Skripsi 30 menit

30 menit

Skripsi 30 menit

Salah satu life-hack berharga yg saya dapet dari senpai* di kampus ketika kuliah dulu, adalah menyiasati kerjaan atau target2 yg sifatnya marathon dan jangka panjang dg menabung bagian demi bagian setiap hari. Waktu itu konteksnya adalah skripsi. Ketika saya iseng2 bertanya gimana caranya biar bisa lancar skripsi, dg simpel dijawab oleh senpai tsb : dicicil aja nulisnya, 30 menit tiap hari, kalau bisa istiqomah, 6 bulan insya Allah beres.

Hanya sebentar memang, menabung 30 menit setiap harinya. Tapi setelah dijalani, terasa sekali bahwa menumbuhkan kebiasaan ini bukan hanya soal sebentar atau lamanya, tapi yg paling penting : agar niatan mau memulai itu muncul. Memaksa kita utk memulai. Sekalinya dipaksa gerak, biasanya lebih gampang buat diajak jalan terus atau bahkan ngebut.

Awal2 skrispi dulu, ketika masih eksperimen di lab, coba2 dulu dg nulis pendahuluan, nyusun tujuan dkk. Sehari 30 menit kadang 1 paragraf, kadang bisa sehalaman kalau cuma nyicil material and methods yg paling gampang. Kalau lagi capek mikir, sekedar ngerapiin daftar pustaka, check ada sitasi yg terlewat atau ga dsb. Yang penting udah mulai nulis.

Seperti menumbuhkan kebiasaan yg lain, yg paling berat biasanya 40 hari pertama. Kalau bisa istiqomah, insya Allah bisa mengalir sampai jauh.

Gimana praktiknya? Pinter2 ngakalin waktu saja. 30 menit itu ga lama kok, meskipun kadang2 rasanya kita jadi yg paling sibuk sedunia, 30 menit itu cuma sekian persen dari jatah 24 jam yg diberikan utk kita dalam sehari.

Bangun 30 menit lebih awal, waktu tidurnya mundur setengah jam, socmednya dipause dulu 30 menit, atau guling2nya didiskon 30 menit. Insya Allah cukup. Kalau pas topiknya serius dan butuh mikir, lebih enak dikerjain ketika pagi pas jam2 dhuha, biasanya lebih lancar mengalir idenya.

Life-hack ini Alhamdulillah masih teramalkan sampai sekarang. Utk mengejar target2 jangka panjang yg sifatnya marathon. Ketika nulis thesis kemaren juga, nyicil2.

* PS : Saya lupa dari siapa dulu dapet nasehat ini. Tapi kalau ada sedikiit saja kebaikan dari hal ini, semoga tersambung sampai ke senpai yg baik tsb. Post ini ditulis sbg salah satu ucapan terima kasih utk beliau.

Fasilitas Difabel di Jepang

Jepang yg ramah terhadap temen2 yg berkebutuhan khusus

Salah satu contohnya adalah video dibawah ini, yg mungkin sudah banyak diketahui, ttg fasilitas yg disediakan utk pengguna kursi roda ketika hendak naik kereta.

Video ini adalah salah satu resources yg disusun oleh temen2 berkebutuhan khusus yg tinggal di Jepang. Bagi yg berminat belajar fasilitas2 seperti apa yg ada di Jepang, terutama untuk yg sedang riset ttg hal ini atau sesiapa yg punya akses untuk menyusun kebijakan serupa di Indonesia, bisa baca2 di fanpage Accessible Japan atau di blog nya (1).

Banyak info2 terkait fasilitas umum untuk temen2 yg berkebutuhan khusus : toilet khusus, hotel2 yg memfasilitasi, huruf braille jepang (yg ternyata agak beda dg braille standar), disability discount, guide dog, internet access, dan tentu saja essential Japanese.

Yg seru, kita bisa ikut kontribusi juga lho! Gimana caranya? dengan memberikan informasi terbaru mengenai hal2 berikut :
– Pictures of accessibility features at tourist attractions
– Locations of toilets, etc at tourist attractions
– Updates/corrections for our currently listed information
– A blog entry of your experience
– Reviews of hotels
– Additional pictures or information for listed hotels
dst

Last, ada yg tertarik untuk volunteer menyusun website/sumber informasi serupa untuk fasilitas2 di Indonesia? Crowd-sourcing pahala

 

Ref :

1). https://www.accessible-japan.com/

Program Makan Siang Sehat ala Sekolah di Jepang

16403159_10211726430337318_5932587678816449437_o

Beberapa hari lalu, Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk main dan ngobrol2 dengan anak kelas 6 di SD Higashi Ikoma bareng dear Alifah. Yg paling berkesan, akhirnya bisa melihat dan merasakan sendiri School Lunch atau kyushoku ala sekolah Jepang. Untuk bayangan bagaimana School Lunch di Jepang, bisa nonton video ini: School Lunch in Japan – It’s Not Just About Eating! (1). Variasi menunya berkisar di roti/nasi, sup, sayur, lauk protein, plus susu (ini penting!). Konon, menu-nya ga banyak berubah selama beberapa dekade. Kalau mau membandingkan contoh2 menu dari jaman dulu sampai sekarang, serta bagaimana variasinya, bisa cek di sini (2). Nah, konsumsi susu rutin saat School Lunch oleh anak2 usia SD-SMP yg sedang gencar2nya tumbuh ini dilaporkan menjadi salah satu faktor utama yg mendukung naiknya rata2 tinggi badan anak2 Jepang beberapa dekade ke belakang (3). Penting! Lha wong dari segi tinggi badan saja, kami sudah kalah sama anak kelas 6 SD disini, wkwk.

Secara umum, ketika masuk waktu makan siang, alurnya akan seperti ini: sensei memanggil PJ hari itu via speaker → siswa PJ memakai cap dan apron, lalu mengambil makanan dan alat makan → siswa yg lain mengatur meja di kelas, beberapa meja berhadapan membentuk kelompok kecil2 → siswa PJ membagikan susu dan menuangkan makan ke tray dg takaran yg sudah diberitahu sebelumnya → siswa yg jadi PJ berdiri di depan kelas memimpin doa → mulai makan → sembari makan biasanya ada pengumuman ttg menu hari ini (menunya apa, gizi yg terkandung apa saja, atau diberitahu juga sumber makanannya dari mana, misal: kentang hari ini adalah hasil panenan murid kelas 6 dari kebun belakang sekolah, dsb) → kalau ada makanan yg sisa, ditawarkan siapa saja yg mau, terus janken/suit → yg selesai duluan bisa baca buku, tapi masih tetap di kelas sambil menunggu yg lain selesai → setelah selesai makan, sampah dipisahkan menurut kategorinya (kertas/plastik), alat makan ditaruh di depan, botol susu dikembalikan ke rak → terakhir, siswa PJ memimpin doa.

Setelah gugling2 sekilas tentang sejarah implementasi School Lunch (Kyushoku) di Jepang, ternyata program ini menarik sekali kalau bisa diadopsi di Indonesia. Kyushoku dimulai tahun 1889 paska perang, oleh Buddhist monks yg tersentuh karena banyak anak2 Jepang yg tidak mampu bawa bekal makan siang. Fast forward, mulai 2009 diberlakukan revisi School Lunch Law 2009, yg menjadikan School Lunch Program berada dibawah naungan Sports and Youth Bureau of the School Health Education Division of MEXT (semacam kemenpora mungkin?). Data tahun 2007 dari sini (4), sekolah yg menyediakan school lunch di seluruh jepang ada 99.2% (SD) dan 91% (SMP). Revisi baru ini juga memperkenalkan mata pelajaran baru: Introduction of Food and Nutrition Education (Shokuiku), dan nutritional teachers yg mengawasi pelaksanaan School Lunch program.

Bagaimana pendanaannya? Kalau dulu, kata Nihongo sensei, semuanya full dicover oleh Pemerintah. Tapi semenjak diberlakukan revisi, pendanaannya dibagi oleh beberapa pihak : pemerintah lokal menggaji tenaga, bahan2nya dibayar oleh orang tua (sekitar 300-400 yen sekali makan) dg opsi bisa diskon atau free untuk keluarga yg kurang mampu (5). Di Ikoma city sendiri, School Lunch untuk SD dan SMP se-Ikoma dibuat di School Lunch Centre (学校給食センター, gakkou kyushoku senta) dan didistribusikan ke sekolah2 mendekati jam makan siang (6). Btw, di sekolah ga ada vending machine atau kafetaria, dan ada himbauan untuk tidak membawa makanan dari rumah kecuali utk yg punya alergi atau pantangan (termasuk anak2 muslim yg sekolah disini).

16508184_10211726430217315_2416975583563007834_n

sumber gambar : http://www.juk2.sakura.ne.jp/2014/0115.htm

Menariknya, selain bertujuan untuk menjamin asupan gizi anak yg seimbang serta kalsium yg cukup untuk pertumbuhan, Kyushoku ini adalah bagian dari kurikulum pendidikan di sekolah (4), yg tujuannya mantep sekali, antara lain:
– menumbuhkan kebiasakan makan sehat dg diet yg proporsional
– bersyukur atas makanan yg tersedia
– menumbuhkan rasa terima kasih ke semua orang yg terlibat dalam menyiapkan makanan: petani, yg masak, yg ngolah dsb

Nah, gimana di Indonesia? Menurut data BPS (7), ada sekitar 26.5 juta anak SD di Indonesia. Mengingat uang saku anak sekarang yg mostly jauh lebih banyak dibanding kita dulu, bukankah lebih baik kalau sebagiannya dialokasikan ke sekolah untuk menyediakan makan siang yg sehat dan seimbang daripada buat jajan di luar? Harapannya anak2 SD Indonesia bisa tercukupi gizinya, ga banyak yg over ginuk2, giginya gigis (wkwk), dsb. Pemerintah daerah bisa mengusahakan uang untuk gaji pekerja yg memasak makanannya. Anak2 juga bisa latihan hidup sehat sambil bekerja sama.

References :
1. https://www.youtube.com/watch?v=hL5mKE4e4uU
2. http://www.juk2.sakura.ne.jp/rekisi.html
3. https://www.jstage.jst.go.jp/article/jnsv/62/5/62_303/_pdf
4. https://www.nier.go.jp/Engli…/educationjapan/…/201303SLP.pdf
5. http://www.japantimes.co.jp/…/schools-have-knack-for-heal…/…
6. www.city.ikoma.lg.jp/0000000899.html
7. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1810

Jepang yg ramah terhadap visually impaired people

#belajar

Jepang yg ramah terhadap visually impaired people.

Beberapa waktu lalu, sempat mampir turun bareng nyonyah Alifah di stasiun monorail Toyokawa dan menemukan ada sesuatu yg menarik pendengaran. Entah darimana, di dalam stasiun ada suara burung berkicau2 bersahut-sahutan. Karena ndeso, iseng2 merekam suara itu buat kenang2an wkwk.

Kemaren secara kebetulan ketemu dg artikel ini (1), ditulis oleh mas Siang, seorang visual designer yg sdg travelling ke Jepang dan membahas ttg : well-designed (but underrated) experiences that might only shave a second or two of waiting time, but they pack tremendous design intelligence that we can learn from. Salah satunya adalah tentang suara burung di dalam stasiun yg ternyata digunakan untuk memandu saudara2 kita yg visually impaired dan secara rutin menggunakan kereta sebagai mode transportasi. Ada beberapa jenis burung yg dikicaukan, bisa berbeda tergantung daerah, untuk menandai arah eskalator (naik, turun atau dua arah).

Kalau dicermati ternyata banyak jenis2 suara yg sangat membantu bagi saudara2 kita yg visually impaired, namun sering kita abaikan begitu saja. Bunyi kereta datang dan pergi yg berbeda (sekaligus diucapkan dalam bentuk kalimat : xx densya ga tocyaku shimasu, go cyui kudasai dsb), ketika pintu kereta buka dan nutup (pipipipi…), suara di dalam lift ketika nutup/buka (doa ga hirakimasu/shimarimasu dsb) dan masih banyak lagi.

Ternyata service ini adalah bentuk keseriusan dari pemerintah Jepang via Ministry of Land, Infrastructure and Transport yg menerapkan kebijakan ini sejak 2005 (CMIIW). Ada group study, survey, konsultasi dengan ahli dsb hingga dilahirkan lah kebijakan untuk membantu penumpang kereta yg visually impaired dg petunjuk berupa suara2 ini (2).

Menarik.

Izinkan saya menutup postingan ini dengan mengutip mas Siang si penulis artikel (1) :

“So if you’ve made it to the end of this post, I’ve got a challenge for you: the next time you take a walk outside, try to become aware of the thousands of design decisions that were made around you. What works, and what can be improved? Can you discover designs that you haven’t noticed before because of how well they worked?”

Ref :

1). https://medium.com/@teoyusiang/3-things-i-learnt-about-design-while-travelling-in-japan-ae564e03d93f#.ilihx9htd

2). http://www.mlit.go.jp/kisha/kisha02/01/011017_.html

Pemain vs Penonton 2.0

15977747_10155399852541729_7005531978785874585_n

Pemain vs Penonton.

Pernah dengar istilah ini? Saya dulu termasuk yg menganut paham pemain vs penonton ini ketika masih jadi bocil di kampus, menganggap yg berada di dalam kepengurusan organisasi sebagai pemain dan yg berada diluar “hanya” sebagai penonton. Akibatnya fatal sekali, ketika ada masukan dari luar pengurus (yg dianggap sebagai “penonton”) yg terasa makclekit di telinga, dihempas begitu saja oleh “pemain” dan menjadikan paham ini sebagai tameng untuk berlindung. Pemain vs penonton ini jadi pembenaran, excuse untuk tidak mendengarkan masukan, woles dan merasa ga ada apa-apa.

“Ah, mereka kan sekedar penonton diluar sistem, ga ngerti rasanya yg udah kerja (katanya) mati2an di dalam sini. Penonton mah bisanya cuma komentar.”

Fatal sekali ternyata paham ini kalau dipikir dengan kepala adem. Padahal, organisasi itu harusnya mengayomi semua, baik yg jadi pengurus maupun yg sekedar anggota, baik yg dianggap sebagai “pemain” maupun “penonton”.

Maka #tratakdungces sekali perumpamaan dibawah ini, bahwa harusnya “pemain2” itu menempatkan diri sebagai kepala rumah tangga dari seluruh rakyatnya, untuk seluruh yg memberikan kepercayaan kepadanya sehingga bisa menjadi pemimpin rumah tangga, mengarahkan dan membawa kebaikan. Semua harus dirangkul, karena “penonton” pun sejatinya adalah anggota keluarga yg juga berhak utk diperhatikan dan didengarkan.

Mengelola bisnis homestay ala Jepang

15697889_10211347632307604_7890408746112488960_n

#belajar

Kemarin sempat nonton acara 田舎でほっこり おかあさん民宿滞在記 (1) di tv, semacam program yg nampilin promosi homestay di pedesaan Jepang. Waktu itu, ada tiga tempat yg dikunjungi: desa persawahan di Chiba, desa nelayan di Fukui dan desa di pinggiran Akita. Programnya dikemas dg menampilkan kegiatan sehari-hari artis2 yg jadi pelaku homestay di rumah okaa-san dan otou-san (bapak dan ibu) angkatnya di desa tujuan. Pengalaman si artis berinteraksi langsung dengan tuan rumahnya semisal kegiatan: bertani di sawah bersama, diajarin bagaimana mancing ikan di laut, dimintain tolong buat motong kayu bakar, dan tentu saja cara membuat makanan2 tradisional ala desa setempat: mochi warna-warni, berbagai olahan ikan, makan cumi2 mentah, dsb. Karena artisnya dihost dan dilayani langsung oleh si tuan rumah, diperlihatkan juga kedekatan antara si artis dengan okaa-san dan otou-san yg baru, bagaimana kedekatan interaksi mereka sampai dianggap anak sendiri (bagian dari dramanya sih, wkwk), terutama scene sedih ketika berpisah, sebagai bagian dari promosi hospitality si tuan rumah. Kemudian di akhir, ditutup dengan paket harga dan promosi home stay di lokasi tsb.

Baca2 tentang peluang2 ekonomi dari usaha seperti ini di Jepang, ternyata sudah banyak ditawarkan paket2 dan jenis2 kegiatannya (2). Salah satunya ada TABICA (3) yg menawarkan paket “dive into the lives of locals”, baik untuk orang Jepang ataupun foreigner yg ada di Jepang; untuk tinggal, bersosialisasi, mencoba jadi petani/nelayan, belajar budaya/membuat makanan tradisional dsb. Peluang ekonominya gede sepertinya kalau mau dikembangkan.

Di Indonesia, udah ada kah yg menggarap peluang seperti ini? Selama ini sudah banyak acara2 reality show semacam “jika aku menjadi”, “petualangan si gundul” dsb yg mengangkat tentang bagaimana hidup menjadi warga lokal/biasa. Tapi sepertinya belum banyak yg memfasilitasi peluang ini dengan menyasar aspek tourism-nya, baik untuk keluarga ataupun grup (CMIIW). Jadi, misalnya peluang homestay ini dikelola jadi potensi wisata daerah, targetnya turis lokal/mancanegara yg mau merasakan kehidupan lokal di daerah tsb

Ref :
1) http://www.bs-j.co.jp/official/minsyukutaizaiki/
2) http://www.japantimes.co.jp/news/2016/12/27/business/sharing-economy-takes-off-japan-despite-barriers/#.WGOsnpJrLvB
3) https://tabica.jp/entry/en/

Free wifi di Jepang

15095700_10210949438152999_4404210047789928251_n

Free wifi untuk yg mau/sedang traveling ke Jepang

Sepertinya masih banyak yg belum familiar dg fasilitas ini. Free wifi akses utk yg sedang berkunjung ke Jepang : di stasiun2 besar, toko2, tempat wisata dsb. Serius for free. Bisa sambil nangkep Pokemon di landmarks yg dikunjungi atau nantangin gym masters sambil nunggu kereta di stasiun wkwk

Silahkan unduh aplikasi Travel Japan WiFi dan ikuti saja instruksinya, langsung bisa akses lebih dari 60rb titik di seluruh Jepang. Utk memperluas jangkauan sampai 200rb titik, silakan masukin premium code yg bisa didapatkan ditempat2 yg ramai pengunjung : airport dsb. Serius for free. Jadi begitu sampai airport, sebelum keluar jangan lupa ke Information Centre dulu dan tanya ttg fasilitas ini, ga akan nyesel deh.

Katanya sih cuma utk 14 hari saja, tapi udah lebih dari sebulan sejak kedatangan dan Alhamdulillah masih bisa pake fasilitas ini kok.

Info detail bisa diakses di : http://wi2.co.jp/tjw/en/