Bank Materi

Alhamdulillah, sambil kukut-kukut dan beberes HD, masih ada beberapa materi yang numpuk di dalam selama 4 tahun 6 bulan di kampus. Mau nge-share ke khalayak, semoga sedikit banyak ada manfaatnya sambil membantu ngurangi kapasitas HD yang udah penuh

Karena lumayan banyak, insya Allah akan di update secara berkala. Hak cipta sepenuhnya adalah milik beliau para pembuat slide dan materi, I own nothing. Kalau ada complain dan minta di delete, bisa nulis komen di sini. Semoga bermanfaat.

Mata Kuliah Pilihan

  1. Akarologi
  2. Biokimia Lanjut
  3. Biokimia Nutrisi
  4. Biologi Radiasi
  5. Ekotoksikologi
  6. Embriologi Tumbuhan
  7. Entomologi
  8. Entomologi Lanjut
  9. Enzimologi
  10. Fikologi
  11. Fisiologi Mikrobia
  12. Genetika Mikrobia
  13. Genetika Molekuler
  14. Genetika Populasi
  15. Genetika Sel
  16. Herpetologi
  17. Ilmu Gizi
  18. Immunobiologi
  19. Karsinologi
  20. Kewarganegaraan
  21. Limnologi
  22. Mikologi
  23. Mikrobiologi Industri
  24. Mikrobiologi Tanah
  25. Mikroteknik Hewan
  26. Mikroteknik Tumbuhan
  27. Orkhidologi
  28. Pencemaran Lingkungan
  29. Protozoologi
  30. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan

Mata Kuliah Wajib

  1. Bahasa Inggris
  2. Biokimia
  3. Biologi Sel dan Molekuler
  4. Biologi Umum
  5. Ekologi
  6. Evolusi
  7. Filsafat Ilmu
  8. Fisika
  9. Fisiologi Hewan
  10. Fisiologi Tumbuhan
  11. Genetika
  12. Ilmu Lingkungan
  13. Kimia Dasar
  14. Kimia Organik
  15. Mikrobiologi
  16. Paleontologi
  17. Penulisan Karya Ilmiah
  18. Rancangan Percobaan
  19. Sistematika Hewan
  20. Sistematika Mikrobia
  21. Sistematika Tumbuhan
  22. Statistika
  23. Struktur dan Perkembangan Hewan
  24. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan
  25. Teknik Biokimia

Enjoy the meals and leave comments 🙂

Satu orang dua

Sering kali kita berjodoh dengan sosok seorang anak manja, dalam konteks sebuah komunitas atau lingkaran sosial tertentu. Anak manja ini, dicirikan sebagai orang-orang dengan kacamata kuda, mengabaikan yang lain dalam struktur komunitasnya dan melakukan yang seenak hatinya saja, merasa istimewa, padahal biasa-biasa saja.

Satu tim, yang lain kerja keras, anak manja ini males-malesan.

Satu organisasi, anak manja ini sekedar jadi penumpang gelap, numpang nama dan enaknya saja.

Satu kelompok tugas, anak manja ini ngandelin temen, tinggal naruh nama saja.

Enaknya di apain?

***

Dalam sebuah pelatihan, seorang pembicara pernah memberikan studi kasus yang cukup menarik.

 Ibaratkan kita sedang naik gunung, satu rombongan, mengejar sunrise, waktu-nya terbatas. Ada dua jalan, satu berkelok panjang, satu terjal dan menanjak. Jalan B, yang terjal dan menanjak, adalah shortcut, waktunya lebih cepat untuk ngejar sunrise, ada resiko tidak semua anggota bisa sampai ke atas, karena terjal. Jalan A, landai dan berkelok, enak buat jalan, ada resiko terlewat sunrise-nya.

Sebagai pemimpin rombongan, enaknya pilih yang mana? Memastikan bisa ngejar sunrise, dengan resiko ada yang tertinggal. Mencapai puncak bareng-bareng tapi sunrise-nya lewat.

Saya, pilih B. Saya, siap menerima kritik dan argumen.

***

Tidak semua orang worthed untuk dipertahankan. Tidak semua yang manja berhak dituruti. Karena sebuah cabang yang busuk bisa menyebabkan satu pohon terinfeksi dan mati.

Syarat dan ketentuan berlaku.

Satu orang satu

F : Kamu ngapain sih, sampe segitu ngoyo-nya buat ngejar ini. Dari kami semua, kamu  yang paling banyak berkorban dan kerja keras lho. Salut deh. Share dong, kok sampe segitunya. Alasan?

X : Kita masih punya sekian hari di sana buat cerita kok,

F : Ish, serius nih, penasaran.

X : *menyebutkan nama, di tutup dengan titik dua dan kurung tutup*

Percakapan ini terjadi di dunia pesan singkat. Di tengah kesibukan tengah tahun kemarin, saat mengejar salah satu target, yang sebelumnya terasa sangat tidak mungkin, namun akhirnya jadi kenyataan. Karena penasaran, alasan apa yang bisa sampai  men-drive beliau untuk ngejar sesuatu se-ngoyo itu. Saya tanyakan itu, ke salah satu sosok luar biasa yang pernah saya temui sampai sekarang, si X, yang no mention karena belum minta izin ke beliaunya. Kembali ke laptop. Dan alasan beliau, ternyata cukup sederhana, bagi saya. Bahwa segala tindakan, tenaga dan pikiran yang sudah di upayakannya selama ini, karena termotivasi oleh seseorang, bekas bos-nya dulu. Obsesi (saya sulit menemukan kata yang pas) untuk mengikuti jejak bos-nya, sudah cukup menjadi alasan untuk bisa se-ngoyo itu.

Karena satu orang saja.

***

Di sisi dunia dan waktu yang berbeda, kemarin, baru saja, saya ngobrol dengan salah satu sahabat saya di kampus, beliau yang sedang di amanahi jadi masinis di sebuah organisasi di kampus. Flash back ke belakang, teringat lagi, dulu ketika sempat mengecap amanah itu, nasihat yang sering kali di sampaikan oleh guru saya adalah ini :

Hati-hati akhi, sekarang ente bukan lagi milik diri ente sendiri. Seorang ente udah jadi milik orang banyak sekarang. Dalam setiap ucapan, tindakan, kelakuan, status, bahkan roman muka, ada embel-embel besar yang ente bawa di belakang ente, amanah ente sekarang ini. Semua yang ente lakukan akan di asosiasikan sama amanah ente itu. Ente galau pun, yang kebawa namanya bukan hanya ente, tapi embel-embel besar itu. Hati-hati ya.

Bahwa inspire itu bisa positif atau negatif.

Kalau positif, bisa jadi MLM pahala, kalau negatif? Wallahu a’lam.

Karena satu orang saja.

Satu orang begitu berarti untuk menyusun barisan dan saf yang kokoh. Satu kalimat yang rumpang bisa merubah makna dari sebuah karya besar . Satu keputusan kecil seseorang yang dianggap biasa saja bisa mengarahkan sejarah ke arah yang berbeda.

Bacaan lebih lanjut : Butterfly effect.

Syarat dan ketentuan berlaku.

Ibu

Repost dari blog-nya Fahd Jibran. Menyentuh sekali. Tentang Ibu.

Allahumaghfirli dzunubi wa liwa li dayya warhamhuma kama rabbayani saghira :’)

Apologia Untuk Sebuah Nama
—Revolvere Project

Akan kuceritakan kepadamu hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi barangkali mulai sering lupa kita sapa.

Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada, dan apa saja yang membuat kita bahagia. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku.

Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi, dengan sepatu yang lain, meninggalkannya sendiri: menangis pilu bersama denyit engsel pintu.

Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Di manakah dia sekarang?
Apa kabar dia sekarang?
Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya, baginya pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu. Di pasar, di dapur, di kantor, di jalan, di terminal, di tempat suci, di manapun… baginya, segala tentangmu adalah doa: Tuhan, semoga anakku baik-baik saja!

“Ibu, aku ingin mainan baru!”

“Ma, kenapa bajuku belum dicuci, sih?”

“Mak, aku kan sudah bilang jangan terlalu sering telepon!”

“Bun, aku tak sempat membelikan oleh-oleh buat Bunda.”

“Bu, aku nggak bisa pulang lebaran ini. Waktunya sempit sekali.”

… seburuk apapun kau memperlakukannya, Ibu akan tetap bangun pagi untuk sembahyang: mendoakan segala yang terbaik untukmu. Lalu memasak—menyiapkan sarapan untukmu. Kemudian mencuci, menyetrika pakaianmu, melepasmu pergi dengan senyuman dan lambaian, mencemaskanmu, menunggumu pulang, menceritakan semua prestasimu pada teman-teman dan tetangganya, merawatmu ketika sakit, atau dengan lugu meminta maaf: “Maaf barangkali Ibu belum bisa membahagiakanmu.”

Dialah Ibu, perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas—menunggu semua kepulangan kita dengan perasaan yang waswas. Dialah perempuan yang barangkali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja.

Dialah Ibumu, perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu. Meskipun kadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan darahmu. Hingga habis usiamu.

Ya, inilah hikayat sebuah nama, tempat segala cinta bermula dan bermuara. Tuhan begitu menyayangi setiap Ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya, Tuhan berjanji merestuimu: Lapanglah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu sorga untukmu.

Tetapi apabila Ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai ke hatinya, sebagian malaikat akan mendoakan butiran-butiran air matanya, hingga menjadi kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!

Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci: Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu, menggugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sorga untukmu—hingga Ibu memaafkanmu.

Kenangkanlah, Ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri. Mungkin kita berjanji—diucapkan atau sekadar pada diri sendiri—akan membelikannya rumah megah, mobil mewah, atau memberangkatkannya naik haji. Tapi kapankah akan terjadi?

Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana. Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.

Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU. Perempuan yang pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana, “terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkapkan dua kata sederhana itu kepadanya.

Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan—dari baju hangat peninggalannya?

Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi senyumnya—lembut matanya?

Ya, barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak terbaik di dunia. Ibu tak pernah menghitung apapun untuk tulus mencintai kita. Maka tak perlu menghitung apapun, cintailah ia dengan sederhana—sejauh yang kita bisa.

Semoga kita belum terlambat!

hari pun terus berlalu
tak terasakan olehku
ku telah sering
melukai hatimu

namun kau sabar
menunggu
terus berdoa untukku
kapankah ku akan sadar hal itu

maafkan aku
membuat menangis sendu
ku tak bermaksud
mengecewakanmu

oh Ibu,
berikanlah kasihmu
hadapi kelakuanku
semua sifat burukku

oh Ibu,
berikanlah maafmu
sungguh bukan maksudku
membuatmu menangis sendu

waktu pun terus berlalu
tak bisa kuubah masa lalu
tak bisa kulupa semua
kejahatanku

namun bila kau dengar lagu
lagu yang tercipta untukmu
kumohon maafkanlah
semua kesalahanku

Google yourself

2000 something hits. Bahaya nih, terlalu banyak rahasia terekspose ke dunia luar.

Minimal gambarnya masih bener. Belum nyasar ke yang macem-macem.

Ide ini berasal dari rasa salut dengan hobi (?) salah seorang sahabat, yang kepo-nya sudah dalam taraf akut, dengan kebiasaan mengoogle orang. Terbukti bisa jadi bahan buat kenal seseorang lebih jauh. Dan ternyata, banyak yang bisa kita gali dari dunia maya, meski belum tentu semuanya benar. Dan hebatnya lagi, ada beberapa orang yang sama sekali tidak bisa dilacak lewat google, salut.

What google says about you? 🙂

Samudera

Aku ingin memperkenalkan sosok baru untukmu, Kecil. Ia akan jadi teman sepermainan yang cocok . Kalian berbagi karakter yang hampir mirip. Agak pemalu namun selalu datang dengan senyum yang, aku tidak bisa menemukan kata yang cocok untuk menjelaskannya, mungkin cukup mewakili ketika aku sebut itu sebagai senyum yang menular. Ketika kalian datang, kamu dan ia, aku hampir pasti akan menyambut dengan tangan terbuka dan senyum. Nyaman sekali rasanya melihatnya. Apalagi ketika aku bisa diam dan menyimak kalian berbicara.

Kami tidak bisa dibilang dekat, dulu. Hanya kenal dan saling tahu saja. Dan tiba-tiba, sekarang, aku sudah mau mengenalkannya padamu. Jarang sekali aku khusus mengenalkan seseorang hanya untuk bisa bertemu denganmu, Kecil.

Ia adalah sosok yang terjaga.

Sikapnya, sifatnya, karakternya, ucapannya, bahkan cara berjalannya. Cara berjalannya yang lucu itu sering menjadi bahan bercandaanku. Ketenangannya menjaga ia dari bertindak yang tidak penting, meski hanya sekedar galau dalam pikiran, apalagi perbuatan. Sepanjang perkenalanku dengannya, yang memang belum lama, ia adalah yang terbaik dalam menjaga emosinya. Ia adalah yang terbaik dalam menjaga hatinya. Aku tidak tahu, jurus rahasia apa yang ia pakai hingga emosi itu bisa bersembunyi dengan tepat dan hanya keluar dalam bentuk yang semestinya, entah senyum atau sekedar diam saja. Tapi satu hal yang pasti, tidak akan ada rasa tidak aman ketika ada di sekitarnya.

He’s harmless as far as I can tell.

Dewasa, tidak juga sebenarnya. Masih sering ada anak-anak yang muncul dalam perilakunya. Kami, aku dan ia, berbagi irisan tentang bakat ini. Bahan obrolan yang di eksploitasi untuk bisa menertawakan diri kami sendiri. Nyaman rasanya ketika kita bisa menertawakan kebodohan kita dan berbagi dengan orang yang serupa.

Karakter fisiknya, kamu akan lihat sendiri ketika nanti berjabat tangan dengannya. Toh, bukan itu yang menjadi pertimbangan pertama. Karena seperti yang kamu selalu bilang, it’s never about what he did, or what he said, but how he make us feel. Akan tiba waktunya, tidak lama lagi.

Ia adalah proyeksi dari mimpiku tentang Samudera. Samudera yang santun. Samudera yang menjaga Langit, Bumi dan Matahari ada di lintasan mereka masing-masing. Menyimpulkan mimpi-mimpi yang dibangun dari batu bata paling dasar. Menuju sebuah titik yang di sepakati bernama masa depan. Bersedia mengamati dari jauh dan senantiasa menjadi larutan penyangga.

Seandainya aku boleh berdoa, aku akan mohon agar reinkarnasi memang benar-benar ada. Membawa sosoknya mewujud dalam sosok seorang Samudera. Aku ingin memperkenalkan sosok baru untukmu, Kecil.

***

So, seorang Akbar Reza lah yang saya bayangin pas nulis tentang Samudera 🙂

reza1

Ada orang-orang dengan kesan tertentu yang langsung tercetak di benak kita saat pertama kali bertemu. Dulu, ketika pertama kali ketemu Reza, kesan yang muncul cuma satu : tengil (dan kriwil?). Pas baksos JMMB ke Panti Asuhan di Bantul, naek metik, bawa kardus-kardus pakaian, basa-basi ga penting sambil kenalan di atas motor. Awkward moment. Sampai sekarang, terbukti, ternyata kesan pertama itu ga pernah salah.

Oia, sama pas beliau yang langsung berbinar kalau udah ngomongin soal ayah sama ibu di rumah. Epic banget. Sadar bahwa beliau sayang banget sama orang rumah. Bahkan dalam hampir setiap tawaran, selalu ada : bentar ya mas, ane ngobrol dulu sama Ibu.

Kalau saja ada pemilihan mahasiswa paling stabil di kampus, saya pasti milih beliau. Jarang, atau hampir ga pernah, saya nemuin status atau roman mukanya lagi galau. Padahal kalau dipikir, semua syarat dan semua suasana sudah mendukung buat ikut ketularan jadi galau. Tapi ternyata tidak saudara-saudara, masih stabil sampai sekarang. Bahkan, mungkin, saking stabilnya, sampai susah ditebak jadinya maunya apa. Kalau orang dulu bilang, samudera dalamnya bisa diselami, hati tak ada yang tahu, maka bisa jadi beliau ini udah jago ngamalin peribahasa itu. Marah? Keknya belum pernah denger beliau marah. Tapi itu dia, jadi susah ditebak maunya apa, romannya lempeng aja. Sepertinya (hampir) tiga tahun kenalan, masih belum cukup.

***

Barakallahu fi umrik bang.

Semoga kebaikan senantiasa bertambah di sisa usia, diberikan keberkahan dalam setiap aktivitas dan amalan yang dilakukan, dilancarkan segala urusan, amanah, studi dan semuanya, diberikan yang terbaik buat capaian-capaian ke depannya, semakin sholeh, bisa jadi penerang buat keluarga dan orang-orang di sekitarmu, dan yang paling penting bisa semakin dekat dengan-Nya 🙂

Semoga setiap kesibukan juga bisa bernilai ibadah, semoga amanah ente yang sekarang dan yang akan datang bisa jadi tabungan pahala dan amal jariyah, semoga setiap pilihan yang ente ambil selalu ada ridha Allah didalamnya, dan semoga Allah selalu menjagamu,

Udah gede bang, semoga bisa jadi contoh yang baik, semoga bisa jadi abang yang baik. Jaga diri baik-baik, dan selalu inget ini baik-baik : for if they return, they were always yours. And if they don’t, they never were 😀