THIS!!

Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.

– Tere Liye

 

dan, nyambung ke post-nya si Bayu 😀

A Dream Job.

Kelak, aku akan menapaki sedikit demi sedikit bumi ini, dengan tas berisi kamera, beberapa lembar buku kosong, dan sebongkah semangat.

Akan kuisi tiap lembar kertasnya dengan cerita tentang semua, tentang perjalanan itu, tentang langkah yang menjadi berpuluh ribu. Aku hiasi pula nanti dengan momen momen indah selama perjalanan. Tidak lupa aku cecerkan semangat dan senyuman disetiap jalan setapak yang aku lewati nanti.

Ah. Tuhan. ini pekerjaan impian saya.

 

Growing up

 

#Family

 

Berawal dari cerita OIAA, tentang orang tua. Juga berkat statusnya Levi.

2 jam “tertahan” oleh seorang bapak. 75 tahun usianya…

Betul memang kata orang, yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan sesepuh, bukanlah mulut yang pandai berbicara. Cukup 2 telinga yang sabar mendengar.

Banyak hal yang beliau ceritakan: pipa drainase, kriminalitas, supir taxi, istrinya, anak2nya, pernikahan, kehidupan johor & tanjung pinang, suap, ketegasan singapore, kebijakan tempat tinggal, kesehatan, dan masih buanyak lagi.

Sebagian besar lupa.. Tapi ada satu kalimat yang sungguh ngena:
“saya pelihara anak, anak tak pelihara saya”…. T__T

Kalau sudah tua nanti, mungkin bukan sekedar uang yang mereka perlukan. Melainkan juga: waktu untuk bersama, telinga untuk mendengar, dan wajah untuk tersenyum…

Dan kemarin, ketika di rumah, Ibu minta di ajari pakai laptop karena akan ada ujian penyetaraan guru besok 2013. Dari mulai nyalain sampe buka word dan IE.

Lha karang wis tuwo yo Le, sing sabar Le ngajarin Ibuk.

*nangis dalam hati*

Serta nasehat dari pakbos ini :

Life plan, target-target dalam hidup, the so called panggilan hati untuk berkontribusi demi orang lain, plan jalan-jalan, kapan kita kemana, sudahkah memasukkan variabel : bahwa sejatinya kita adalah putra/putri yang wajib membaktikan diri kepada orang tua, bahwa waktu untuk keluarga seringkali di nomor sekian-kan, bahwa keluarga adalah nikmat yang sering kali lupa kita syukuri, yang bahkan mungkin tidak di anugerahkan ke semua orang 😦

Love our parents, sometimes we are too busy growing up, we often forget that they are also growing old :’)

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

 

OIAA 4

OIAA (Obrolan Iseng Ala Alkemis) seri ke empat. Tofa absen, digantikan bintang tamu Wildan dan Puja.

Karena sudah moving, bukan lagi lantai kotak-kotak, tapi lantai berpola macan, hadiah dari induk semang. Tema-nya agak serius, sambil menyaksikan sidang itsbat yang heboh di tipi, beragam diskusi muncul tentang penentuan awal Ramadhan tahun ini. Kenapa ga bareng, kenapa ga di samakan, kenapa ga ada yang mengalah, dan kenapa sidang itsbat lebih penting dari sidang skripsi.

Ini ada kultwit dari Ust Moh Fauzil Adhim (@kupinang), semoga bisa banyak hikmah yang bisa di ambil 😀

1. Sungguh, inilah ujian apakah kita mendahulukan nash ataukah ego & pendapat pribadi/kelompok; mendahulukan dien ataukah kelompok

2. Inilah saatnya kita mempertanyakan konsistensi sikap terhadap dien; pun konsistensi metodologis dalam beragama

3. Ada dua persoalan trkait prkara penentuan awal Ramadhan; pertama, apakah pemerintah RI trmasuk ulil amri yg memegang otoritas atau tidak.

4. Keyakinan ttg ini berimplikasi terhadap keharusan u/ taat pada putusan pemerintah atau tidak terkait penentuan awal Ramadhan & Syawal.

5. Adapun bagi yg sampai pd keyakinan, brdasarkan nash yg dikaji scr seksama, bahwa pemerintah saat ini bukan ulil amri pemegang otoritas >>

6. >> maka persoalan berikutnya terkait metode penentuan awal bulan. Pertanyaannya, adakah kita bersedia untuk tunduk pada sunnah?

7. Inkonsistensi kadang terjadi karena persoalan fanatisme. Kadang juga inkonsistensi dalam berpegang pada nash. Menyatakan berpegang >>

8. >> pada Al-Qur’an & As-Sunnah, tetapi dalam sebagian perkara mengesampingkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

9. Inkonsistensi sikap juga kadang terjadi karena menggunakan nash umum untuk perkara khusus. Mengambil nash yang umum untuk menjelaskan >>

10. >> perkara khusus yg telah memiliki pijakan nash yg jelas, khusus pula terkait masalah tsb. Pertanyaannya, adakah kita mau berserah?

11. Berserah berarti mengikuti apa yg bersesuaian dg keyakinan berdasar nash shahih; terkait sikap thdp pemerintah maupun metode penentuan.

12. Berserah juga berarti mendahulukan apa yang kita yakini berdasar bukti yang jelas meski belum ada persiapan untuk makan sahur (spesial).

13. Berserah juga berarti mendahulukan apa yang kita yakini berdasarkan pijakan kuat meski sudah terlanjur bikin persiapan sahur istimewa.

14. Tak ada perintah agar puasa hari pertama menunya harus spesial. Dahulukan syari’ah daripada menu yang istimewa.

15. Sungguh, yang lebih perlu kita siapkan agar istimewa adalah ilmu dan iman kita menyambut Ramadhan agar tak berakhir tanpa pahala.

16. Sungguh, kelak kita akan pertanggung-jawabkan diri kita. Maka bekali diri dengan ilmu.

17. Aku tidak bertanya, kapan engkau mulai berpuasa (esok atau lusa), tapi adakah engkau memutuskannya dengan pijakan yang kuat?

18. Ataukah kita mengambil keputusan krn imma’ah (ikut-ikutan) ataukah punya pijakan yg kuat sebagai konsekuensi sikap yg kita yakini?

19. Merenungi sejenak firman Allah Ta’ala, “ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا” QS. Al-Israa’, 17: 36

20. Merenungi sejenak firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. >>

21. >> Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” QS. Al-Israa’, 17: 36

22. Janganlah engkau memudah-mudahkan diri dalam perbedaan pendapat, sehingga mematikan kesungguhan menuntut ilmu & mengkaji dasar pijakan.

23. Sebagian orang mendasarkan diri pada hadis dha’if “اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ Sesungguhnya perbedaan pendapat di kalangan ummatku >>

24. >> adalah rahmat.” (HR. Al-Baihaqi), lalu dengannya menutup diri dr keharusan u/ mempelajari dien ini shg senantiasa disibukkan oleh >>

25. >> perbedaan pendapat tanpa pernah lagi mengetahui mana yang jelas pijakannya, mana yang tidak. Bahkan tak mau lagi menelisik sunnah.

26. Sedemikian jauh sehingga banyak yg tak lagi mengenali koridor perbedaan pendapat; apa batas-batas berbeda pendapat dalam perkara hukum.

27. Semoga yang sederhana ini bermanfaat. Sekali lagi, persoalannya bukan besok atau lusa, tapi apakah dasar yang engkau jadikan pijakan?

Belajar, belajar, belajar 😀

Target keren Ramadhan

Ideas worth spreading. Share artikel mjj buat amunisi Ramadhan yang sudah di ambang pintu.

TARGET KEREN RAMADHAN

oleh : Anugerah Perdana

Gimana nih target ramadhannya ?

Begitulah pertanyaanku pada beberapa teman, dengan tujuan agar diri ini lebih termotivasi dalam beramal. Dan memang harus ada trik tersendiri biar mereka-mereka buka kartu, soalnya takut dianggap riya.

Dan ternyata jawabannya memang pada muantap!

Tilawah everyday, khatam Al Quran, shalat dhuha minimal lima kali kali sepekan, tarawih pantang bolong, baca sekian buku selama ramadhan, dzikir pagi dan petang, itikaf, dsb, dkk, dll, etc. Pada gaya lah pokoknya mah.

Ada juga temen yang pas saya tanya targetnya menjawab dengan mengacungkan lima jari.

Shalat lima waktu ? Bukan katanya

Khatam lima kali ? Bukan juga

Trus apa? Ternyata

Hafal lima juz Al Quran

Wooowww eh, subhanallah! Soalnya setahu dia bukan orang santai, justru padat aktifitas. Dan setahu saya hafalannya saat ditanya, baru dua juz. Artinya target dia ngafalin tiga juz selama tigapuluh hari. Suwit-Suwiw ! ikhwan idaman pisan yeuh

Dan masih banyak lagi variasi jawaban dari temen-temen saya yang ngga kalah menakjubkan. Tapi, disisi lain…

Ada juga temen yang ngejawab

Yah, minimal bisa tamat sampai surat Ali Imran deh

Saya mah yang penting ngga bales dendam pas berbuka

Target gua? Itung-itung ngelangsingin badan bo!

Puasa!? cihuy kesempatan buat maen CM (Championship Manager) seharian euy

Wah..wah..wah..sungguh dunia yang berbeda. Jadi keingetan sama ceramah super keren berjudul manusia-manusia kosong (mau dengerin? kontak saya)

Tapi inget, bagi yang emang targetnya ngga jauh sama yang saya sebut pertama tadi. Pas baca target yang di bawahnya, eh langsung ngeremehin. Jangan sombong saudaraku. Bisa saja dalam beberapa detik Allah mencabut hidayah yang diberikanNya karena kesombongan kita. Betul !?

Nyambung yang sebelumnya. Pada awalnya, sempet rendah diri juga ngedenger target-target yang sebegitu kerennya. Kok bisa ya mereka kayak gitu? Pikirku. Soalnya mereka yang saya tanya pertama itu bukan mahasiswa/mahasiswi biasa. Bisa dibilang sibuk lah, dalam artian dia memiliki amanah lain diluar aktifitas akademisnya. Ada yang aktif di Unit, ada juga yang di Yayasan, ada juga yang sambil ngajar privat, bahkan ada yang sambil jadi mentor.

Tapi…*tanpa bermaksud berburuk sangka akan keikhlasan teman-temanku itu*

Coba deh diliat lagi target ramadhan mereka. Tilawah, shalat, dzikir, dan sebangsanya. Kok amalan PRIBADI semuanya yah? Perasaan, Islam ngga sesempit itu deh.

Asa jarang ngedenger temen yang ngejawab:

Target ramadhan saya sih sedekah setiap hari, mendoakan saudara seIslam setiap habis shalat, memancing teman sekelas agar curhat lalu menyusupkan dakwah kedalamnya, ngirim sms tausiyah ke sekian orang dalam sepekan, wakaf buku baru ke panti asuhan anak yatim, dsb, dkk, dll, etc.

Kan insyaAllah yang gitu juga amal shaleh yah?

Fiuh…menilai orang lain memang mudah, tobat kamu agah!

***

Selamat menikmati Ramadhan di rumah. Produktif ya, jangan guling-guling mulu dan tahu-tahu udah Syawal aja :p
Sumbernya ini dan ini

Oleh-oleh

Salah satu yang paling berkesan dari 3142 mdpl kemarin adalah perbincangan singkat ini. Singkat namun terbekas dalam. Pas istirahat di sela-sela turun, di antara rerimbun edelweis, menghadap bukit teletubbies yang jadi trademark tempat itu, kita ngobrol soal ini. Menengok ke atas, sarat dengan kebanggaan, bahwa ternyata kita bisa juga naek setinggi itu.

Bukitnya tinggi beut ternyata ya (khas Iqbal)

Padahal nanti, bukan cuma bukit, tapi gunung kek gitu bakal jadi kek debu dan anai yang beterbangan lho. Kalau kena kepala, dezig, bisa jadi PR juga.

Yup, kek surat yang Iqbal baca tadi malem pas jadi imam. Al-Qariah.

Dan menemani sisa perjalanan turun itupun, selain lutut yang mau copot dan kaki yang senut-senut, ada bekal baru yang kita bawa. Oleh oleh. Untuk di renungkan sepanjang jalan, bukan hanya setelah selesai muncak tapi sepanjang hayat.

***

Fi Zhilalil Qur’an Surat al-Qari’ah (Hari Kiamat)

 Fi Zhilalil Qur’an Surat ke-101 ; Surat al-Qari’ah (Hari Kiamat); Surat Makkiyah, 11 ayat

1.  Hari kiamat,

2.  Apakah hari kiamat itu?

3.  Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?

4.  Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,

5.  Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

6.  Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

7.  Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

8.  Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,

9.  Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

10.  Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?

11.  (yaitu) api yang sangat panas.

Al-Qari’ah yakni al-Qiyamah. Seperti halnya ath-Thammah, ash-Shaakhkhah, al-Haaqah, dan al-Ghasyiyah mengesankan dobrakan dan tamparan. Karena kengerian peristiwanya sangat mendobrak dan mengetuk hati.

Surat ini secara keseluruhan berbicara tentang qari’ah (kiamat), hakikatnya, apa yang terjadi padanya dan apa yang menjadi kesudahannya. Ia memaparkan suatu pemandangan di antara pemandangan-pemandangan kiamat.

Pemandangan yang dipaparkan di sini adalah pemandangan yang mengerikan yang berbagai dampaknya meliputi manusia dan gunung-gunung. Sehingga di bawah bayangannya manusia tampak kecil dan lemah sekalipun jumlah mereka banyak:

“….seperti anai-anai yang bertebaran,” (4)

Mereka beterbangan tak berdaya seperti anai-anai yang berjatuhan karena binasa, tanpa arah dan tujuan! Dan gunung-gunung yang dahulu kokoh dan perkasa itu tampak seperti bulu yang dihambur-hamburkan dan dihempaskan angin dan dipermainkan hatta oleh hembusan angin! Maka di antara bentuk keserasian gambaran yang ada adalah dinamakannya kiamat dengan al-Qari’ah (sesuatu yang mendobrak), sehingga bayangan yang disampaikan oleh lafazh dan bunyi yang melibatkan seluruh hurufnya itu selaras dengan berbagai dampak kiamat itu pada manusia dan gunung-gunung! Isyaratnya menanamkan ke dalam hati dan perasaan suatu pendahuluan untuk menghadapi hisab dan balasan yang menjadi akhir dari pemandangan tersebut.

1.  Hari kiamat,

2.  Apakah hari kiamat itu?

3.  Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?

Di mulai dengan menyampaikan kata mufrad, seolah-olah bom yang dilemparkan: “al-Qari’ah”, tanpa khabar (predikat) dan tanpa shifat. Untuk menyampaikan, melalui bayangan dan bunyinya, isyarat yang bergema dan mengerikan!

Kemudian disusul dengan pertanyaan yang bertujuan memberikan gambaran kengerian:

2.  Apakah hari kiamat itu?

Ia adalah perkara yang mengerikan dan misteri yang menimbulkan kebingungan dan tanda tanya!

Kemudian al-Qur’an menjawab dengan pertanyaan yang mengisyaratkan ketidaktahuan (manusia):

3.  Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?

Ia terlalu besar untuk bisa dijangkau pengetahuan dan persepsi manusia.

Kemudian disampaikan jawaban dengan sesuatu yang terjadi padanya, bukan dengan hakikatnya. Karena hakikatnya di luar jangkauan pengetahuan dan persepsi manusia, sebagaimana telah kami jelaskan:

4.  Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,

5.  Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Itulah pemandangan pertama dari kiamat. Pemandangan yang membuat hati bingung dan seluruh sendi gemetar. Pendengar merasakan seolah-olah segala sesuatu yang dijadikan pijakan dan pegangannya di muka bumi telah beterbangan di sekitarnya! Kemudian dating penutup kepada semua manusia:

6.  Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

7.  Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

8.  Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,

9.  Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

10.  Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?

11.  (yaitu) api yang sangat panas.

Berat dan ringannya timbangan-timbangan itu memberitahukan kepada kita tentang nilai-nilai yang diakui Allah dan nilai-nilai yang tidak diakui-Nya. Hal inilah yang disampaikan oleh ungkapan tersebut secara umum. Hal inilah—wallahu A’lam—yang dikehendaki Allah melalui kalimat-kalimat-Nya itu. Karena itu, memasuki perdebatan rasional dan verbal seputar ungkapan-ungkapan ini hanyalah merupakan kegersangan akan cita rasa Qur’ani dan kesia-siaan yang timbul akibat tidak adanya perhatian yang hakiki kepada al-Qur’an dan Islam!

6.  Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

Dalam pandangan dan penilaian Allah.

7.  Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

Allah membiarkan ayat ini secara global tanpa memberi rincian, untuk menyampaikan ke dalam perasaan bayangan-bayangan keridhaan yang merupakan kenikmatan yang paling menyenangkan.

8.  Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,

Dalam pandangan dan penilaian Allah.

9.  Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

Al-Ummu adalah tempat kembalinya anak dan tempat perlindungannya. Maka tempat kembali dan tempat berlindungnya orang-orang itu pada hari tersebut adalah neraka Hawiyah! Dalam ungkapan ini ada nuansa keindahan yang tampak dan pengaturan yang khas. Di dalamnya juga terdapat kesamaran yang disiapkan untuk memperjelas dimensinya, yang menambah kedalaman pengaruh yang dimaksud:

10.  Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?

Pertanyaan yang menyatakan ketidaktahuan manusia dan kengerian, yang biasa terdapat di dalam al-Qur’an ini, untuk menegaskan bahwa persoalan tersebut berada di luar batas-batas jangkauan persepsi dan pengetahuan manusia!

Kemudian datang jawaban sebagai nada penutup:

11.  (yaitu) api yang sangat panas.

Itulah tempat kembali orang yang ringan timbangan kebaikannya. Tempat kembalinya yang kepadanya ia kembali dan berlindung! Di tempat kembali biasanya terdapat keamanan dan kenyamanan. Tetapi apa yang didapatinya di tempat kembalinya ini: Hawiyah. Api neraka yang sangat panas!

Sungguh ini merupakan kejutan ungkapan yagn mencerminkan hakikat yang sangat keras dan menyakitkan!

Sumber: Sayyid Quthb, Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an, Di bawah Naungan Al-Qur’an, Jilid 13, Robbani Press, Cetakan pertama, Oktober 2003