Beyond RIM Yogyakarta

Kamu tahu Jar, demikian kata salah satu PM ketika pak Anies sedang di atas panggung, PM terutama yang dari UGM, justru dulunya bukan berasal dari kalangan aktivis organisasi yang namanya moncer ke seluruh penjuru dunia persilatan politik kampus. Bisa kamu lihat, kami yang hadir di sini, justru mungkin dulu namanya tidak seterkenal mereka-mereka itu. Pernah sesama kami diskusi soal itu, dan kamu tahu apa kesimpulannya?

Cari tahu saja sendiri.

***

Alhamdulillah dua bulan ke belakang saya diberi kesempatan untuk bisa belajar lagi, meskipun sudah paska kampus, belajar bagaimana mengelola sebuah event. Yang spesial, bukan jenis acaranya, karena insya Allah dulu ketika jadi mahasiswa juga sudah pernah ngurusin event skala nasional.

Yang spesial tentu adalah orang-orangnya, semua yang terlibat di dalamnya, semua yang bisa jadi bahan belajar baru untuk saya pribadi, mereka-mereka yang jadi bukti bahwa terkadang yang penting itu bukan what you get, tapi what you become setelah mengalami sesuatu.

Bertiga belas, berdua bulan, bertarget 3000 orang. Namun proses itu akan terlalu panjang kalau di ceritakan di sini, maka yang akan tertulis hanyalah beberapa kerat yang sempat membekas dalam di pikiran.

***

Cerita pertama, adalah tentang PM. Kami bertiga belas, di supervisor-i oleh salah seorang PM angkatan 2, mbak Fara, dan beberapa PM lain yang juga turut membantu dan mau sibuk untuk hadir dalam rapat, cuti kerja waktu hari-H, ikut jadi ticket box dsb. Banyak sudah cerita yang saya baca dan dengar tentang PM, di blog IM, di notes pribadi mereka, atau di buku IM. Tapi beda sekali rasanya berhadapan person to person dengan beliau-beliau itu.

Pertama jelas, soal kematangan karakter dan pribadi, bahkan kami ber-13 yang sudah mau paska kampus pun masih seringkali seperti anak kecil, emosi sana-sini dan kurang bisa mengontrol tanduknya ketika rapat. Di situlah, petuah (ya, petuah) dari beliau-beliau itu bisa jadi setetes air di padang gurun (agak lebay sih). Kami yang notabene udah hampir sampai di fase paska kampus, ternyata masih seperti anak SD di depan mereka. Kematangan itu, entah sebagai hasil dari setahun mengabdi sebagai PM, atau memang sudah menjadi bawaan dari masing-masing pribadi. Yang pasti, kami ber-13 jadi punya standar baru untuk dikejar. Kali ini bukan hanya soal materi, tapi bagaimana mematangkan pribadi.

Juga soal percakapan di awal tulisan ini, sebenarnya apa yang hilang dari para aktivis-aktivis itu? Kepedulian kah, atau standar yang terlalu tinggi kah, kurang membumi kah, atau memang tidak ada yang berminat mendaftar sejak awal, entahlah.

***

Gelas ini (sambil menunjuk dada) tidak akan pernah penuh, lanjut beliau mengakhiri percakapan kami. Setiap momen, setiap wajah baru, setiap pertemuan mengandung pelajaran dan potensi pendewasaan-nya masing-masing. Lihat baik-baik, dengar dengan seksama, dan belajar banyak-banyak.

***

Cerita kedua, akan sangat subjektif kalau di sampaikan di sini.

Namun satu hal, setelah berinteraksi dengan beberapa petinggi IM, kami sadar, bahwa untuk mampu berbuat baik itu tidak hanya cukup bermodalkan niat baik.

Overall, saya bersyukur bisa diberikan kesempatan belajar banyak.

Karena kita tak mendapatkan rahasia perjuangan dari buku-buku atau kata orang, tapi dari pahit getir berjuang dan turun tangan. Berlumpur menyingsingkan lengan, memanggul senjata berpeluh, sesekali terantuk batu, bertahan mengikat ego yang siap membuas, atau terjaga sambil bermata panda. Namun di sepanjang jalannya, kita akan berkali-kali bersyukur karena dipertemukan dengan sosok-sosok yang luar biasa 🙂

Beberapa review tentang acaranya bisa di baca di sini, sini, sini, sini dan sini.

Nasehat

Baru saja dinasehati dengan sangat halus oleh Nasikun. Jadi inget tentang sebuah nasihat (hadits?), bahwa muslim satu terhadap saudaranya itu ibarat cermin. Bertemu dan sekedar melihatnya saja bisa menjadi pengingat, untuk lebih sering menengok ke dalam dan bermuhasabah, bahwa banyak hal yang masih perlu diperbaiki dalam diri, bahwa banyak hal yang perlu segera dibenahi. Pun dalam nasihat itu juga ada kekata yang dalam dan lembut tersirat, mengingatkan saya tentang twit yang pernah jadi favorit.

‘Know that if people are impressed with you, in reality they are impressed with the beauty of Allah’s covering of your sins’ ~ Ibn al-Jawzi

Kalaulah bukan karena Allah masih menutupi aib-aib kita…

Ya, kalaulah bukan karena Allah masih menutupi aib-aib kita di hadapan manusia, mungkin diri ini sudah tidak ada lagi nilainya, tak bermanfaat lagi apa-apa yang keluar dari lisan dan tulisannya, tak tertutupi lagi oleh agungnya baik sangka dari sesama.

Sementara di lain pihak, kita (atau saya lebih tepatnya) masih saja berpuas dengan kesombongan yang dipelihara. Padahal, lebih pantas saya bersering istighfar atas aib yang masih menggunung itu. Astaghfirullah.

Kalau kata Ustad Salim : kesombongan yang membuat surga tak terraih itu bisa dilatih; antara lain dengan mencintai pujian, sambutan, & tepuk tangan.

T.T

Jazakallah atas nasihatnya kuun.

Nasihat jarak jauh yang efeknya bisa berdentum sekian ribu kilo sampai ke Jogja.

Pemain dan penonton

Kau tahu bedanya penonton yang dewasa dan yang masih kanak-kanak? Penonton yang dewasa tahu bahwa pemain yang sedang bersusah payah menjaga irama permainan itu juga bisa lelah dan luput, karenanya ketika ada keluhan yang lewat di benak di penonton, keluhan itu tak sampai berubah jadi makian, justru mewujud jadi suntikan semangat yang senantiasa dialirkan dari kursi stadion, agar pemain yang mewakilinya itu bisa terisi kembali semangatnya. Sama dewasanya juga ketika penonton itu memilih untuk tidak banyak berkomentar atas hal-hal yang hanya sedikit mereka tahu. Katanya orang dan bacaan yang dia dapati tidak cukup untuk kemudian menyulut emosinya dan menjadikan pemain-pemain di hadapannya sebagai kambing hitam. Justru, yang mereka lakukan, si penonton dewasa itu, mereka akan berhati-hati dalam mencerna kekata yang sampai pada telinga mereka. Bukan justru melempar botol dan hujatan ke dalam lapangan.

Setelah berpanjang dengan kalimat barusan, ia berhenti menyeruput gelas yang masih mengepul.

Percakapan tentang pemain bola dan penonton ini muncul dan mengalir begitu saja, ditemani bergelas-gelas kopi dan berbungkus kacang. Jarang sekali kami bisa berlintasan di jalur yang sama. Kesibukan di kampus saya, paska kampusnya, jarang memberikan kesempatan kami untuk bisa beririsan. Sosok abang yang darinya saya belajar banyak hal. Dan hari ini, tentang pemain dan penonton.

Emang enak sih bang, jadi penonton. Bisa komentar dan produksi kritik sekenanya, tapi toh tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.

Ya, saya dan beliau sedang melanjutkan obrolan tentang bola, yang pada waktunya ternyata melebar menjadi banyak bahasan. Dari penonton dan pemain, menjadi sesuatu yang lebih nyata dalam kehidupan kami, kehidupan kampus. Kehidupan kampus kami yang seringkali terdikotomi menjadi dua golongan. Pemain, para aktivis yang tangannya tersingsing, dengan kantung mata yang menebal ketika di kelas. Penonton, anti tesis dari yang pertama.

Pemain dan penonton ini ibarat aktivis dan mereka yang hanya bisa kritis. Orang-orang yang merasa aman dengan hanya sekedar berdiri di luar garis batas, biasanya lebih banyak berkomentar, lebih nyaring dan lebih mudah ditandai dalam keseharian. Ah, tidak etis rasanya membicarakan ini. Kita ganti sudut pandang saja kalau gitu. Soal pemain. Biasanya kelompok ini tak banyak berkicau, lebih sering aksi yang menjadi senjata. Turun tangan dan langsung berlumpur dalam masalah, lanjut beliau.

Mungkin soal sudut pandang bang yang bikin beda. Si pemain sudah di dalam sistem kan, sementara yang lain hanya lihat dari luar saja. Gampangnya, ada beberapa hal yang membatasi pengetahuan si penonton soal sistem yang sedang jalan itu, sela saya.

Nah itu yang sekalinya juga perlu diperhatikan sama aktivis. Mereka tidak boleh sibuk terus dengan aksi namun tidak bisa mengelola pencitraan di hadapan massanya. Pencitraan yang positif lho maksudnya. Kenapa ini penting, karena pencitraan ini bisa jadi alat untuk melakukan trust management ke konstituennya. Ceilah berat bener. Intinya, kalau orang yang diluar tahu bahwa pemain-pemain yang dia percaya itu bener-bener kerja keras, komentar sumbang itu akan mereda dengan sendirinya. Iya ga?

Bener juga sih bang. Pencitraan dalam artian buat mengabarkan apa yang sudah dilakuin sama pemain itu dibutuhkan oleh para penonton. Asal pencitraannya ga berlebihan dan memang sesuai dengan kenyataan aja sih.

Yup, itu poinnya, ada keseimbangan antara pemain sama penonton. Lewat pencitraan positif itu pemain bisa meyakinkan si penonton kalau mereka beneran kerja, sementara penonton juga harus adil, memberikan masukan dan sesekali apresiasi atas kerja keras pemain.

Tapi bang, menyenangkan penonton itu susah e.

Betul. Dan kewajiban pemain, bukan buat menyenangkan penonton kan? Kewajiban pemain ya bermain, melakukan yang sudah menjadi kewajiabn mereka. Mendengarkan pendapat si penonton yang ingin menang, merumuskan strategi dan prioritas yang perlu dan bisa dikerjakan, lalu tinggal mulai main deh. Pastii tidak semua orang akan puas dengan apa yang dikerjakan. Karena pemain bukan alat pemuas, itu kalau kata dosenku, hahah.

Terus soal tadi bang, yang di awal, penonton yang kanak-kanak itu yang seperti apa memangnya?

Hmm, penonton kanak-kanak itu yang hanya tahu cara menyalakan api tapi tidak bisa mengendalikannya. Hanya bisa mencela dan mencari kesalahan tapi malas buat turun tangan. Tipe penonton ini jeli sekali melihat celah yang bisa digunakan untuk mengorek luka pemain. Apa saja bisa jadi bahan. Tapi kesamaannya, mereka tidak pernah mau jadi bagian dari solusi itu sendiri. Tabrak lari saja.

Wah, jahat ya.

Kalau kita ingin melihat ada perbaikan, sebisa mungkin kita jadi bagian dari perbaikan itu sendiri. Sayang kalau hanya jadi penonton dan penikmat sejarah saja. Jadi pemain, sebisa mungkin sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas kita. Pun ketika tidak bisa, jadilah penonton yang dewasa. Penonton yang selalu siap dengan suntikan energi dari kursi stadion, mengingatkan ketika pemainnya mulai lupa aturan main, dengan cara yang baik tentunya, bukan dengan lemparan botol dan kembang api.

Siap bang.

Lelah.

[..] Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran […]

 (Imam Syafi’i)

Yup, berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Di ujung hari, syukur akan terasa lebih hangat ketika 24jam itu bisa tersibukkan dengan hal yang bermanfaat.

Di ujung usia nanti, semoga desah Alhamdulillah yang mengiringi ketika kita sedang menengok ke belakang.

Selelah apapun kebaikan itu, nikmati setiap momennya, payahnya sekali, tapi kenangan dan pembelajarannya seringkali bertahan seumur hidup 🙂