Bacaan ringan utk yg mau terjun jadi scientist

#belajar

Dapat rekomendasi artikel keren (1) ini dari cikgu kecil di lab, artikel yg ditulis Paul Nurse (2), salah satu penerima Nobel tahun 2001 yg meneliti ttg cell cycle. Kalau ngurutin nasab, Dr. Nurse ini sensei-nya sensei-nya cikgu besar, alias kakeknya cikgu besar.

59663606_10218787704344755_4682141688448155648_n

Di artikel ini, beliau bercerita ttg perjalanan hidupnya: kenapa memilih jadi scientist, kenapa fokus ke cell-cycle, dan banyak memberi nasehat utk yg muda2 dan mau terjun ke dunia science.

Beberapa nasehat yg ngena buat saya pribadi:

– “How to do good experiment that were controlled and reproducible”.
No controls, no life. Motto lab kami. Setiap lab meeting, pertanyaan pertama dari cikgu adalah: where’s your control? Kalau eksperimen ga ada control-nya, secantik apapun hasilnya, ga akan dibahas, wkwk. Kalau sudah lengkap dg control-nya, akan diminta utk mengulang eksperimen yg sama minimal sekali lagi utk ngecek bahwa hasilnya konsisten dan reproducible.

59471140_10218787704584761_6686051026488786944_n

– “It was essential to tackle significant research problem.”
Do you think this (research) is interesting? Setiap lab meeting, setelah ngajuin future plans, akan ditutup dg pertanyaan pamungkas itu. Risetmu ini menarik po? Dhuar!
Tapi nasehat ini akan sangat penting ketika nanti sudah terjun sendiri ke dunia persilatan dan punya kebebasan utk menentukan topik penelitian kita sendiri. Seperti yg ditulis Dr. Nurse: it might not be solved of course, but it had to be a problem that was worth solving.

– Yg terakhir, hati2 dg jebakan “we see what we want to see”. Istilahnya Dr. Nurse, “I knew the “right” answer so when the “wrong” answer came along I had assumed the experimental result was incorrect.” Kadang sebelum eksperimen, kita sudah ada hipotesis hasilnya akan seperti apa, jadi ketika hasilnya beda dg harapan, memang agak susah utk terlepas dari belenggu hipotesis tsb. Memaksakan interpretasi hasilnya agar sesuai dg hipotesis kita, yg belum tentu benar.

59730713_10218787704944770_8560936166818316288_n

Seri “A journey in science” ini seru utk diikuti, cerita2 dari scientists kece badai yg insya Allah menginspirasi.

Kalau ada waktu luang sambil nunggu buka puasa, eh, di antara sela2 eksperimen, bisa coba baca2 juga lecture dari para pemenang Nobel. Rekomendasi pribadi saya, bisa mulai dari lecture-nya Osamu Shimomura, penemu Green Fluorescent Protein (GFP) (3).

Selamat menikmati!

Ref:
1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/…/…/pdf/mol-23-16_189_Nurse.pdf
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Paul_Nurse
3. https://www.nobelprize.org/uploa…/…/06/shimomura_lecture.pdf

Coblos!

Bulan Mei tahun lalu, ketika pemilu Malaysia berlangsung, banyak dengar cerita dari temen lab ttg betapa serunya perjuangan temen2 Malaysia yg di LN utk bisa mengantarkan dan memastikan surat suaranya sampai tepat waktu saat hari H perhitungan suara. Waktu yg diberikan oleh panitia sangat mepet. Surat suara harus dikirim dari Malaysia ke berbagai negara, dicoblos, kemudian dikirim balik ke Malaysia utk bisa dihitung. Lalu muncul gerakan global volunteer yg menerima jastip pengiriman surat suara ke Malaysia. Ada yg mengoordinir utk kumpul di airport2, kemudian ada yg sengaja pulang ke Malaysia utk bawain surat2 suara, sesampai di sana masih diteruskan oleh runners yg membantu mengirimkan surat ke TPS masing2. Heroik sekali. Anak2 muda, millenials, yg semangat menjadi bagian dari perubahan.

Semoga anak2 muda Indonesia seperti kita2 ini (eaa..) pun tak kalah heroik dg mereka.

Bismillah, dua anak millenials siap mencoblos ;D

56839640_10218619324895374_8755614690609987584_n

Kenapa kita suka ngeyel kalau ngobrol tentang pemilu

[Kita sebenarnya sadar dan tahu kalau mereka berbohong, we just don’t care]

Sebelum ikut ribut2 di sosmed nyinyirin kampanye yg bukan junjungannya, sebelum nyoblos di TPS dg rahasia, mungkin bisa baca artikel dan nonton video singkat berikut.

#belajar

Ada ulasan menarik ttg kenapa susah sekali membuat seseorang berpindah haluan politik, bahkan setelah dihadapkan dg fakta2 yg membantah klaim atau false statements dari kandidat junjungannya.

– Fact-checking tidak begitu efektif utk mengubah pandangan politik seseorang, karena psychologically, kita enggan untuk mengakui kalau kita salah [1]. Dalam hati kecil kita, mungkin kita sadar kalau junjungan kita itu memang salah/bohong, tapi kita terlalu gengsi utk mengakuinya, dan kita terjerumus utk take things personally ketika “diskusi” di sosmed. Ada papernya kalau mau baca2 [2, 3]. Akhirnya, we just don’t care dg fakta2 yg ada.

In the past, the research has found that not only do facts fail to sway minds, but they can sometimes produce what’s known as a “backfire effect,” leaving people even more stubborn and sure of their preexisting belief.[4]. Semakin dikasih fakta bukan malah sadar, tapi malah semakin ngeyel.

Kalau take home messages-nya menurut saya pribadi:

– Ngeyel2an di sosmed itu ga efektif buat kampanye, mau dikasih fakta sebanyak apapun, akan susah utk mengubah false belief seseorang. Ketika merasa sudah terlalu lebay membela junjungan masing2, padahal sebenarnya sadar kalau mereka memang salah, sebaiknya ambil wudhu dan ngadem sebentar. Memang berat utk bilang dan mengakui : I was wrong. Saran saya, setelah wudhu dan ngadem, ga usah ikut “diskusi” lagi, cukup melipir perlahan, biarkan aja yg ngejudge2 gitu.

– Karena nyoblosnya bukan di medsos dan bersifat rahasia, jadi sebelum datang ke TPS, silahkan ambil wudhu dan tanya baik2 ke hati nurani, siapa yg sebenarnya pantas memegang amanah itu.

Bismillah.

Ref:
1. https://youtu.be/S8DQ2kseTWw
2. https://link.springer.com/arti…/10.1007%2Fs11109-010-9112-2…
3.https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2995128
4. https://www.vox.com/…/1592…/fact-checks-political-psychology

Re-branding Sambal Pecel sebagai Salad Dressing

#belajar

Kalau belanja di supermarket di Jepang, dressing utk salad biasanya punya rak tersendiri, penuh dari atas sampai bawah dg berbagai rasa.

55897083_10218518089484552_3684856840732016640_n

Promosi kebiasaan hidup sehat dg lebih banyak mengkonsumsi sayur mentah dalam bentuk salad, apalagi yg praktis dan cepat saji, mungkin jadi salah satu pemicu menjamurnya produksi salad dressing.

Nah, Indonesia sebenarnya punya kekayaan kuliner tersendiri yg bisa di re-branding jadi salad dressing. Salah satunya sambal pecel yg sudah familiar di lidah hampir semua orang Indonesia. Sayangnya, sebagian besar sambal pecel olahan ini dijual dalam bentuk paste yg kurang praktis karena harus diseduh air panas sebelum bisa di konsumsi.

Sepertinya menarik kalau sambal pecel dikemas dalam bentuk cair, di dalam botol, dan siap saji sebagai teman makan salad sayur. Bisa juga di aplikasikan utk kuah rujak, sambal plencing, sambal petis atau sambal lothek dkk.

55849463_10218518089084542_614915681858617344_n

Re-branding agar sambal pecel dkk itu bukan lagi hanya ada di warung2 pinggir jalan, tapi bisa juga setara dg salad dressing lain yg gaul, cocok utk millenials dan bahkan go international.

[Bunko-bon: buku dg harga terjangkau, ukuran kecil dan ringan, inspirasi utk meningkatkan minat baca]

#belajar

Pas lihat orang2 Jepang yg baca buku di kereta, selalu wondering kenapa buku2 yg dibaca mostly ukurannya kecil sekali. Setelah cari tahu, ternyata jenis buku seperti itu namanya bunko-bon (文庫本).

Menurut artikel ini (1), ada dua jenis standar format buku di Jepang: tanko-bon (単行本) dan bunko-bon(文庫本). Tanko-bon itu buku ukuran standar (hardcover dan atau paperback) yg sering kita temui, sementara bunko-bon itu semacam mini paperback (mass market paperback).

Lalu apa hubungannya dg inspirasi utk meningkatkan minat baca?

1. Terbitnya bunko-bon berawal dari semangat utk mempermudah akses ke buku2 literatur klasik di Jepang.
Baca2 sejarah munculnya format bunko-bon di Jepang juga menarik. Format bunko-bon ini muncul sekitar tahun 1927 ketika penerbit Iwanami Shoten menerbitkan buku2 klasik Jepang (the Bunko Classic Series) dalam bentuk bunko-bon dg harga murah. Tujuannya agar lebih banyak orang yg bisa baca buku. Rupanya gerakan ini terinspirasi dari ide serupa yg dilakukan oleh penerbit Reclam Verlag dari Jerman (2), ketika mereka menerbitkan “Little Yellow Books”, edisi mini paperback simple dari literatur klasik utk sekolah2 dan kampus2.

^ Ide dan gerakan ini sangat keren kalau bisa diadaptasi di Indonesia. Literatur2 klasik Indonesia yg semakin jauh dari anak2 sekolah dan mahasiswa, diproduksi massal dg kemasan mini dan harga terjangkau. Semoga temen2 penulis, editor, atau yg berkecimpung di dunia buku membaca ide ini dan ada yg tertarik utk mengaplikasikan.

2. Ukurannya yg kecil dan ringan utk dibawa2.
Bunko-bon ukurannya sekitar kertas A6, jadi memang praktis utk ditaruh di tas, dibawa2, dan dibaca ketika mobile. Sebagai gambaran, ukuran A6 itu muat di telapak tangan dan gampang diselip2kan di tas saat bepergian. Waktu dibaca di kereta atau bus pun tidak akan terlalu menonjol atau menarik perhatian.

3. Harganya murah dan affordable.
Harga buku jenis bunkobon biasanya berkisar 500-600 yen. Sebagai perbandingan, satu porsi makan siang di kantin kampus harganya 500 yen. Sedangkan kalau makan di restoran, minimal habis 1000 yen. Oleh karena itu, dari segi harga, buku yg diterbitkan dalam edisi bunkobon ini sangat terjangkau utk semua orang.
Harga buku2 bunkobon juga sudah ditulis di bagian belakang sampul bukunya, jadi satu harga sama di seluruh Jepang. Katanya: this enables the distribution of a wide variety of titles in small volumes and allows for royalties to be paid on books with small initial print runs (3).

Nah, meski banyak pro dan kontra ttg bunkobun ini, akhir2 ini (4) para penulis minta ke penerbit utk publish dalam bentuk bunko-bon agar bisa sampai ke tangan pembaca lebih cepat dan lebih murah. Trend ini dimulai oleh Higashino Keigo, salah satu penulis Jepang favorit kami. Mantap, Pak!

Ref:
1. https://www.redcircleauthors.com/…/books-in-japan-are-gene…/

2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Reclam

3. https://www.redcircleauthors.com/…/book-prices-are-fixed-i…/

4. https://www.japantimes.co.jp/…/libraries-blame-japans-slu…/…

Emergency Card: Kartu Praktis Ketika Terjadi Gawat Darurat di Jepang

Bagi yang membutuhkan Emergency Card/Kartu Darurat/ 緊急カード、Ehime Prefectural International Center (EPIC) bekerja sama dng Badan Organisasi Perkumpulan Pertukaran Internasional menyediakan link bebas download dan bisa print sendiri dari rumah.

Kartu ini berisikan informasi penting dalam 7 bahasa: Nihongo, English, Bahasa Indonesia, Chinese, Spanish, Portugal, dan Kankoku (Korsel).

Come in handy saat terjadi emergency, misalnya apa yg harus dilakukan saat kecelakaan, sudden illness, kebakaran, gempa, taifuu, dll., nomor yg bisa dihubungi, kosa kata penting, dll.

Bermanfaat banget terutama utk yg nihongonya masih limited.

Link download utk Bahasa Indonesia dan English: http://www.epic.or.jp/epic/documents/English_000.pdf

[Sampul Buku : refleksi budaya malu orang Jepang]

#belajar

Salah satu pemandangan yang common di sini adalah lihat orang Jepang baca buku di tempat2 umum, atau saat mobile (di dalam kereta, bus, dan kendaraan umum lain).

Sering kali kepikiran beberapa hal:
– Ukuran bukunya relatif lebih kecil ya, jadi enak kalau mau dibawa kemana2. Lebih enteng juga. Pernah iseng ke perpus kampus bandingin Harry Potter & The Sorcerer’s Stone versi English sama Jepang. Lumayan juga beda ukurannya. Karena diterjemahin ke kanji jadi mungkin lebih compact.

– Sebagian besar buku yg dibaca di tempat umum itu dikasih sampul. Tebakannya sih sampul bawaan dari toko bukunya, semacam sampul dari kertas buram seperti yg ada di gambar. Unik. Seakan2 ga mau dilihat lagi baca buku apa. Agak beda dg ketika di Indonesia dulu. Masa2 culun kalau lagi baca buku, sampulnya pengen ditunjukin ke semua orang, haha. Apalagi ketika zaman mahasiswa, kalau baca Pram, dkk. bukunya dibawa kemana2, biar dikira aktivis :p

Btw, toko buku Junkudo ini punya section khusus utk buku2 in English. Baik buku2 karya penulis Jepang yg diterjemahkan ke English atau buku2 terbitan luar yg memang berbahasa English. Recommended 本屋さん!

Membuat Wayang Lebih Enjoyable, #belajar dari pagelaran Kabuki di Jepang

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan nonton Kabuki. Alhamdulillah gratis karena kegiatan ini masuk dalam rangkaian program dr pemberi beasiswa. Kabuki ini semacam wayang orang atau kethoprak kalau di Indonesia. Bisa dibaca2 sendiri buat yg belum pernah dengar ttg kabuki, misalnya di sini [1].

39997235_10216853517031281_991707819797381120_n

Ada berbagai hal menarik bisa jadi bahan belajar, khususnya cara2 yg dilakukan tim/pengelola agar kabuki lebih enjoyable.

1. Penjelasan ttg Kabuki sebelum pentas dimulai.
Sebelum pertunjukan dimulai, ada MC yg menjelaskan ttg Kabuki secara singkat dan fun. Filosofi ttg latar background yg dipakai, kenapa ada pohon besar di sana. Juga ttg para pemain musik yg tersembunyi di balik layar. Disinggung juga ttg cara jalan khusus yg sering ditunjukkan aktor kabuki, kemudian ada perwakilan penonton yg diundang ke atas panggung utk praktek. Diakhiri dg teaser atau ringkasan ttg tema pentas hari itu, bagian mana yg menarik dan perlu jadi perhatian, dsb.

2. Earphone Guide
Pertama lihat alat ini pas ada kunjungan ke museum Edo di Tokyo. Amazed. Maklum orang kampung. Earphone Guide (EG) ini sangat helpful utk penonton, baik orang Jepang sendiri maupun foreigners. EG ini berfungsi sebagai semacam guide/translator utk penonton, baik translasi dalam bahasa Jepang (katanya yg dipakai di kabuki biasanya adalah bahasa Jepang jadul) atau pun in English. Ketika pergantian cerita dan masuk tokoh2 baru, EG membantu penonton utk tahu siapa saja tokoh yg ada di panggung dan sedang apa mereka. Ketika ada jokes2 yg terlontar dari pemain, biasanya akan dikasih penjelasan bagian mana yg lucu, haha. Pokoknya EG ini membantu menceritakan kisah atau adegan yg sedang ada di panggung secara live. Simple but nice idea!

40033451_10216853516711273_8219731204476239872_n

3. Kolaborasi dg anime
Trik ini most likely applicable utk yg di Jepang ya. Jadi pentas2 kabuki modern mengusung topik dari anime yg terkenal semacam One Piece atau Naruto [2]. Karena story nya lebih relatable, mungkin anak muda Jepang yg tertarik utk melangkahkan kakinya ke theater kabuki jadi lebih banyak.

40049683_10216853517751299_2212431095478091776_n

[Aplikasinya ke pertunjukan wayang di Indonesia]

Terakhir nonton wayang kulit sudah lama sekali. Jaman masih mahasiswa dan kebetulan ada pertunjukan wayang semalam suntuk di balai desa dekat kontrakan.

Kepikiran saja, poin 1 dan 2 di atas mungkin bisa diadopsi juga utk membantu wayang jadi lebih enjoyable.

– Ada penjelasan dulu dari pak dalang atau asistennya ttg wayang secara singkat. Perkenalan dan penjelasan singkat ttg story yg akan ditampilkan, wayang siapa saja yg akan keluar dalam cerita, ttg sinden, ttg penabuh gamelan, dsb. Juga ttg cerita2 filosofis mengenai apa2 yg ada di stage ketika pagelaran wayang berlangsung, diselingi guyon2 dll, mungkin akan membantu penonton utk lebih engage dg cerita yg akan ditampilkan.

– Earphone guide. Seperti yg tertulis di atas, EG ini akan sangat helpful utk membantu penonton memahami jalan cerita. Saya pribadi masih sangat kesulitan ketika nyimak cerita wayang yg disajikan dg bahasa Jawa alus, apalagi para foreigners.

– Kolaborasi cerita. Kalau di Jepang ada anime, apa yg menarik utk diadopsi ceritanya ke wayang ya? Cerita daerah? Sinetron?

Kalau ada yg tahu atau pernah mengalami pengalaman menarik ketika nonton wayang, ide2 kreatif yg dilakukan pak dalang dan tim utk menarik minat publik ttg wayang, bisa dishare juga di komen 😀

Ref:

1. https://www.japan-guide.com/e/e2090.html

2. https://www.kabukiweb.net/theatres/shinbashi/performance/august_1.html