Skripsweet

Skripsweet.

Ingat, dulu pas lagi hectic ngerjain naskah dan pembahasan, sempat diberikan nasihat berharga dari seorang sahabat, di tutup dengan kultwit berikur. Maknyes rasanya, mood booster.

Buat siapapun yang sedang mengerjakan skripsweet dan kebetulan mampir di blog ini, semangat berjuang!!

Seputar SKRIPSI

# Menulis skripsi adalah menaklukan diri sendiri.

# Cara mengerjakan skripsi adalah potret diri penulisnya saat senyatanya kerja mandiri.

# Skripsi bukan sekadar soal riset; skripsi adalah simulasi cara berkarya/ bekerja setelah lulus kuliah.

# Menunda-nunda pengerjaan skripsi adalah mengakumulasi rasa sesal.

# Akhirnya skripsi yang ditunda-tunda itu tetap harus diselesaikan juga.

# Membaca referensi banyak-banyak buat skripsi itu baik, tapi menuliskan hasil bacaan itu jauh lebih baik :).

# Makin lama jeda pengerjaan skripsi, makin sulit memulainya lagi.

# Makin sulit memulai lagi, makin lama selesainya.

# Skripsi yang membanggakan & menenangkan seumur hidup penulisnya adalah skripsi dibuat dng KEJUJURAN.

# Sibuk mengerjakan skripsi itu baik, tapi menyelesaikan skripsi itu jauh lebih baik :).

# Dan akhirnya, skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai 😀

@aniesbaswedan

Semanggad

Iya, judulnya memang di sengaja dengan dua g, biar lebih terasa menggebu dan menggelora.

Semanggad!!

*di ucapkan dengan tangan mengepal dan mengacung ke udara

Anyway, posting kali ini hanya sekedar mengutip nasihat dari salah seorang sahabat baik. Banyak yang bisa di renungkan dari nasihat ini.

“Saat kita berada di luar sistem, hidup kita bisa nyaman utk mengkritik dan memberikan saran perbaikan utk sistem dll. Namun saat kita berada di dalam sistem, kala kita berusaha untuk memperbaiki sistem, tantangannya akan sangat berat. Walau diawali dengan niat yang kuat dan tujuan yang mulia, tapi seringkali tidak cukup. Kerja keras, konsistensi, saling pengertian + pemahaman, serta persistensi menjadi sarat mutlak untuk meraih perbaikan sistem tersebut. Bahkan kadang saat semua rekan kita telah ‘mreteli’ satu persatu dari kapal perjuangan, kita tidak boleh goyah utk ikut2an keluar, kita harus tetap di dalam dan menahkodai kapal tersebut agar sampai ke dermaga impian: terwujudnya perbaikan sistem yang didambakan oleh semua orang.

Mari kita buktikan bahwa kita bukanlah orang yang hanya bisa berkhayal kosong, atau bermimpi tanpa realisasi. Namun kita adalah pribadi2 yang mampu secara bersama-sama melakukan perbaikan; diawalai dengan niatan ikhlas karena-Nya dan tujuan mulia, dibarengi dengan kerja keras+kesabaran, dan diiringi dengan doa-doa penuh harap dan keikhlasan pada-Nya.

Selamat berjuang utk semua pemuda negeri ini yang sedang berusaha melakukan perbaikan di tempatnya masing-masing.”

Ahmad Nasikun

~ bersambung,

Pondok Madani

Berawal dari membaca ulang Negeri 5 Menara, kemudian teringat salah satu adegan yang paling berkesan, ketika Alif pertama datang ke Pondok Madani dan di sambut dengan tulisan ini :

KE MADANI APA YANG KAU CARI

Mjj sekali.

Apa yang ada di pikiran saya, kalau dulu seandainya, pertama kali masuk ke kampus ada tulisan segede gaban seperti itu di depan.

Tapi Alhamdulillah, sekarang saya sudah tahu jawabannya 🙂

Buat yang masih galau dengan jawaban dari pertanyaan itu, selamat berjuang. Everything happens for a reason.

Kepantasan

Pertama, kita perlu menyadari, bahwa proses-proses yang sedang kita tempuh bukanlah proses mencari untuk mendapat, tapi proses menjadi. Saat kita menjadi orang berkualitas, Allah akan memberikan hak sesuai dengan kapasitas kita. Karena ketika proses itu ditempuh hanya dengan motif mencari untuk mendapat, ada kemungkinan cara apapun akan dipakai, ada kemungkinan kita akan mudah goyah dengan kulit luar dan permukaannya saja, ada kemungkinan kita akan futur dan berguguran kehilangan orientasi. Namun ketika proses itu dimaknai sebagai sebuah proses menjadi, kita percaya bahwa yang menunggu di ujungnya adalah konsekuensi atas kepantasan dari kualitas diri kita dan ridha yang diberikan oleh Allah atas ketekunan yang sudah kita perjuangkan.

Berlaku untuk nilai. Bahwa cumlaude dan nilai A itu akan diberikan kepada mereka yang pantas. Mereka yang berfokus untuk menjadi pribadi berilmu dan berkualitas, yang memang pantas dan berhak akan konsekuensi/efek berupa nilai dan gelar itu.

Begitu juga dengan jodoh. Insya Allah.

– pakbos

Menjadi Lipatan

*edisi kangen Rumah Oranye :’)

 ***

Bagaimana orang-orang baik berkumpul?

Mereka dipertemukan oleh kesempatan kebaikan.

Sedikit saya ingin bercerita ketika Pak Anies Baswedan mewawancarai saya dulu. Dia memberikan saya selembar kertas putih. Kertas biasa yang tak berwarna. Tepat di depan saya, kertas segi empat itu terlentang diam. Apakah saya disuruh menggambar? Atau menulis?

“Lakukan sesuatu pada kertas itu! Do not draw or write anything on it! Dan ceritakan pada saya maksudnya”! Perintah beliau.

Sejenak saya tertegun. Andai saja saya disuruh menggambar tentu jauh akan lebih mudah. Ok, saya bisa buat jadi bentuk lain. Origami? Origami kodok, kapal atau pesawat terbang? Ah saya lupa detail caranya. Tak ada waktu untuk mengingat lagi. Opsi kodok dan kawan-kawan dicoret.

Lalu, baiknya saya apakan selembar kertas putih ini?

Tiba-tiba tangan saya bergerak mengambil kertas. Pokoknya pegang dulu dan pikir belakangan.

Ok baiklah!

Tangan saya (ya, bukan saya tapi tangan saya yang melakukan control ) membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian.

Sret…sret…

Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Bisa dijelaskan atas apa yang barusan kamu lakukan”?

Yang barusan saya lakukan? Apa yang barusan saya lakukan? Saya benar-benar tak tahu apa yang saya lakukan. Namun ketika saya melihat kertas yang tadi dilipat tersebut tiba-tiba saya membaca sesuatu. Melihat polanya dengan sangat jelas. Dan segera saya “menerjemahkan” kertas saya tersebut kepada Pak Anies.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan “. Ok, saya pikir saya kerasukan

“Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan”.

“Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”. Saya masih kerasukan.

Pak Anies kelihatan bingung.

“Jelaskan maksudnya”!

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan “bersentuhan”. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

Sambil menelan ludah, saya melanjutkan, “orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

Selesai.

Saya menunggu komentar beliau.

“Hmmm… Interesting”!

sumber : http://mamuranu.wordpress.com/2011/12/18/menjadi-lipatan/#more-393

(Kapan) Kita membuat lipatan-lipatan yang makin banyak dan kuat menjejak (lagi?).