Fase dimana bukan hanya selisih umur yang di andalkan untuk bisa berbagi dan bercerita.

terakhir :

Dunia ini bukan untuk mereka yang cepat mengeluh. Bukan untuk mereka yang lebih nyaman duduk di kursi penonton. Bukan untuk mereka yang masih saja berkutat dengan masalah tanpa bisa memberikan solusi. Bukan untuk mereka yang lebih suka melihat kesalahan daripada memberikan penghargaan atas capaian orang lain. Bukan untuk mereka yang masih saja menunggu untuk bisa berbuat lebih demi orang lain.

Masa itu (telah) datang sahabat, berjuanglah.

Yogyakarta, 1.3.2010 | 1: 24 am

***

”Awalnya adalah revolusi dengan semangat meletup-letup, setelah itu adalah kerja membangun dengan kesabaran berlipat-lipat. Tadinya hanya satu kalimat singkat, seterusnya adalah konsistensi hingga akhir hayat. Sebelumnya hanya lintasan ide dalam pikiran, selanjutnya adalah pembuktian yang menuntut ketekunan panjang. Jika semangat itu seperti sungai maka kesabaran harus seperti samudera”

Posting ini, di buat dua tahun yang lalu, untuk menyambut benih-benih baru yang bertumbuh saat itu, yang sekarang, insya Allah, sudah merimbun. Akarnya kuat mencengkeram tanah, batangnya kokoh menjulang, dengan daun yang rindang hijau dan menaungi sekitar, serta berbuah manis nan melimpah, membawa kebaikan-kebaikan yang banyak bagi orang di sekitarnya 🙂

Keputusan

Jangan ambil keputusan ketika emosi meninggi : marah, senang, sedih. Berlaku untuk semua kita, terlebih lagi bagi mereka dengan posisi dan peran strategis, tentang keputusan penting, dan berdampak besar nan luas. Karena bersama keputusan yang terambil saat emosi memuncak, kecewa akan lebih sering mengikutinya.

Termasuk keputusan se-sederhana untuk : posting status, publish notes, nge-tweet, nulis di blog ini dan satu rombongannya.

Ini ruang publik. Tidak pernah tahu siapa yang baca, bagaimana akan di simpulkan, dan apa reaksinya.

Tak pernah tahu akan jadi tabungan pahala atau investasi doa yang membukit.
#Nasihat untuk diri sendiri.

Karena cinta pun perlu ilmu

Repost. Semoga bermanfaat 🙂

**

Memperjuangkan cinta

Oleh : MR

 

Dik, aku tidak menyalahkanmu ketika anak seusiamu merasakan cinta. Cinta memang sudah Allah ciptakan sejak Adam dan Hawa. Awalnya memang mereka saling mencinta dengan damai di surga, tapi karena ketentuan Allah, keduanya diturunkan ke bumi di daerah yang berbeda. Adam di India, Hawa di Jeddah. Maka Adam menjadi pejuang cinta pertama di muka bumi. Ia terus berjalan kaki dari India, demi menemukan kembali separuh jiwanya sampai akhirnya Allah pertemukan mereka lagi di Jabal Rahmah. Suatu rasa yang memang layak diperjuangkan, karena akan tentram bila bersama, dan akan gelisah bila berpisah.

 

Dik, sakit adalah nama lain dari cinta ketika kita tidak memiliki izin halalnya. Karena memang sakit rasanya ketika mengetahui yang kita cintai bukanlah milik kita. Rindu ya ngapain. Cemburu ya bukan hak kita. Sudah sia2 karena rindu dan cemburunya tidak berpahala, waktu dan pikiran terkuras pula. Aaah… Air mata? Jangan bohongi kakakmu ini jika kamu tak pernah menangis karenanya.

 

Dik, anak seusiamu memang tak mengenal rasa takut. Laki2 maupun perempuan dengan berani dan mudahnya mengatakan “aku cinta kamu”. Tidak taukah? Kata2 tersebut menuntut konsekuensi. Seperti ketika kita berkata cinta kepada ummi dan abi. Maka pembuktiannya adalah keberbaktian kita kepada mereka. Begitu pula jika kamu berani mengatakan, “aku cinta kamu” kepadanya, maka pembuktiannya adalah kehalalan cinta kalian. Jika sudah halal, sungguh hal remeh seperti sms “aku cinta kamu” akan bernilai ibadah, tapi berpotensi maksiat jika sebaliknya.

 

Dik, ketika rasa itu begitu menusuk, begitu dominan menguasai akal… Walau ternyata ia seorang pendusta, walau ternyata ia suka main mata, walau ternyata ia mengincar kamu punya harta, cintamu tetap membahana kepadanya.. Tolong, tolong kamu ingat kisah2 mereka yang tetap menempatkan cinta kepada Allah di tempat yang tertinggi. Semoga hal itu bisa memberimu kekuatan bahwa kamu pun pasti bisa rasional. Kamu pasti bisa mengalahkan cintamu kepadanya dan memenangkan cintamu kepadaNya. Toh kalian sama2 manusia.

 

Dik, isilah waktumu dengan kegiatan apapun yang baik. Jangan sisakan waktumu untuk memikirkannya, apalagi bermaksiat dengannya. Tukar waktu sms-an, telponan, melamunmu, dan mellowmu dengan berorganisasi, menjadi relawan, atau datang kajian. Jangan isi masa mudamu dengan galau picisan semata; menangis karena dicuekkin, menabung untuk belikan jam tangan idamannya, melayang karena dijanjikan “aku milikmu seutuhnya.” Menyedihkan. Jika kamu memang merasa memiliki persediaan cinta yang besar, bagikanlah cintamu kepada anak2 yatim atau orang2 berkekurangan. Bermainlah ke panti asuhan. Sisihkan uang jajanmu untuk mereka, barokah insyaAllah. Berilah senyum termanismu untuk mereka, barokah insyaAllah. Banyak cara untuk menyalurkan energi cinta. Banyak cara memanfaatkan waktu. Banyak cara meluruhkan hasrat potensi maksiat.

 

Dik, berserahlah kepada Penggenggam Hati. Mintalah kepadaNya untuk menghadiahkan rasa cinta seperti ini nanti saja. Nanti; ketika dengan saling berjabat tangan saja justru akan merontokkan dosa kalian berdua. Mintalah kepadaNya untuk menjaga kemurnian hati dan cintamu. Hingga yang bisa menikmati kemurnian itu hanyalah suamimu seorang kelak. Mintalah kepadaNya untuk memberimu kesabaran menghadapi fitnah akhir zaman; ketika mendengar teman2mu yang lain dengan riangnya bercerita tentang romantisnya kekasihnya, dan ketika melihat mereka dengan ringannya saling berjabat erat. Mungkin mereka tidak tau, lebih baik tersentuh bara api daripada bersentuhan dengan kulit lembut namun tidak halal baginya.

 

Dik, jangan sampai ilah-mu tertukar. Menuruti peraturannya, tapi tidak menuruti perintahNya. Menuruti “ikat komitmen denganku, kulamar kau suatu saat nanti”, tapi  tidak menuruti “jangan dekati zina”. Ilahmu itu siapa?  Imanmu dimana?

 

Dik, jangan manjakan perasaanmu. Jika kamu senang jika ada yang memperhatikanmu, kurangkah perhatian ummi bangun paling pagi demi masak untuk sarapan kita semuanya? Kurangkah perhatian abi berpuluh2 kilometer bolak-balik kantor-rumah demi kita bisa sekolah? Aku saja menangis demi menulis ini. Masihkah kamu mengemis perhatian dari orang antah berantah itu? Turunkan egomu. Bahagiakan ummi abi; berprestasilah, santunlah. Tau diri 🙂

 

Dik, seperti yang aku bilang di awal. Cinta memang layak untuk diperjuangkan. Cinta itu adalah ketika kita berusaha mati2an untuk kebahagiaan dan kebaikan orang yang kita cintai. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Dan cara memperjuangkan cinta itu ada dua. Pertama, kamu mati2an mengambilnya. It means kamu segera menikah dengannya. Kedua, kamu mati2an mengembalikannya. Yang artinya kamu mundur, menjaga dirimu dan dirinya dari ketiadaan ridha Allah. Mati2an. Tidak setengah2.

 

Dik, jangan terkecoh dengan definisi siap menikah zaman sekarang. Siap menikah bukan berarti bergaji tetap dan sudah memiliki rumah. Itu bukan realistis, tapi materealistis. Jika kacamata siap menikahnya adalah kemapanan, bagaimana pendapatmu tentang Rasulullah yang justru menerima pinangan Ali untuk Fatimah? Ali belumlah mapan. Padahal sebelumnya telah banyak sahabat Rasul lain yang jauh lebih mapan sudah datang untuk meminang Fathimah. Tapi Rasulullah tolak. Sungguh bukan kemapanan yang menjadi patokan. Menikahlah ketika kamu sudah siap menikah; yaitu sudah siap menanggung konsekuensi dan kehidupan pasca nikah bersama dengan pasangan, saling melengkapi, dan melaju sinergis dalam kebaikan.

 

Dik, kakakmu ini bukanlah orang yang tidak pernah kenal perasaan jenis ini sebelum menikah. Kamu tau sendiri. Tapi waktu itu aku berusaha, dengan sekuat2 usaha untuk melepaskan diri dari kenyamanan dan kebahagiaan semu. Ya, semu. Benar2 semu. Karena justru aku gundah gulana, aku memang (sepertinya) dicinta olehnya, tapi di lain sisi aku takut dimurka olehNya. Alhamdulillah, bisikan itu datang, aku sharekan untukmu, ya “Lebih baik sakit hati saat ini dibanding mati hati. Tidak peka membedakan, bahkan tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Ilah yang sudah tertukar. Jika orang sakit masih bisa sembuh dan hidup normal, sedangkan kalau orang sudah mati?  Bisakah ia hidup kembali? Rasanya hati pun seperti itu.”

 

Dik, jangan khawatir dengan ketentuan Allah, jangan mengada2, jangan mendahului dengan sok komitmen2an, jangan terpedaya dengan janji manis. Ini adalah ujian keimanan. Ini adalah ujian aqidah. Seberapa besar kamu mempercayai perkataanNya, janjiNya, dan rezekiNya. Sungguh yang tampak manis, belum tentu barokah. Bisa saja itu adalah gula2 yang ditaburkan oleh setan yang selalu menginginkan anak manusia tergelincir dalam kesalahan. Putuskan dengan berani dan tanpa tawar, maju atau sudahi.

 

Sumber  : http://orangeumar.blogspot.com/2012/10/memperjuangkan-cinta.html

 

***

 

Kalau di bukunya Ust Salim, NPSP, di cover bagian belakang buku itu tertulis :

 

“Alangkah seringnya, mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka, dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan, setitis cicipan surga, kan menjadi shadaqah berpahala.”

 

 

Karena :

 

Bagi lelaki shalih, ketika ia jatuh cinta pada wanita, pilihannya hanya 2: segera meminangnya atau mempersilakan lelaki shalih lain yang menjemputnya. Karena baginya, tidak pantas bermain dengan hawa nafsu dan janji yang tak pasti

 

— (Nadhif Fa’izun, 2011).

 

Karena cinta pun perlu ilmu cah bagus. Belajar, belajar, belajar!! 🙂

Memilih untuk beranjak dewasa

Memilih untuk beranjak dewasa, seringkali mengantarkan kita ke jalan dengan batu yang lebih terjal dan tanggung jawab yang lebih besar. Hingga tersebab olehnya, semakin terbatas pula pilihan yang ada. Namun kemudian perlu kita sadari, bahwa sejatinya, pilihan-pilihan yang kita punya itu adalah nikmat dan ujian dalam waktu dan bentuk yang serupa.

Tentang pilihan sebagai nikmat, kita belajar dari pilihan sederhana untuk berangkat kuliah atau tidak, sementara untuk seseorang di waktu dan tempat yang berbeda, pilihan kuliah ini hanya ada di batas angan saja karena terwajibkan bekerja untuk keluarga.  Kemudian pilihan adalah tentang ujian, bahwa hidup itu selayaknya sebuah bangunan yang tersusun dari tumpukan dan polesan pilihan yang kita ambil setiap hari. Pun sekecil apapun pilihan itu, akan berpengaruh terhadap bentuk akhir bangunan yang bernama hidup. Pilihan untuk shubuh di masjid atau mendekap guling kembali, pilihan untuk mengeluh atas lelah atau bersyukur dengan menjadikannya Lillah.

Maka jadikanlah pilihan-pilihan itu, sebagai sebab pahalamu. Karena dinasehatkan untuk kita, kadar pahalamu sebanding dengan kadar kepayahanmu.

–  RN dan AN, dengan beberapa perubahan.

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Alloh lebih tahu tentang kita.

Jadikan cintaku padaMu, Ya Allah, berhenti di titik ketaatan, meloncati rasa suka dan tak suka. Karena aku tahu, mentaatimu dalam hal yang tak kusukai, adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala. Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.

– Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang