Sibuk Part II

Sekarang sedang jam 02.14 dan saya sedang menunggu email dari DPS (Dosen Pembimbing Skripsi). Dosen yang (sangat) baik (sekali). Semua bermula dari email iseng saya kepada beliau, menanyakan apakah beliau sedang ada proyek kosong yang bisa saya bantu. Beberapa hari setelahnya, saya pun resmi jadi mahasiswa bimbingan seminar beliau, sampai sekarang, sampai skripsi.

Dari masa bimbingan seminar sampai skripsi ini saya belajar banyak hal dari beliau, sedikit di antaranya :

Tentang passion.

Bahwa passion itu bisa dibangun. Bukan semata menonjolkan apa yang kita suka dan menomorduakan yang lain. Kalau passion hanya soal mengejar ambisi pribadi, egois sekali rasanya. Banyak cerita tentang passion selalu menonjolkan seseorang yang meninggalkan ‘”kemapanan”-nya dan kemudian memulai sesuatu yang sama sekali baru, dengan segala resikonya. Dan saya percaya, yang di angkat hanyalah kisah mereka-mereka yang berhasil saja. Passion, setidaknya menurut saya pribadi, bisa dibangun. Dalam usia yang sekarang, passion bukan lagi sekedar suka/tidak suka menjalani sesuatu, tapi passion yang sejati terlihat ketika kita hendak mengambil sebuah pilihan tentang masa depan : apakah hanya sekedar karena ambisi atau ingin menjadi manfaat bagi orang banyak.

 Kenapa ingin jadi ilmuan. Kalau jawabannya cuma karena saya senang meneliti, standar lah. Karena saya ingin berguna bagi orang banyak, saya ingin mengisi kekosongan peneliti bidang ini di Indonesia, karena saya berdoa semoga ini bisa jadi amal jariyah saya nanti, gitu kan cakep.

Tentang posisi

Dalam posisi sebagai seorang DPS, beliau punya semua hak dan kewenangan untuk menjadi otoriter/killer/apapun itulah namanya. Namun ternyata tidak. Beliau adalah contoh nyata, people will forget what you say or did, but they will always remember how you make them feel.

Koreksi yang njelimet sampai titik koma, kiriman dapus tambahan di pagi buta, dan seperti sekarang, revisi tengah malam karena menunggu putri beliau tidur terlebih dahulu. Mengagumkan. Semua mahasiswa yang pernah di bimbing beliau pasti sepakat tentang satu hal : baik.

Tentang kesibukan dan kepedulian

Bahwa sibuk itu bukan berarti tidak peduli. Seberapa sibukpun beliau, selalu ada waktu untuk mahasiswa bimbingannya. Bahkan salah seorang adik kelas pernah bercerita bahwa justru beliau yang pertama kali menanyakan kabar ketika sedang kerja praktek di Jakarta.

Tentang konsistensi dan gerilya

Bahwa dalam ke-diam-annya di kampus, beliau sudah menelurkan banyak publikasi, segepok proyek penelitian, list kontribusi yang tidak kecil di Fakultas, dan berlusin-lusin mahasiswa bimbingan yang sepakat bahwa beliau itu baik (banget). Action speaks louder than words.

____

Oke, cukup, malah jadi curhat.

Closing. Selalu terngiang nasihat pak bos saya dalam lingkaran.

Bahwa parameter kebermanfaatn sebuah urusan itu hanya satu, apakah kesibukannya akan menambah kedekatan kita dengan Allah atau tidak. Amanah segede apapun : ketua BEM, ketua SKI, asisten praktikum, sarjana, aktivis, apapun itu, kalau dengan kesibukan itu ente justru semakin jauh dari Allah, maka nonsense, semua urusan itu ga bermanfaat buat ente.

Jiwa yang sibuk lebih mudah kering. Jiwa yang sibuk lebih mudah melupakan kaidah : bahwa harus ada ilmu sebelum beramal. Ente evaluasi deh, berapa yang ente alokasikan buat rapat dibanding dengan waktu yang ente luangin buat ikut kajian dan baca buku, apalagi baca Quran?

Semoga setiap kesibukan bisa bernilai ibadah.

Siap Bos!!

Sumber : lupa, tumblr siapa gitu :p

Mengapa menunggu

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,

Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,

Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa:
Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia. Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal –iman, keberanian, dan pengharapan– penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorang pun bayangkan.

Pada akhirnya, Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

Sumber : tidak diketahui, kalau ada yang tahu dan bisa memberi tahu, akan sangat berterima kasih ­čÖé

_____

Artikel yang tidak akan tidak pernah asyik untuk direnungi. Kenapa artikel ini muncul lagi? Karena itu keluar lagi. VMJ. Ga tahu? Cari ya. Apalagi yang kena saudara kita sendiri, dekat lagi.

Karena ane punya pilihan, ente  yang baca blog ini punya pilihan dan kita juga punya pilihan. Buat menunggu atau berbuka lebih awal, dengan segala konsekuensinya lho. Sedih? Banget. Apalagi ketika yang kena bukan orang lain bagi kita. Apalagi kita ga berdaya bahkan buat sekedar ngasih nasehat. Tapi ya sudahlah, kita semua sudah tahu, tinggal saling mendoakan saja semoga bisa istiqomah menjalankan kefahaman yang ada. Bahwa Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

*meracau

Apalagi setelah dapat nasehat mjj lagi akhir-akhir ini.

Akhi, tahu saja ga cukup kan? Bahkan mereka-mereka yang kita anggap sudah berilmu saja masih saja bisa kena kalau udah bicara soal yang satu ini. Apalagi kita? So, istiqomah setelah kefahaman itu memang ga mudah ­čÖé

Kewajiban kita hanya berbaik sangka dan mengingatkan. Fahimna?

Yo, saudaraku yang sedang di sana, semoga Allah selalu menjaga. Karena kewajiban ane hanya berbaik sangka dan mengingatkan. Setiap pilihan ada konsekuensinya to? Fahimna?

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika.

Bumi

Bumi adalah satu-satunya yang tidak teracuni mantra anehmu.

Aku percaya, suatu saat, Bumi akan tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Meskipun dengan sifatnya, yang sekarang ini, masih berlumuran aku-sentris, aku percaya, dia mewarisi sifatmu untuk bisa berpikir melampaui masanya, memperjuangkan dan mewujudkan masa depannya sendiri. Bumi adalah yang terbaik dalam menjaga semangat dan menularkannya kepada orang-orang di sekitarnya, bukan hanya kepada saudaranya saja bahkan.

Bumi tidak bebal, tapi bandel, bandel jenis ke sekian yang membuat kita tersenyum ketika mengingatnya suatu saat di masa depan, karena dia selalu bisa menghindar dengan alasan yang (mungkin) akan terdengar menyebalkan ketika di dengar pertama kali, namun menjadi masuk akal ketika kita membuka hati dan mencernanya kembali.

Bumi menjadi contoh nyata, bahwa dewasa itu bukan masalah umur, bahwa nasihat itu tidak harus selalu dari yang lahir lebih dahulu. Bumi menasehati kita dengan kepolosannya saat masih kecil dulu, dengan rasa ingin tahu dan sifat bandelnya saat semakin beranjak dewasa, dan sekarang, dengan keteguhannya. Bumi mengejawantahkan keteguhan hatinnya menurut versinya sendiri, ketika dengan hati-hati menjaga agar kejujurannya tidak harus menyakiti orang lain, ketika berani membungkukkan badan dan mengakui bahwa dia memang juga bisa salah, ketika sadar bahwa terkadang menyampaikan ucapan selamat itu lebih berat daripada melisankan kata ikut berbela sungkawa.

Aku ingat, Bumi bersedia melakukan semua itu, karena dia menyadari bahwa akan lebih manis rasanya kalau kue itu bisa dibagi rata, karena dia menyadari bahwa gula itu lebih manis ketika semua bisa mengecapnya, bahwa es teh itu terasa hambar ketika tidak ada yang di ajak bicara.

Mungkin itulah kenapa dulu aku benar-benar jatuh cinta dengan nama ini : Bumi.

Bumi yang teguh.

Bumi tahu bagaimana menyamakan langkah dan tidak saling mendahului satu sama lain. Bumi tahu kapan harus melambat, saat yang tepat untuk menambah akselerasi, dan bagaimana menjaga agar tempo dan semangat itu bisa berimbas ke semua orang yang ada di jangkauan genggaman tangannya dan lingkaran sosialnya yang tak hingga itu. Bumi akan memastikan tidak ada yang mendahului sampai di garis akhir, tidak ada yang tertinggal dan merasa sendirian, serta setiap yang terlibat dengannya akan tahu makna sesungguhnya dari berbagi peran.

Bumi menjaga saudara-saudaranya bukan dengan kotak berpita di hari lahir mereka, bukan dengan kata-kata bijak lewat pesan singkat, bukan dengan catatan-catatan bertuah, bukan dengan menanyakan kabar setiap sebelum tidur. Bumi menjaga saudaranya dengan caranya sendiri, dengan pukulan di bahu di iringi cengiran usil, dengan sikap diamnya untuk memberi waktu agar mereka bisa berpikir dan belajar untuk memetik hikmah, dengan  mengambil peran berdiri di pojok agar tidak menghalangi yang lain bersinar, dengan lelucon yang membuat tertawa sampai mengeluarkan air mata, dan yang paling penting, dengan hati yang disiapkan sepenuhnya lewat tangan yang terbuka, memberi jaminan bahwa dia akan selalu menerima dan membantu mereka dalam keadaan seperti apapun, kapanpun.

Bumi yang paling mengerti apa artinya berbagi peran.

Bumi lah yang menjaga mainan saudaranya ketika masing-masing dari mereka sedang mendapat jatah bertugas di dapur, di ruang tamu ataupun sekedar harus membeli sesuatu di pasar belakang rumah. Bumi lah yang akan memastikan bahwa rutinitas yang dijalani saudaranya tidak akan menggangu jalan impian yang sudah sama-sama mereka racik dan sepakati bersama dulu. Bumi menyusun batu bata impian itu dari bawah demi yang lain, karena dia sadar benar bahwa pondasi yang teguh itu sama mulianya dengan ruang tamu yang mewah, sama di butuhkannya dengan teras yang bertahtakan bunga, sama pentingnya dengan atap yang paling terlihat dari kejauhan. Ketika ada salah satu dari saudara-nya yang sedang jenuh dengan amanah, Bumi akan memastikan ada pasokan ikhlas baru yang menjalar di hati saudara-nya itu, dengan caranya sendiri. Ketika ada yang tidak sempat mencicipi sarapan sebelum berangkat, Bumi menjadi orang pertama yang ingat untuk membungkusnya dan membawakannya ke sekolah, sederhana sekali, sepele namun berkesan. Ketika ada nama saudaranya yang tertinggal di bagian bawah papan nilai, Bumi akan memastikan bahwa itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk saudaranya itu.

Bahkan sebenarnya, dari Bumi lah aku belajar tentang makna berbagi peran yang sesungguhnya. Bumi mengajarkan kepadaku tanpa kata-kata, bahwa sebagai saudara, mereka bukan empat yang tersebar, tapi satu yang berdiri masing-masing dan menyimpul di ujungnya. Saling menjaga, saling menjaga, dan saling menjaga, dengan cara mereka masing-masing.

Bumi yang sekarang adalah Bumi yang teguh. Aku semakin jatuh hati dengan diksi itu. Semoga bumi juga menjaga tanah merah kediamanmu, minimal sampai Bumi bisa menemuimu kelak.

P.S : Bumi, suatu saat, ketika kau membaca ini, aku berdoa semoga kau sudah semakin teguh berdiri di kakimu sendiri, semoga kau tidak lagi ragu untuk lebih percaya pada kadar kemampuanmu sendiri, semoga kau semakin bijaksana dalam menjaga saudara-saudaramu, semoga simpul yang kalian jaga itu bisa tetap kau ikat sampai akhir, semoga bangunan impianmu tidak hanya berhenti pada daftar-daftar pendek itu saja tapi juga agar kau semakin dekat dengan-Nya. Karena kelak pada saatnya nanti, kau akan ku ajak bersama Langit, Matahari dan Samudera mengirimkan doa untuk seseorang yang sangat berarti bagiku. Aku janji.

___

Tidak. Kali ini tidak ada yang sedang ulang tahun atau baru saja wisuda. Naskah ini sedang ingin saya share saja.

Oke, jadi si Bumi ini juga saya gambarkan dari sosok yang (sangat) dekat dengan saya.  Sosok yang jarang ada di dunia, anak olimp tapi jago olahraga. Kurang apa lagi coba?

Rudi Nirwantono, the one and only.

Doa untuknya sederhana saja. Sudah terwakili di paragraf terakhir cerita di atas.

Ternyata aku bukanlah yang aku sangka*

*di ambil dari Panduan Bergerak Forum Bina Islami FATETA IPB

Kita mengajak orang lain untuk memeluk Islam dengan kaffah. Namun kita hanya ber-Islam seadanya. Malas mujahadah. Dan Allah mengetahui itu. Sehingga mungkin kita sendirilah yang menghambat pencapaian dakwah. Dai adalah penyeru Rabb-nya. Namun apakah yang akan diserukan jika sang penyeru enggan membaca kitab-kitab dasar? Malas dengan talim? Apakah kegelapan bisa menerangi? Apakah yang bisa diberikan orang yang bodoh kepada orang bodoh lainnya?

Sumber ilmu sangat luas, bekal dalil sangat besar. Namun terkadang kita merasa cukup dengan halaqah, mentoring dan sejenisnya. Berbuah kader dalam tempurung. Banyak aktivitas miskin ilmu. Dan kita tertipu dengan merasa cukup pada itu semua. Kita sangat sibuk dengan beribu aktivitas. Multi-amanah, pergi pagi pulang malam. Namun terkadang kita tidak menyadari : apakah kesibukan kita produktif? Sangat banyak kader sibuk namun mungkin hanya sedikit kader yang produktif. Apakah sibuk (banyak aktivitas) sama dengan produktivitas? Terjebak pada struktural. Lupa pada tugas fungsional seorang dai. Kehilangan arah memaknai amanah. Bergerak tanpa jiwa, tanpa ruh, bagaikan mayat hidup yang bergerak tanpa makna.

Sementara ladang dakwah semakin luas. Amanah semakin berat, namun kita melihat kader yang terdiam dengan amanahnya. Terdiam kebingungan mau melakukan apa, dengan alasan tidak ada pekerjaan. Di sisi lain seorang kader manjdi futur karena terlalu banyak amanah. Tidak ada pekerjaan? Tidak ada amanah? Terlalu banyakkah? Tidak. Tetapi kehilangan arah memaknai amanah.

Prestasi akademik mulai meningkat. IPK 3 ke atas seolah prestise, tapi kita juga melihat beberapa kader yang prestasinya menurun dengan alasan beban dakwah yang kian menggunung. Kita menyeru pada perbaikan diri, namun ada sebagian kita yang justru berjalan menjauhi perbaikan tanpa perasaan bersalah dan malu. Terkadang kita lebih suka merasa panik dan bekerja parsial serta temporal. Malas berpikir membangun agenda strategis jangka panjang. Masih reaktif, belum proaktif.

Seorang muslim wajib menutup aib saudaranya, namun kita masih sering ngerumpi dengan alasan curhat, tanpa solusi positif, justru melahirkan prasangka tanpa akhir yang sungguh memalukan. Bagaikan mengunyah darah saudaranya sendiri. Kita merasa ukhuwah terasa hambar, namun kita malas memberi tausiyah dan teguran pada saudara kita, yang bermasalah maupun tidak. Masih bisakah engkau tertawa wahai mujahid dakwah kampus? Masih bisakah engkau terdiam wahai perindu syahid?

Bersabar dan tetaplah istiqomah.

___

*mbrambangi

Catatan ini tertempel di atas alas tidur tetangga kamar saya di alkemis. Seorang sosok yang benar-benar zuhud dan taat dalam beragama. Suatu saat, beliau pernah ditanya, punya mp3 nasyid apa aja di laptop bro?

Jawabannya sangat menohok, sederhana tapi dalam, beliau bilang, wah hafalan quran saya masih sedikit, masa saya udah berani nyimpen lagu-lagu menandingi murotal yang belum saya hafal itu. Aih.

(sebenarnya mau nampilin poto, tapi beliau ndak bersedia)

Hendra Keswanto namanya. Kehutanan UGM 2008.

Sosok ini juga yang mengajari tentang kaidah sederhana yang hampir selalu saya langgar. Bahwa perut kenyang akan lebih susah menerima masuknya ilmu.

Deep down inside, artikel ini sangat makjlebjleb sekali. Banyak refleksi yang bisa saya tarik, khususnya ketika menengok sekian tahun di kampus. Banyak sekali yang harus diperbaiki, banyak sekali.

Bersabar dan tetaplah istiqomah.

IPK

03:42 am

makjlebjleb di pagibuta

IPK itu bukan masalah penting, tidak menentukan masa depan, hanya urusan kecil dan remeh-temeh … jadi kalau urusan kecil dan remeh-temeh itu saja dirimu sampai jatuh dan hancur-hancuran, maka jangan pernah bermimpi untuk bisa menyelesaikan masalah yang lebih besar … andai kau tahu nak, hanya para pecundang yang selalu berusaha membuat dikotomi kesuksesan dan IPK

Romi Satria Wahono

*ambil wudhu > berdoa khusyuk

BHSC

It’s been a year.

Same spots. Same camera. Same sun. Same sand. Same Drini. Different people. The BHSC.

Batch I : Fajar | Adit | Suhu | Rudi | Izzaad

Batch II : Suhu | Hanan | Fajar | Izzaad | Ardo | Iqbal

Updated : 04.11.12

Batch III : Reza | Hanung |Shafly | Lathif | Digdo | Ihlas | Arief | Fajar | Suhu (di belakang kamera

Ingin mengalami sensasi kekaguman ketika seolah menjadi sangat kecil sekali di hadapan ciptaan-Nya, merasa beruntung bisa mencicipi sekerat karya surga yang ada di dunia, tanpa sadar menahan nafas dan menghembuskan subhanallah setelahnya, kemudian mengakhiri momen itu dengan rasa syukur yang membuncah? ­čÖé

Feel free to join us.

BHSC : Biology Happy Study Club.

“kapan kita kemana?”

Kota Kita

Perahu kertas tidak akan pernah cukup untuk menyeberang ke sana, kali ini kamu tidak perlu pulang pergi ke dermaga. Aku juga tidak butuh ritual perpisahan ala sinetron yang berair-mata. Karena kita sudah sama-sama tahu bahwa akan selalu ada kangen untukmu.

Peluk. Erat.

***

Semua cerita yang pernah kita toreh di sini seakan mengendap, tidak terpendar hanya karena lekang panas dan rintikan hujan. Selayaknya besi-besi kokoh berpasangan yang terbentang memanjang memanggul kereta di pundaknya, tangan kita pernah bergenggaman menyusurinya. Menjemput senja, membicarakan hari yang baru saja kita jalani, entah tentang apa waktu itu, ingatanku hanya samar-samar bisa memindainya. Satu hal yang pasti, rasa yang membekas di sini, di dalam dada ini, yang akan aku ingat sepanjang jalan, bukan hanya berhenti di ujung rel itu saja, tetapi sampai nanti ketika  gerbong ujung usiaku akan berhenti.

Sensasi menikmati kerling matamu yang hidup ketika bercerita, senyum yang tidak pernah bosan aku tatap lekat-lekat, suaramu yang bersaing dengan bunyi ramai peluit masinis dan pikuk calon penumpang, masih menempati salah satu gerbong di dalam hatiku. Aku ingat betul, jalan-jalan senja itu kita agendakan setelah rehat yang cukup lama. Usahaku untuk mengajakmu bermain selalu dimentahkan dengan agendamu yang sudah berduyun-duyun menunggu setiap pekannya, merebutmu dariku.

Aku tidak berhenti tersenyum ketika mendengarmu bercerita, menikmati setiap detiknya, sambil sesekali menendang-nendang kerikil yang ada di sela-sela rel besi di bawah kaki kita. Masih terasa juga tatapan anehmu yang melengkapi ledakan tawa sesudahnya, ketika aku mengajakmu berbaring di atas kerikil dan menempelkan telinga ke atas rel besi. Aku bilang padamu bahwa dengan mendengarkan apa yang dikatakan rel kepada kerikil di bawahnya, kita bisa membayangkan apa saja yang di alami oleh gerbong yang melewatinya. Dengan bersemangat, waktu itu, aku ceritakan padamu bahwa gerbong-gerbong kereta ini melewati satu rangkaian rel yang semuanya bersambung satu sama lain, sehingga tidak akan ada cerita yang tertinggal tentang liku-liku yang di alami gerbong kereta ketika melintas di atasnya. Lewat tepi jurang, membelah sawah, memisahkan jalan, menggetarkan pondasi jembatan, memunggungi bukit, mengejar matahari terbit dan menyongsong senja, semua pasti pernah di alami kereta-kereta itu. Sambil menggelengkan kepala dan mengacak-ngacak rambutku, kamu pun menuruti keinginanku dan membaringkan badan, miring membelakangi matahari yang turun dengan teratur. Aku berjongkok di sampingmu, menjaga kalau-kalau ada petugas yang membunyikan peluitnya, sambil menikmati wajahmu yang teduh ketika sedang memejamkan mata, mendengarkan pesan-pesan rel dengan seksama.

Apa yang kamu dengar, tanyaku.

Kamu diam saja, satu menit berjalan, dua menit berputar, sampai beberapa saat ketika kamu akhirnya bangun dan mengembangkan senyum yang manis sekali.

Apa yang kamu dengar, tanyaku lagi.

Kamu, dengan sengaja, perlahan membersihkan serasah yang menempel di lenganmu, mengambil waktu dan menikmati setiap detik yang membuatku penasaran, dan dengan nakalnya, kamu bilang bahwa itu rahasia. Tawamu meledak, aku cemberut, dan mau tidak mau tertawa bersamamu, memecah senja yang sekarang sudah berpendar menghitam, menciptakan siluet kita berdua.

Bangunan beratap lengkung bernuansa hijau ini pulalah yang menjadi saksi ketika rindu dua purnama itu tumpah, dalam sekali sisipan. Rindu yang terpisahkan lautan dan berlabuh di dermaga. Hanya ada senyum dan pelukan, karena kita sama-sama tahu bahwa akan ada waktu untuk cerita yang lebih lama sesudahnya. Di dalam bangunan ini juga aku pernah melepasmu ke ibu kota, sebagai bagian dari cita-citamu untuk bisa menjadi seseorang, salah satu anak tangga yang di karuniakan oleh Tuhan untuk bisa kamu perjuangkan. Melambaikan tangan dari balik kaca jendela,  melepasmu dengan latar belakang suara kereta yang membelah shubuh, seperti adegan dalam sinetron, tanpa naga dan rajawali terbang tentunya.

Tidak ada yang hambar tentang tempat ini. Bahkan sekotak lahan sempit yang ada di depannya akan selalu penuh ketika Sabtu malam tiba. Penuh dengan manusia dan roda dua, menjadi saingan kita untuk bisa berebut sekedar seduduk tikar dan selembar kertas menu. Berhadapan dengan segelas susu jahe hangat, beberapa suap nasi dan tempe serta susu putih kegemaranmu, kita berbagi cerita sampai kemana-mana. Dari mulai arus listrik sampai Singapura, menemani kita menghabiskan jatah Sabtu malam yang katanya lama itu.

Hingga di akhir malam sebelum pulang, kamu bilang padaku dengan muka penuh keisengan, kamu mau tahu apa yang aku dengar ketika ku dekatkan telingaku ke rel dan menutup mata waktu itu?

Boleh, jawabku.

Aku mendengar detak jantungku sendiri, katamu, dia mengucapkan terima kasih atas hari ini, karena kamu sudah dengan sukses membuatnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

***

Kita berdebat tentang definisi cakrawala versi kita masing-masing waktu itu. Dalam benakku, cakrawala itu tidak ada batasnya, sama seperti yang kita tatap lekat-lekat setiap senja, ditemani semburat warna teh di sudut-sudut ombak yang berdesir perlahan. Kita berdebat, dengan seru, seperti biasa.

Semuanya berawal dari janji setengah hati yang kamu iyakan, bahwa suatu saat, di sela-sela kesibukanmu mengurusi urusan orang lain, kamu akan membagi sedikit waktumu untukku. Janji untuk menikmati purnama di pantai, tanpa menyalakan telepon genggam, tanpa ada orang ketiga, tanpa ada pesan singkat yang berisi undangan rapat di kampus, tanpa ada yang lain, dan memesan seratus persen waktumu untuk melayani keegoisanku. Hanya ke pantai. Hanya ada angin, ombak dan kita. Aku memaksamu menuliskan iya di pesan singkatmu malam itu. Kamu tahu? jus jambu favoritku pun masih kalah sensasinya dibandingkan rasa lega yang membuncah setelah  membaca balasan kesanggupanmu.

Pantai dan ombak selalu mempunyai tempat khusus di dalam senyumku. Ada lega dan ketenangan yang menemani setiap nafas yang aku tarik ketika aku sedang berada di pantai, apalagi kalau itu berdua (saja) denganmu. Kamu pernah bilang, kalau pantai itu membosankan. Aku jawab, kamu memang aneh. Kamu tertawa, terpingkal-pingkal, dan mengacak-ngacak rambutku. Kamu bilang, iya deh, apa sih yang ga buat kamu, suatu saat, kita akan ke Raja Ampat.

Aku kalah lagi, dan aku tertawa mengikutimu.

Sejak saat itu, aku mengerti bagaimana rasanya comfortable silence. Kita berdua diam, tapi bukan kikuk, sadar sepenuhnya bahwa tanpa bicara pun tidak akan ada salah paham, sadar sepenuhnya bahwa di antara diam yang memisahkan kita itu kita sedang berbicara, tentang banyak hal. Diam yang tidak terasa hambar, diam yang tidak terasa sepi, tapi diam yang bisa menjaga senyummu tetap bertahan disana, di sudut bibirmu seperti biasa. Senyum manis.

Kita berdebat lagi, dengan seru, seperti biasa.

Cakrawala itu punya definisi masing-masing menurut setiap orang, katamu. Kalau kamu bilang cakrawala itu tidak berujung, aku tidak setuju, karena aku hanya bisa menikmati sedikit segmen yang kebetulan Tuhan letakkan persis di depanku. Aku bukan sepertimu yang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, yang aku tahu, aku tidak perlu menikmati cakrawala yang luas itu sendirian, aku cukup mengagumi yang jelas-jelas ada di depanku, karena aku sudah punya kamu yang bisa menjaga agar cakrawala itu tetap luas. Karena aku sudah punya kamu, katamu sambil mengacak-ngacak rambutku.

Aku terdiam. Aku tersenyum. Aku kalah lagi, dan aku tertawa mengikutimu.

Ketika semua permainan yang mungkin kita lakukan sudah habis jatahnya, kamu berbaring dan tiba-tiba menunjuk ke langit yang sudah diselimuti bintang. Kamu lihat bintang itu?, katamu sambil menunjuk salah satu kerlip yang ada di kaki langit sebelah selatan. Itu namanya PS-170V-3U. Aku mengernyit. Kamu tertawa lagi, terbahak-bahak. Itu bintangku, katamu. Sejak kecil aku selalu menatapnya setiap malam, berharap dia akan jatuh dan bisa mengabulkan permintaanku. Dasar aneh, jawabku. Kamu tak menjawab, hanya tersenyum manis.

Catatan ini lahir tepat saat kamu tiba-tiba memanggil nama seseorang dalam tidurmu. Entah itu nama siapa, aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku tahu, senyummu manis sekali saat kau tidur. Esok paginya, kita kembali ke dunia kita masing-masing, dengan kesibukan masing-masing, dengan agenda masing-masing, dengan cakrawala masing-masing. Kusisipkan doaku untukmu malam itu, isinya tentu rahasia, hanya aku dan Tuhan yang tahu, tapi salah satunya, aku meng-amin-kan keisenganmu agar bintang yang namanya susah ku ingat itu benar-benar jatuh. Dua belas purnama lagi, kita lihat apakah dia masih disana.

Baik-baik ya, Kecil. Selamat ulang tahun.

***

Lantai merah bermotif kotak ini yang menemani kita menghabiskan waktu. Bahkan menjadi saksi dari rehat kita yang paling lama.

Berantem versi kita memang menggelikan, sampai-sampai aku kehabisan tempat untuk menghindar agar tidak berpapasan denganmu. Selasar ini yang mempertemukan semuanya.

Kadang tanpa angin dan mendung pun, kamu tiba-tiba mendiamkan aku. Tapi justru itu yang membuat semuanya menjadi terlihat lucu di mataku. Kamu ingat, saat kita berdelapan menghabiskan waktu dengan yang lain, melingkar di atas rumput di depan selasar, kamu hanya bertanya dan tertawa kepada enam orang lain di sebelah kanan dan kiriku. Aku yang jelas ada di arah jam dua belasmu pun kamu anggap tidak ada. Saat itulah aku paham bahwa ada cara menegur yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan sindiran, bahkan tanpa kata.

Ditengah masa rehat kita, ini yang aku amati, kalau kita entah bagaimana harus memecah kediaman itu, pesan singkat yang kamu tulis pasti berbeda dari yang biasanya. Terakhir kali, pesan singkatmu benar-benar seperti seorang guru Bahasa Indonesia, dengan bahasa yang formal tanpa singkatan dan tanda baca yang tepat di sana-sini. Bukan q tapi aku, bukan syp tapi siapa (lengkap dengan tanda tanyanya) dan namaku pun dengan sopan kamu tulis huruf pertamanya dengan huruf kapital, F besar. Aku balas pesanmu dengan tanda tanya, dan kamu malah membalasnya dengan tanda seru. Aku bingung jadi kamu kudiamkan saja.

Tapi kalau kamu sedang ingin lebih membuat semuanya terlihat lucu, kita dengan teganya mengorbankan seseorang untuk menjadi penerjemah. Aku bilang sesuatu ke seseorang, dia menyampaikan sesuatu itu padamu, kamu menjawab sesuatu itu dengan sebuah hal yang pasti kamu buat sesingkat mungkin dan menyampaikannya kepada seseorang itu, lalu seseorang itu akan menyampaikannya kepadaku, sampai seseorang itu marah dan menarik kita berdua dan meninggalkan kita sendirian.

Beberapa kali aku mencoba meniru caramu, mendiamkanmu ketika yang aku inginkan atasmu tidak bisa kamu penuhi. Tidak bergeming ketika berpapasan di tangga, diam saja ketika bersebelahan di kelas pagi, tidak acuh ketika ada praktikum yang berselisihan. Namun ternyata aku belum seahli dirimu, dan aku masih harus banyak belajar. Terutama ketika kamu dengan nakalnya tersenyum begitu saja tanpa sebab apapun dan mulai menjadikan apapun sebagai bahan obrolan agar aku yang memulai pembicaraan. Dan bodohnya, aku terpancing dengan umpan itu. Kenakalanmu itulah yang justru menjadi hal yang ternyata malah disukai banyak orang. Dengan modal nakal, iseng dan sok tahu, kamu punya teman dimana saja dan bisa berbicara dengan siapa saja, dengan bahan pembicaraan yang seolah tak pernah habis. Aku iri padamu dalam hal ini.

Dua tahun ke belakang sejak pertama kali kita resmi saling tahu nama satu sama lain, dari sebuah pesan singkat yang tidak sengaja, seakan menjadi tidak berarti apapun dibandingkan dengan dua bulan kebelakang. Bukan kebetulan pastinya, sejak dua bulan yang lalu itu kita mulai lebih banyak berbicara satu sama lain dibandingkan biasanya. Bukan hanya pembicaraan tentang orang lain, tapi pembicaraan ngalor-ngidul khas dirimu yang semakin menunjukkan bahwa otakmu ternyata juga bisa diajak berpikir dengan baik dan sistematis, dan berujung ke ajakan main di Sabtu malam. Padahal sebelum dua bulan ke belakang itu, aku lebih sering melihatmu hanya sebagai orang yang sok sibuk kesana-kemari. Kalau kita bertemu pun hanya ritual saling menunduk dan senyum saja yang kita lakukan. Tapi sejak dua bulan ke belakang, senyum dan tundukan itu berubah menjadi tepukan di pundak, pukulan ringan di pundak atau bahkan kebiasaan jelekku untuk mengacak-acak rambutmu.

Yah, kamu tahu, aku memang tidak terlalu bisa menjadi pendengar yang baik. Aku juga bukan tipe orang yang bisa memulai pembicaraan pertama kali. Untuk itulah, seperti yang pernah aku sampaikan ketika kita sedang duduk di atas motor waktu itu, aku perlu belajar darimu tentang hal ini. Tapi yang paling aku suka darimu, terkadang ketika aku masih belum bijak untuk membagi-bagi pikiranku dan terlalu sibuk dengan sesuatu, kamu bisa memberikanku tempat untuk menjadi seperti anak kecil. Lucu. Aku sendiri sebenarnya risih kalau melihat sikap kekanak-kanakan seseorang, namun entah mengapa, aku menerima dengan senang hati ketika kamu memberiku ruang untuk bisa bersikap egois, mengeluh tentang banyak hal, membandingkan diriku sendiri dengan orang lain dan berbuat kekanak-kanakan. Hanya didepanku kamu boleh egois dan seperti anak kecil, katamu mengingatkanku dulu.

Semua ruang dan waktu di kampus ini mempunyai bagian tersendiri dalam kenanganku tentangmu. Namun porsi terbesar ada di selasar merah itu, yang membagi waktu kita menjadi beberapa segmen. Akan selalu ada ruang untuk selasar ini di dalam cerita kita nanti.

***

Ini adalah cerita tentang stasiun, pantai dan selasar kita yang berharga. Aku pindai kembali beberapa rasa yang masih pantas untuk menjadi bahan nostalgia. Beberapa sudah terserak di Picasa, berantakan di Facebook dan berbagai kantung kenangan kita.  Aku satukan, menutup September ini, dalam bentuk kertas sebesar jendela. Masih terlalu sempit rupanya.

Aneh rasanya ketika melihat ke belakang, bahwa kita menjadi dekat hanya karena sebuah pesan singkat. Aku ingat betul, malam itu aku sedang guling-guling di atas tempat tidur, menunggu gerimis reda, setelah maghrib tiba. Aku mendapatkan nomormu dari teman sekamarku. Aku mulai dengan basa-basi, dan kamu menyambutnya dengan titik dua dan kurung tutup. Dari makan malam sampai bukit bintang, tiba-tiba kotak masukku menjadi penuh denganmu. Sejak saat itu, kita resmi berkenalan. Justru bukan beberapa belas bulan sebelumnya ketika kita hampir sebulan berada di atap yang sama, namun bahkan belum berani untuk saling menyapa. Karena jodoh memang tak akan ke mana, dan di kota kita inilah aku pertama kali ke bioskop denganmu, makan nasi padang tengah malam, merasakan detak jantungku berirama ketika menjemputmu, dan menikmati hangatnya punggungmu.

Bukan hanya stasiun, pantai dan selasar yang kita bagi di kota ini. Namun simpul-simpul ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa kota kita ini terasa begitu istimewa, setidaknya untuk aku sendiri. Tidak perlu ada ritual apapun, hanya ketika ada kamu di sinilah kota kita ini menjadi benar-benar istimewa. Bahkan ketika stasiun, pantai dan selasar itu dihapuskan dari peta, kota kita akan tetap istimewa ketika ada kamu di dalamnya. Kota kita memang istimewa.

Sampai nanti, Kecil. Dini hari ini aku akan berangkat ke negeri Sakura, memenuhi salah satu janji terbesarku di antara seratus yang sudah hampir penuh itu. Perahu kertas tidak akan pernah cukup untuk menyeberang ke sana, kali ini kamu tidak perlu pulang pergi ke dermaga. Aku tidak butuh ritual perpisahan ala sinetron yang berair-mata. Karena kita sudah sama-sama tahu bahwa akan selalu ada kangen untukmu. Aku pasti pulang. Peluk. Erat.

~ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi..

____

Alhamdulillah pernah jadi juara nulis karena tulisan ini ­čÖé

Salah satu cerita favorit. (sekarang masih) Fiktif kok. Semoga September ini bisa menutupnya dengan manis.

aamin ­čÖé