Cerita tentang gurun dan hutan hujan

Ada dua jenis hati dalam definisi saya, kata beliau suatu malam.

Ya, topik ini menjadi idola memang, soal hati. Pernah tentang amalan hati, yang justru lebih berat daripada amalan fisik. Bahwa seringkali ibadah kita hanya menjadi ritual dan rutinitas semata, karena tidak ada hati yang terlibat di dalamnya. Sekali waktu kami juga berbincang tentang bahaya prasangka. Merusak hati kemudian menyebar ke segala. Lebih sering, tentang hati ini menjadi bulan-bulanan ketika tema-nya menyerempet soal rasa. Rasa yang sering muncul akhir-akhir ini, dalam fase lembab hidup kami, fase dimana semua mudah tumbuh, termasuk yang merah jambu itu.

Pertama adalah hati yang seperti gurun pasir, dan kedua adalah hutan hujan, lanjut beliau.

Berapa kali kita belajar tentang pentingnya memberikan tali kekang dalam ucapan, apalagi tulisan. Karena pikiran masih bisa kita simpan, namun ucapan dan tulisan, kita tak pernah tahu kemana akan mencari jalan. Syukur ketika ucapan dan tulisan itu bisa berakar dan berbuah yang manis nan baik, hingga tanpa sadar, tabungan kita memenuh dengan pahala dan kesyukuran. Namun bukankah lebih sering, ucapan dan pikiran itu menjadi liar dan seringkali menyerempet beberapa hal yang tidak kita inginkan. Ada hati yang mungkin tersakiti dengan tidak sengaja. Ada aib yang terungkap, baik milik sendiri atau saudara kita justru. Dan khusus, malam ini, kata beliau, kita akan berbincang tentang kekata dan tulisan yang seringkali menggores dalam, meninggalkan harapan dan perhatian yang belum semestinya tertunaikan.

Kami paham, malam ini kami akan berbicara tentang bagaimana menjaga sikap : ucapan dan perbuatan. Agar kebaikan itu tidak disalahartikan dan berakhir dengan tumbuh suburnya si merah jambu di lahan yang sudah lembab itu.

Karena seringkali, kata beliau, kebaikan itu di anggap sebagai kepedulian atau ketertarikan. Kepedulian yang akan menimbulkan rasa nyaman, walaupun tidak dimaksudkan demikian oleh si empunya hati. Kepedulian yang disalahpahamkan.

Hati yang pertama ibarat gurun pasir. Gurun yang dijaga oleh mereka-mereka yang mencukupkan diri dengan kepatuhan pada kewajiban untuk menjaga diri sebelum waktunya. Menjaga interaksi, menghindari berduaan dalam keramaian, memilih untuk tidak berpesan singkat yang tidak penting atau sampai larut malam, dan menjaga nada suara agar tidak mendayu melenakan. Inilah gurun, gurun yang kering dengan sengaja, hingga siap menerima hujan yang turun dari-Nya pada waktu yang tepat. Hujan yang lebat, yang memberi kebaikan, yang terus-menerus, yang memenuhi bumi, yang datang dengan segera dan tidak tertunda, yang bermanfaat serta tidak membahayakan. Hujan yang datang bersama dengan janji : laki-laki yang baik untuk wanita yang baik.

Gurun ini, lanjut beliau, adalah seperti hati antum sekalian. Bagaimana rasanya mendapat pesan singkat dari si jilbab biru. Pasti maknyes sekali rasanya. Persis semisal hujan yang turun di tengah keringnya gurun. Pesan singkat yang mungkin biasa bagi pengirimnya, namun termaknai begitu spesial oleh kita. Maknyes sekali. Dan pilihannya adalah, menumbuhkan sesuatu dari tetesan itu, atau kemudian menguapkannya lagi. Begitu juga dengan : sapaan ketika rapat di balik hijab, kelebatan ketika hendak ambil wudhu, tawaran meminjamkan laporan dan tugas, message atau wall post di sosial media. Tetesan-tetesan seperti inilah yang seringkali menjadi awal terhijaukannya gurun antum. Maknyes yang seringkali hanya buah dari salah paham, kebaikan yang disalahartikan, perhatian yang tidak dimaknai ala kadarnya. Pilihannya adalah, menumbuhkan sesuatu atau kemudian menguapkannya lagi.

Kami pun tersenyum mafhum. Saling memandang satu sama lain dan kemudian melepas tawa tertahan.

Bagaimana menguapkannya, antum semua sudah lebih dari sekedar tahu caranya, kata beliau.

Kemudian beliau melanjut, bahwa hati yang kedua adalah ibarat hutan hujan tropis. Lembabnya luar biasa. Rapat dengan pepohonan, bukan hanya rumput namun sampai dahan yang menjulang ke angkasa. Hujan pun sudah tidak berguna, karena tanahnya mati rasa. Yang kedua ini, harus hati-hati, karena mati rasa ini dimulai dari terlalu biasanya kita dalam interaksi. Encer dan sudah tidak lagi mengindahkan yang semestinya. Perhatian-perhatian yang salah alamat sudah menjadi makanan sehari-hari. Tidak ada keinginan untuk mengakhiri, menguapkan, bahkan justru dipupuk dengan sadar.

Jam malam yang terlanggar karena pembenaran atas nama organisasi. Interaksi yang mencair dengan alasan sudah dianggap teman sendiri. Masih banyak lagi.

Jeda.

Ruang bagi kami untuk berpikir. Tentang seberapa lembab hati kami selama ini. Tentang seberapa banyak tetesan yang sudah dibiarkan diam-diam. Tentang seberapa banyak kecambah yang mulai mengakar. Atau justru sudah menjadi hutan.

Sejatinya memang tema favorit, diskusi malam itupun menjadi segar. Malam berganti pagi. Doa rabithah teralun. Tangan menengadah. Khusyuk. Semoga doa itu bisa berpilin, menyatu dan kemudian melangit. Menjaga hati-hati ini, agar tetap menggurun hingga tiba waktu yang tepat untuk bisa meminta hujan.

Menuju Puncak

Saya mau cerita mas, demikian pesan singkat itu akhirnya terkirim, ditengah perjalanan pulang ke asrama.

Kenapa akhi, saya insya Allah sebentar lagi sampai, ketemu di roso-roso ya.

Saya merasa gagal mas. Sambil duduk dan meletakkan tas, saya menyambutnya dengan cerita itu. Saya sedang lembab ternyata.

 

Mendaki menuju puncak…

artinya akan sering berurusan dengan si-kuasa

akankah iman ini mudah leleh ditawar olehnya?

akankah shalat2 ini diduakan, ditigakan oleh kepentingan dengannya?

masih akankah ada keberanian untuk menolak apa yang harus ditolak?

 

Dulu, saya pernah bilang, saya takut ketika saya yang diamanahi untuk berdiri di depan. Saya bukan orang yang serba bisa, saya tidak bisa ngemong orang, saya juga bukan seperti mas yang bisa konsisten menjaga ruhiyahnya. Saya takut kesibukan saya akan memakan semuanya. Amal yaumi yang masih saya coba tata itu, saya takut akan berantakan lagi. Saya takut shalat saya akan terduakan, tidak lagi bersegera ketika dipanggil, namun terkalahkan pembenaran oleh rapat dan janji dengan yang lain.

Beliau mengulurkan senyum dan menatap saya dalam-dalam.

Kamu kan ga sendiri di depan akh. Masih banyak yang bisa di andalkan, mereka yang akan menemanimu di sana, saling menjaga dan mengingatkan ketika mulai berbelok. Bukan hanya soal organisasi, tapi sebagai sesama saudara seperjuangan. Niatkan ini sebagai ibadah. Libatkan Allah dalam setiap keputusan. Insya Allah akan banyak hikmah yang bisa terambil di sepanjang perjalanannya.

Kamu kenapa tho?

Pikiran berkecamuk. Banyak yang mau disampaikan. Dan bendungan itupun jebol.

Saya takut mas. Sering tidak enak ketika mengusulkan menunda rapat hanya karena sudah adzan. Sama tidak enaknya juga ketika terpaksa mengajak yang lain ke mushola. Pun ketika saya harus menolak beberapa hal, karena tidak sesuai dengan prinsip yang saya bawa. Saya bingung. Bukan tentang apa yang perlu di iyakan dan mana yang harus di tolak, insya Allah saya sudah jelas. Tapi bagaimana menolaknya. Bagaimana mengemasnya dengan cantik, seperti saran mas.

Membungkusnya dengan senyum di awal, beliau menjawab pertanyaan yang beruntun itu.

Kamu tahu kualitas apa yang seringkali lupa dicamkan oleh seorang pemimpin?

Saya menggeleng.

Keteladanan akhi. Keteladanan, bukan hanya ketika ia tampil di depan, namun keteladanan dalam bersikap, berbicara, bahkan ketika bercanda. Ada yang menganggapnya sebagai beban, ada yang sama sekali tidak memperdulikan kewajiban ini, ada juga yang mensyukurinya sebagai sebuah bentuk tanggung jawab dan anugerah.

Sederhana saja. Kamu bisa memulainya dengan keteladanan. Ia akan banyak berbicara. Seringkali tanpa suara, namun dalam bekasnya. Ketika memang sudah waktunya, beranjaklah. Karena panggilan mana lagi yang lebih mulia daripada panggilannya. Ketika memang bertabrakan dengan waktu sholat, sampaikan saja, dengan cara yang baik. Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan prinsip, jelaskan baik-baik. Keteladanan seperti itu yang akan mengalahkan kata. Karena yang kita lakukan, seringkali membekas lebih dalam daripada sekedar yang kita sampaikan.

Mendaki menuju puncak…

artinya akan banyak tuntutan janji pada manusia

akankah terlupa siapa sebenarnya Yang Kuasa memenuhi janji?

masih akankah terucap “insyaAllah” penuh keikhlasan,

bahwa diri ini tidak akan kuasa memenuhi sedikit pun janji?

 

Kalau soal program gimana mas? Saya sadar kalau saya terlalu menyeret yang lain ke dalam target-target yang saya buat. Mas pernah bilang, never promise what you cant perform. Dan saya baru sadar apa itu artinya sekarang.

Banyak tuntutan dan banyak permintaan memang. Namun tugasmu bukan untuk menyenangkan semua orang akh. Karena itu kita belajar tentang prioritas. Bahwa dalam satu tahun, yang akan tinggal sebentar lagi itu, kamu perlu menatanya dengan bijaksana. Satu tahun tidak akan pernah cukup untuk menyenangkan semua orang.

Yang lebih berat justru, mempertanggungjawabkan semua janji itu ketika di hari akhir kelak. Semua yang terucap, selama kampanya, pemaparan agenda di awal tahun, hingga sepanjangan jalannya, kamu maknai itu bukan hanya sekedar program saja, namun itu adalah janji dan amanah, yang bukan hanya ditagih ketika LPJ, namun diminta pertanggungannya di akhirat kelak.

Kami menghelakan nafas seirama. Sama-sama sadar bahwa ini bukan main-main.

Pertanggungjawaban akhir periode bisa dengan mudah dilewati. Namun yang berat adalah, mempertanggungjawabkan amanah ini di hadapan-Nya kelak. Berapa hati yang sudah tersakiti, berapa janji yang belum terpenuhi, berapa waktu yang terbuang percuma, berapa manfaat yang sudah tertoreh, menjadi tabungan pahala kah, atau justru investasi dosa yang akan berlipat setiap tahunnya?

Iya mas, saya sadar. Saya memang belum bisa berbuat yang terbaik.

Mendaki menuju puncak…

artinya akan banyak partner2 yang membersamai

akankah pendakian itu bersama mereka yang ingat Tuhannya?

ataukah bersama mereka yang penuh harap akan dunia

yang hatinya telah lalai, menuruti hawa nafsu dan melampui batas?

 

Namun kamu bisa sedikit bernafas lega. Aku tahu kamu sudah menemukan lingkaran sosial yang kokoh dan baik. Anugerah dibalik amanah. Anugerah, bahwa masing banyak yang menginginkan kita untuk menjadi baik, mengingatkan kita ketika sedang lupa, meluruskan ketika sedang bengkok, dan menjaga semangat kita ketika sedang futhur. Jaga diri, jaga hati baik-baik, jaga mereka.

Menemukan mereka yang cocok untuk bersenang-senang itu sangat mudah. Tapi kemudian  memilih mereka yang bernafas dengan semangat yang sama membutuhkan ketelitian. Karena merekalah yang akan membersamai-mu, menjagamu selalu berada di dalam jalan yang seharusnya, right on the track. Mereka yang ketika melihat wajahnya saja sudah membuat kita iri, iri akan kesholehan dan kedekatan mereka. Mereka yang bisa jadi rival dalam berbuat kebaikan, dalam mengingat-Nya.

Mendaki menuju puncak…

artinya akan berteman dengan beraneka harta

akankah terucap oleh batin, “ah, aku lebih mulia dari dia”

akankah terukir dalam hati, “sungguh, ini semua tidak akan pernah binasa selamanya”

masih akankah berserah diri pada yang Maha Kuasa?

Berada di depan, berarti siap diberikan ujian berupa sarana menuju kesombongan. Kapan terakhir kamu memeriksa hatimu. Kapan terakhir terucap dalam batin, meski hanya kamu dan Allah yang tahu, bahwa kamu lebih mulia daripada dia. Kesombongan yang mengintip, atau bahkan sudah lahir dan terselip dalam bentuk mimik muka, ucapan dan tindakan.

Saya tertunduk. Menatap lantai dan meraih ke dalam. Bertanya kemudian, kapan terakhir kali saya memeriksa hati saya sendiri.

Mendaki menuju puncak…

artinya akan banyak ilmu yang jadi amanah

masih akankah sedia bersusah payah, istiqomah mencari ilmu?

akankah sedia belajar dari yang tidak lebih mulia?

bisa kah terus menghadirkan sabar pada hikmah2 yang belum nampak?

 

Dengarkan nasihat ini baik-baik akhi. Semakin sibuk kita, maka harusnya semakin terjagalah waktu dan ibadah kita. Kelelahan dan keterbatasan waktu bukan jadi alasan untuk menomorduakan ruhiyah. Karena apa gunanya berpayah dalam amal tapi tidak terjaga dalam niat dan keihlasan. Jiwa yang kering akan lebih mudah berbelok, kebasahan batin hanya bisa dijaga dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya.

Tertohok dalam.

Kita juga seringkali lupa, mengisi kembali teko kita yang sudah hampir kosong. Bagaimana rasio rapat dan kajianmu. Bagaiman rasio ilmu dengan amalmu. Masihkah seringkali berpuas dengan pembenaran untuk menghindar dari undangan majelis ilmu hanya karena alasan kesibukan. Karena ilmu selalu ada sebelum amal.

Semakin dalam, tertegun dalam.

Mendaki menuju puncak…

artinya akan banyak kuasa kita di muka bumi

akankah perlakuan adil diberikan pada manusia?

menghukum hanya yang aniaya, memfasilitasi kebaikan yang berbuat baik

masih akankah ada niat ibadah pada Yang Kuasa?

Dan ini yang paling penting. Soal niat. Masihkah lurus atau sudah cacat berbalut pamrih. Karena berada di puncak memberikan kesempatan untuk bisa berbuat tidak adil. Menghukun yang aniaya, memfasilitasi yang baik. Atau sebaliknya. Hanya agar dianggap inklusif, mengorbankan yang prinsip dan mengebiri yang pokok.

Masihkah niat itu terbalut sebagai keinginan untuk beribadah?

Karena menjadi batu bata yang siap ditempatkan dimanapun, di dalam pondasi, di atap, atau bahkan di potong sebagian ketika dibutuhkan, tidaklah mudah. Tidak mudah memang. Tapi justru itu yang membuatnya jadi sebuah perjuangan bukan. Semua ada peran masing-masing. Insya Allah kamu bisa. Jangan pernah merasa sendiri.

Siap mas.

***

Ada fiktifnya, ada nyatanya, dengan beberapa penyesuaian dari pengalaman yang pernah saya alami.

Momennya pas sekali kemarin. Setelah baca puisi-nya Levi, pesan singkat masuk, dari salah seorang rekan seperjuangan di kampus.

“Tadi ke kampus, ternyata baru heboh Biophoria. Tiba-tiba jadi inget Fajar. Biophoria pertama ya Jar. Semoga memang positif. Amin.”

Pikiran berkecamuk. Semoga memang positif. Amin.

Dear FAM,

Dear FAM,

Ya, abang udah lihat.

Foto penyambutan kalian berempat yang gegap gempita itu. Prosesi penyambutan, seperti aku ceritakan kemarin malam-malam itu, dimulai dari angkatan kami, yang pulang dengan lima emas enam perak dan empat perunggu.

Semoga satu emas, dua perak dan satu perunggu yang kalian bawa pulang kemarin bisa membangunkan raksasa yang dulu ditakuti semua orang itu, raksasa yang mulai (atau sudah?) kehilangan pesonanya, yang gaung suaranya saja sudah hampir tidak terdengar lagi. Bangunkan dia, ajak yang lain juga, agar tahun depan dan seterusnya, bangunan segilima itu bisa lagi menggegap malam-malam, menggempita dengan ucapan selamat seperti malam kemarin itu.

Ah iya, soal si bangunan segilima, yang waktu kami dulu, ia begitu disakralkannya, sampai-sampai melintas di tengah saja, ketika tidak ada acara khusus, bisa kena push up. Kami harus memutarinya ketika berpindah. Tapi kemarin, kalian dapat satu podium di sana, dan kamu, di foto itu, berbicara sesuatu mewakili yang lain. Iri? Pasti, karena rasa-nya masih sama saja, tidak ada yang berkurang tentang kerinduanku dengan bangunan segilima itu. Yang menyambut ketika pertama kali datang, dan melepas ketika terakhir harus pulang.

Dulu kami tidak seberuntung kalian, kami hanya di sambut di gedung olahraga, tapi dengan jajar kehormatan yang istimewa, bukan hanya siswa namun juga mereka, peleton yang prestisius itu.

Kamu akan tahu rasanya, nanti, bagaimana setiap sudut bisa jadi bahan pengaduk rindu yang mudah terbuncah, ketika kalian sudah meninggalkan kampus dan menuju dunia nyata. Kamu akan tahu rasanya, bahwa menjadi siswa, apalagi yang berkesempatan dipanggil untuk olimpiade, adalah sebuah kemewahan. Kemewahan pertama jelas, bisa sejenak keluar dari kampus, kemewahan untuk bisa sekeras mungkin belajar, habis-habisan mengejar sesuatu yang bukan hanya untuk dirinya. Belum lagi soal kemewahan untuk merasakan siklus belajar-tes-makan-belajar-tes-praktikum-makan, dengan seolah-olah tidak ada yang lain yang perlu dipikirkan. Bukan ujian akhir yang sudah di depan mata, bukan pula perut yang semakin membuncit dan akan sangat merugikan ketika samapta.

Kamu akan tahu rasanya, bagaimana setiap wajah, tiga ratus yang setiap hari kita temui itu, bisa menjadi pengingat, bahwa ketika keluar dari sana, alumni bukan hanya sekedar label semata. Ada kewajiban yang perlu ditunaikan, dan janji yang harus dipenuhi. Entah 20 tahun, seperti dalam lagu yang terkenal itu, atau justru seumur hidup. Dengan alasan itu pulalah, kemarin aku berani bercerita kepadamu, tentang alasan kenapa aku belum pernah menginjakkan kakiku sampai sekarang di boulevard itu. Bahwa bagiku, reuni itu bukan untuk nostalgia. Reuni adalah momen untuk menagih janji alumni.

Why so serious. Segitunya kah? Bagiku iya. Kalau belum jadi apa-apa, malu rasanya kembali ke sana dan kemudian tertawa-tawa, mengenang masa lalu demi sekedar rasa bangga untuk menenangkan diri. Seorang abang pernah bilang kepadaku, biarkan aku mencintai kampus ini dengan caraku sendiri. Dan sekarang giliranku yang akan mengatakannya kepadamu : biarkan aku mencintai almamater ini dengan caraku sendiri.

You may judge me as you please.

Kemarin, ketika aku bilang bahwa aku sengaja tidak datang reuni akbar itu, aku tidak sedang bercanda. Karena waktu itu, dan aku tidak mengatakannya dengan penuh kebanggaan, bahwa aku bahkan belum lulus. Hanya atas nama agar bisa bertemu dengan teman lama, aku tidak bisa kemudian melanggar janjiku. Aku malu, karena masih belum ada apa-apanya, belum jadi apa-apa. Hahah, kenapa semua malah jadi tentang aku?

Sekali lagi selamat ya, abang luar biasa bangga. Abang tahu benar, bagaimana kamu pernah berada di persimpangan yang tidak mudah, untuk mendelegasikan amanah super besarmu itu demi berangkat ke Salatiga, dengan segala resikonya. Abang tahu benar, bagaimana rasanya terintimidasi oleh mereka yang selalu terlihat luar biasa ketika tutorial dan tes simulasi. Namun di akhirnya, kamu bisa menunjukkan bahwa kerja keras itu tidak akan pernah sia-sia, bahwa doa akan selalu di dengar.

You deserve it.

Tapi jangan terlena, yang berat sudah menunggu di depan. Bagaimana membuat adik-adikmu meneruskan tradisi ini, membangkitkan lagi raksasa yang dulu pernah ditakuti. Itu justru lebih berat dari sekedar menyemangati diri sendiri.

Satu lagi, another gold is waiting for you. Go get it. GST emas, ya? 🙂

Nama-nama baru dalam doa kami

Bohong namanya kalau saya bilang saya tidak kangen masa-sama olimpiade dulu waktu SMA. Masa-masa ketika bebas bisa di terjemahkan sekehendak hati. Belum ada yang dipikirkan, belum ada yang jadi beban, anak sma yang hanya tahu makan, belajar dan berlomba di akhirnya, dapet uang jajan lagi. Nyaman dan melenakan sekali rasanya, hampir tiga bulan lebih bergulat dengan Campbell dan teman-temannya, menekuni berbagai soal yang bahkan seharusnya belum saatnya

 Itu dulu.

 Dan kemarin, Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk bisa mengulang seberkas kenangan itu. Berkat ajakan Yanuar, di izinkan untuk bisa turut membersamai adik-adik kontingen OSN Biologi 2012 di Salatiga, Wisma Bina Dharma. Bukan seperti wisma kami dulu yang tinggalan Belanda, dengan langit-langit tinggi, jendela besar dan kamar mandi remang-remang.

Selain Yanuar, ada Reymond dan juga Christie. Short update karena Christie ada tugas jaga malam, sementara Reymond cuma tiga hari di sana. Nyaman rasanya, bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan dulu untuk mengamini kembali mimpi-mimpi kami yang dulu sempat saling menyaingi. Satu di Taiwan, satu koas di Solo, satu sebentar lagi Master di Turki dan insya Allah satu lagi akan menyusul ke Jepang. Dan tentu saja, satu lagi, yang spesial dari semuanya, tetap di Salatiga. Bu Pur, yang dengan sabar menunggui kami ketika lembur di LPMP dulu, yang dengan sabar mencarikan cacing untuk dibedah dulu, yang dengan sabar (bersama Mr Gimin) menjadi bagian dari kenangan indah waktu itu.

 

Dan juga tentang mereka. Bersebelas yang resmi menjadi nama-nama baru dalam doa kami. Semangatnya. Rasa ingin tahunya. Isengnya. Ga mau kalahnya. Saling bully-nya. Ah, anak muda. Kalian memang luar biasa.

Besok pagi, mereka akan bertanding di ajang yang dulu sempat kami cicipi. Olimpiade Sains Nasional.

Selamat berjuang boi, semoga dimudahkan dan diberikan hasil yang terbaik. Semoga doa ini bisa sampai ke Jakarta 🙂

***

Update 🙂

Alhamdulillah, setelah kerja keras dan perjuangan, B’JAT (Biologi Jateng) 12 akhirnya bisa mempersembahkan hasil terbaik di OSN kemarin.

Emas : Titis | Kharis | Yusuf | Firman

Perak : Ferias

Perunggu : Yasmina | Asri

Bahwa kerja keras tidak akan pernah sia-sia, bahwa setiap doa akan terjawab dengan cara dan waktu terbaik.

Alhamdulillah :’)