[Bunko-bon: buku dg harga terjangkau, ukuran kecil dan ringan, inspirasi utk meningkatkan minat baca]

#belajar

Pas lihat orang2 Jepang yg baca buku di kereta, selalu wondering kenapa buku2 yg dibaca mostly ukurannya kecil sekali. Setelah cari tahu, ternyata jenis buku seperti itu namanya bunko-bon (文庫本).

Menurut artikel ini (1), ada dua jenis standar format buku di Jepang: tanko-bon (単行本) dan bunko-bon(文庫本). Tanko-bon itu buku ukuran standar (hardcover dan atau paperback) yg sering kita temui, sementara bunko-bon itu semacam mini paperback (mass market paperback).

Lalu apa hubungannya dg inspirasi utk meningkatkan minat baca?

1. Terbitnya bunko-bon berawal dari semangat utk mempermudah akses ke buku2 literatur klasik di Jepang.
Baca2 sejarah munculnya format bunko-bon di Jepang juga menarik. Format bunko-bon ini muncul sekitar tahun 1927 ketika penerbit Iwanami Shoten menerbitkan buku2 klasik Jepang (the Bunko Classic Series) dalam bentuk bunko-bon dg harga murah. Tujuannya agar lebih banyak orang yg bisa baca buku. Rupanya gerakan ini terinspirasi dari ide serupa yg dilakukan oleh penerbit Reclam Verlag dari Jerman (2), ketika mereka menerbitkan “Little Yellow Books”, edisi mini paperback simple dari literatur klasik utk sekolah2 dan kampus2.

^ Ide dan gerakan ini sangat keren kalau bisa diadaptasi di Indonesia. Literatur2 klasik Indonesia yg semakin jauh dari anak2 sekolah dan mahasiswa, diproduksi massal dg kemasan mini dan harga terjangkau. Semoga temen2 penulis, editor, atau yg berkecimpung di dunia buku membaca ide ini dan ada yg tertarik utk mengaplikasikan.

2. Ukurannya yg kecil dan ringan utk dibawa2.
Bunko-bon ukurannya sekitar kertas A6, jadi memang praktis utk ditaruh di tas, dibawa2, dan dibaca ketika mobile. Sebagai gambaran, ukuran A6 itu muat di telapak tangan dan gampang diselip2kan di tas saat bepergian. Waktu dibaca di kereta atau bus pun tidak akan terlalu menonjol atau menarik perhatian.

3. Harganya murah dan affordable.
Harga buku jenis bunkobon biasanya berkisar 500-600 yen. Sebagai perbandingan, satu porsi makan siang di kantin kampus harganya 500 yen. Sedangkan kalau makan di restoran, minimal habis 1000 yen. Oleh karena itu, dari segi harga, buku yg diterbitkan dalam edisi bunkobon ini sangat terjangkau utk semua orang.
Harga buku2 bunkobon juga sudah ditulis di bagian belakang sampul bukunya, jadi satu harga sama di seluruh Jepang. Katanya: this enables the distribution of a wide variety of titles in small volumes and allows for royalties to be paid on books with small initial print runs (3).

Nah, meski banyak pro dan kontra ttg bunkobun ini, akhir2 ini (4) para penulis minta ke penerbit utk publish dalam bentuk bunko-bon agar bisa sampai ke tangan pembaca lebih cepat dan lebih murah. Trend ini dimulai oleh Higashino Keigo, salah satu penulis Jepang favorit kami. Mantap, Pak!

Ref:
1. https://www.redcircleauthors.com/…/books-in-japan-are-gene…/

2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Reclam

3. https://www.redcircleauthors.com/…/book-prices-are-fixed-i…/

4. https://www.japantimes.co.jp/…/libraries-blame-japans-slu…/…

Emergency Card: Kartu Praktis Ketika Terjadi Gawat Darurat di Jepang

Bagi yang membutuhkan Emergency Card/Kartu Darurat/ 緊急カード、Ehime Prefectural International Center (EPIC) bekerja sama dng Badan Organisasi Perkumpulan Pertukaran Internasional menyediakan link bebas download dan bisa print sendiri dari rumah.

Kartu ini berisikan informasi penting dalam 7 bahasa: Nihongo, English, Bahasa Indonesia, Chinese, Spanish, Portugal, dan Kankoku (Korsel).

Come in handy saat terjadi emergency, misalnya apa yg harus dilakukan saat kecelakaan, sudden illness, kebakaran, gempa, taifuu, dll., nomor yg bisa dihubungi, kosa kata penting, dll.

Bermanfaat banget terutama utk yg nihongonya masih limited.

Link download utk Bahasa Indonesia dan English: http://www.epic.or.jp/epic/documents/English_000.pdf

[Sampul Buku : refleksi budaya malu orang Jepang]

#belajar

Salah satu pemandangan yang common di sini adalah lihat orang Jepang baca buku di tempat2 umum, atau saat mobile (di dalam kereta, bus, dan kendaraan umum lain).

Sering kali kepikiran beberapa hal:
– Ukuran bukunya relatif lebih kecil ya, jadi enak kalau mau dibawa kemana2. Lebih enteng juga. Pernah iseng ke perpus kampus bandingin Harry Potter & The Sorcerer’s Stone versi English sama Jepang. Lumayan juga beda ukurannya. Karena diterjemahin ke kanji jadi mungkin lebih compact.

– Sebagian besar buku yg dibaca di tempat umum itu dikasih sampul. Tebakannya sih sampul bawaan dari toko bukunya, semacam sampul dari kertas buram seperti yg ada di gambar. Unik. Seakan2 ga mau dilihat lagi baca buku apa. Agak beda dg ketika di Indonesia dulu. Masa2 culun kalau lagi baca buku, sampulnya pengen ditunjukin ke semua orang, haha. Apalagi ketika zaman mahasiswa, kalau baca Pram, dkk. bukunya dibawa kemana2, biar dikira aktivis :p

Btw, toko buku Junkudo ini punya section khusus utk buku2 in English. Baik buku2 karya penulis Jepang yg diterjemahkan ke English atau buku2 terbitan luar yg memang berbahasa English. Recommended 本屋さん!

Membuat Wayang Lebih Enjoyable, #belajar dari pagelaran Kabuki di Jepang

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan nonton Kabuki. Alhamdulillah gratis karena kegiatan ini masuk dalam rangkaian program dr pemberi beasiswa. Kabuki ini semacam wayang orang atau kethoprak kalau di Indonesia. Bisa dibaca2 sendiri buat yg belum pernah dengar ttg kabuki, misalnya di sini [1].

39997235_10216853517031281_991707819797381120_n

Ada berbagai hal menarik bisa jadi bahan belajar, khususnya cara2 yg dilakukan tim/pengelola agar kabuki lebih enjoyable.

1. Penjelasan ttg Kabuki sebelum pentas dimulai.
Sebelum pertunjukan dimulai, ada MC yg menjelaskan ttg Kabuki secara singkat dan fun. Filosofi ttg latar background yg dipakai, kenapa ada pohon besar di sana. Juga ttg para pemain musik yg tersembunyi di balik layar. Disinggung juga ttg cara jalan khusus yg sering ditunjukkan aktor kabuki, kemudian ada perwakilan penonton yg diundang ke atas panggung utk praktek. Diakhiri dg teaser atau ringkasan ttg tema pentas hari itu, bagian mana yg menarik dan perlu jadi perhatian, dsb.

2. Earphone Guide
Pertama lihat alat ini pas ada kunjungan ke museum Edo di Tokyo. Amazed. Maklum orang kampung. Earphone Guide (EG) ini sangat helpful utk penonton, baik orang Jepang sendiri maupun foreigners. EG ini berfungsi sebagai semacam guide/translator utk penonton, baik translasi dalam bahasa Jepang (katanya yg dipakai di kabuki biasanya adalah bahasa Jepang jadul) atau pun in English. Ketika pergantian cerita dan masuk tokoh2 baru, EG membantu penonton utk tahu siapa saja tokoh yg ada di panggung dan sedang apa mereka. Ketika ada jokes2 yg terlontar dari pemain, biasanya akan dikasih penjelasan bagian mana yg lucu, haha. Pokoknya EG ini membantu menceritakan kisah atau adegan yg sedang ada di panggung secara live. Simple but nice idea!

40033451_10216853516711273_8219731204476239872_n

3. Kolaborasi dg anime
Trik ini most likely applicable utk yg di Jepang ya. Jadi pentas2 kabuki modern mengusung topik dari anime yg terkenal semacam One Piece atau Naruto [2]. Karena story nya lebih relatable, mungkin anak muda Jepang yg tertarik utk melangkahkan kakinya ke theater kabuki jadi lebih banyak.

40049683_10216853517751299_2212431095478091776_n

[Aplikasinya ke pertunjukan wayang di Indonesia]

Terakhir nonton wayang kulit sudah lama sekali. Jaman masih mahasiswa dan kebetulan ada pertunjukan wayang semalam suntuk di balai desa dekat kontrakan.

Kepikiran saja, poin 1 dan 2 di atas mungkin bisa diadopsi juga utk membantu wayang jadi lebih enjoyable.

– Ada penjelasan dulu dari pak dalang atau asistennya ttg wayang secara singkat. Perkenalan dan penjelasan singkat ttg story yg akan ditampilkan, wayang siapa saja yg akan keluar dalam cerita, ttg sinden, ttg penabuh gamelan, dsb. Juga ttg cerita2 filosofis mengenai apa2 yg ada di stage ketika pagelaran wayang berlangsung, diselingi guyon2 dll, mungkin akan membantu penonton utk lebih engage dg cerita yg akan ditampilkan.

– Earphone guide. Seperti yg tertulis di atas, EG ini akan sangat helpful utk membantu penonton memahami jalan cerita. Saya pribadi masih sangat kesulitan ketika nyimak cerita wayang yg disajikan dg bahasa Jawa alus, apalagi para foreigners.

– Kolaborasi cerita. Kalau di Jepang ada anime, apa yg menarik utk diadopsi ceritanya ke wayang ya? Cerita daerah? Sinetron?

Kalau ada yg tahu atau pernah mengalami pengalaman menarik ketika nonton wayang, ide2 kreatif yg dilakukan pak dalang dan tim utk menarik minat publik ttg wayang, bisa dishare juga di komen 😀

Ref:

1. https://www.japan-guide.com/e/e2090.html

2. https://www.kabukiweb.net/theatres/shinbashi/performance/august_1.html

Menyediakan shopping cart + basket di kawasan kios/pasar tradisional

#belajar

Ide ini terlintas ketika nonton acara “Tsuburenai Mise” (toko yg ga bangkrut) edisi Shoutengai (1). Shotengai 商店街 (shopping district) di Jepang biasanya berupa satu jalan atau gang yg dipenuhi jejeran toko2, mulai dari jualan sayur mayur, buah, snack, baju, sampai tempat makan dan camilan. Meski secara desain ruang dan tata bangunan berbeda dng yg ada di Indonesia, shoutengai ini boleh lah disebut sbg pasar tradisional nya Jepang. Penjualnya banyak yg sudah mbah2, cenderung “dekat” sama pembelinya. Harga dagangan di sini juga mostly relatif lebih murah dr harga pasaran pd umumnya.

38136063_10216662199768469_6146311381277736960_n

Alkisah, sebuah shotengai di daerah Matsubara, Kanagawa (1) kalah saingan sama supermarket yg menjamur dimana2. Pengurus shotengai kemudian memeras otak agar pelanggannya mau datang lagi, dan beberapa ide brilian yg kemudian diterapkan adalah:

1. Menyediakan shopping cart dan basket utk pelanggan yg datang ke shotengai.
Cart dan basket ini disediakan di dekat tempat parkir dan tersedia utk semua pembeli yg mampir ke shotengai. Karena desain shotengai yg bentuknya memanjang, fasilitas ini sangat membantu pengunjung utk tidak repot2 bawa barang belanjaan kemana2. Ketika pulang dan ke tempat parkir, tinggal dikembalikan ke tempat semula.

38247297_10216662200568489_8025933230584627200_n.jpg

2. Membuat pamflet item2 yg diskon dan hari2 diskon ketika item tertentu lebih murah.

Ide2 tsb sepertinya feasible juga utk diterapkan di kawasan kios2 tradisional (kelontong dan atau daerah kios pusat oleh2 di terminal atau semacamnya), khususnya penyediaan shopping cart dan basket. Agar ibu2 yg belanja nantinya tidak terlalu berat bawa barang belanjaan kalau mau mbandingin selisih harga 500 rupiah dari ujung ke ujung. Juga jd ide baru utk penataan kawasan kios/pasar ke depannya. Semoga bisa lebih meramaikan pasar tradisional.

Ref:

1. http://www.tbs.co.jp/tsuburenai-mise/onair/onair_contents_20180715_4.html

Tag penanda utk ibu hamil dan orang sakit di Jepang

Seri tag/ikon/sign yg helpful di Jepang #1

Ada ikon baru di bagian priority seat kereta. Ikon yg menjelaskan ttg tag utk ibu hamil dan orang sakit.

– Tag ibu hamil
Banyak sekali upaya sistemik yg diterapkan oleh pemerintah Jepang utk meningkatkan kualitas hidup ibu hamil dan anak2. Salah satunya, memberikan tag “おなかに赤ちゃんがいます/ada adek bayi di perut” yg berwarna pink. Tag ini katanya diberikan bersama paket2 support yg lain di awal2 kehamilan (1). Penjelasannya di samping mark yg pink : meskipun belum kentara dari perutnya, periode awal2 kehamilan adalah saat2 penting utk Ibu dan calon bayinya, please be kind ke orang2 yg menggunakan tanda ini. Utk penjelasan lebih lengkap ttg kehamilan di Jepang bisa baca2 di sini (1).

– Tag cross and heart mark utk yg sedang sakit.
Tanda ini digunakan oleh orang2 yg sedang sakit tapi ga terlihat dari fisik luarnya. Utk mereka2 yg sakit tapi tidak diperban, tidak bertongkat atau tanda2 lain yg terlihat dari luar.

Salah satu inisiatif yg baik utk melatih kepedulian dan mengusir prasangka buruk kita. Kalau2 liat ada mas2/mbak2 muda yg duduk di priority seat, latihan buat ga terburu2 menjudge. Siapa tahu memang mereka lebih berhak utk duduk di priority seat tsb.

Ref :

1. https://naister.wordpress.com/2018/04/28/mari-menambah-momongan-di-jepang/

Akses Free WiFi ketika terjadi bencana alam di Jepang

Ketika terjadi bencana alam skala besar di Jepang, “00000JAPAN” atau five zeroes Japan menyediakan akses free wifi bagi masyarakat di daerah terdampak bencana. Inisiatif ini merupakan hasil kerjasama dari operator2 besar semacam KDDI, Docomo, Softbank dan perusahaan2 telekomunikasi lainnya.

Sederhananya, operator2 itu mengubah akses poin wifi-nya menjadi 00000JAPAN yg bisa diakses semua orang, tanpa harus menjadi pengguna operator tsb. Guidelines nya bisa diakses di sini kalau mau baca (1). Inisiatif ini diluncurkan berdasarkan pengalaman gempa Tohoku 2011, bahwa jaringan internet menjadi salah satu kebutuhan vital, terutama untuk safety confirmation dan komunikasi.

Yang punya akses ke menkominfo atau BNPB di Indonesia, bisa banget diusulin ide ini nih, insya Allah sangat bermanfaat.

Screenshot: KDDI meluncurkan layanan 00000JAPAN hari ini untuk wilayah Osaka dan sekitarnya yg terdampak bencana gempa bumi (2).

Ref :
1. https://www.wlan-business.org/wp/wp-content/uploads/2015/03/Wi-Fi_Free_Guideline_Ver.2.0_20150302_en.pdf
2. http://news.kddi.com/kddi/corporate/newsrelease/2018/06/18/3215.html